Pengakuan Pilu Ortu Bocah Difabel Tewas Dibully Tetangga: Remuk Hati Saya

Eka Fitria Lusiana, Nailul Hikmah - detikJatim
Minggu, 18 Okt 2026 13:20 WIB
Orang tua anak difabel yang menjadi korban bully hingga meninggal (Foto: Nailul Hikmah/detikJatim)
Surabaya -

Kesaksian pilu datang orang tua anak difabel di Surabaya yang meninggal diduga menjadi korban bully anak tetangga. Sang ayah berharap pelaku mendapat hukuman setimpal.

Sebelumnya, kasus ini menjadi perhatian usai video kedua orang tuanya viral di media sosial. Kejadian ini terjadi di Jalan Tambak Medokan Ayu XI, Surabaya, Sabtu (12/9/2026).

Korban diketahui bernama Zulkarnain Abdil Aziz (10), anak kedua dari pasangan suami istri Selaras Abdul dan Nurul Fadilah. Selaras mengaku hancur saat melihat pelaku berinisial F (8) masih berkeliaran, sedangkan pelaku lain, K (10) telah ditetapkan menjadi tersangka, namun tidak ditahan dan hanya direhabilitasi.

"Remuk mbak hati saya lihat anak yang delapan tahun (F) itu tadi. Mondar mandir lewat saya Jumatan. Remuk hati saya. Kamu kok teganya kamu membunuh anak saya secara keji gitu loh," ungkap Selaras saat ditemui detikJatim, Minggu (18/10/2026).

Selaras menceritakan kronologi kejadian pilu tersebut. Pelaku menjerat leher anaknya menggunakan tali sepatu. Setelah itu, korban dijejali sabun colek dan tubuhnya ditaburi daun lamtoro.

"Kan habis dijiret (dijerat), dijejeli (dijejali) sabun colek, terus ditaburi lamtoro," terangnya.

Saat ditemui, Selaras tampak masih dirundung kesedihan. Matanya berkaca-kaca tak kuasa menahan tangis saat menceritakan kejadian yang menimpa putra keduanya. Sementara istrinya hanya terdiam dengan wajah sedih.

Ia kembali mengingat perjuangannya dan sang istri saat merawat anaknya.

Ia menceritakan, anaknya sejak kecil telah menjalani berbagai perawatan medis dan selama lima tahun istrinya harus bolak-balik ke rumah sakit sambil menggendong anak mereka untuk menjalani pengobatan. Setelah anaknya sehat, ia merasa terpukul karena anaknya justru meninggal akibat peristiwa tersebut.

"Mulai kecil dirawat, dicewoki (dicebokin), diadusi (dimandikan), dioperasikan. Berapa kali operasi jantung bocor, mata katarak, terus telur burungnya itu tidak pada tempatnya tapi di perutnya. Setelah sehat kok dibunuh. Sampai 5 tahun istri saya itu riwa-riwi rumah sakit sambil gendong," ujarnya sambil menangis.

Selaras berharap, pemerintah kota, pemerintah pusat, serta pejabat berwenang yang terlibat dalam penyusunan undang-undang perlindungan anak, dapat memberikan perhatian serius pada kasus ini.

Meskipun pelaku masih di bawah umur, Selaras berharap keduanya bisa mempertanggungjawabkan perbuatan kejinya sesuai hukum yang berlaku. Hal ini untuk memberi keadilan bagi keluarga korban.

"Harapan saya untuk pemerintah kota khususnya pemerintah Indonesia juga pejabat yang berwenang untuk membuat undang-undang perlindungan anak. Tolong kalau anak yang jahat jangan dilindungi, tetap kasih hukuman. Kasihan keluarga korban yang ditinggal," katanya.

Selain itu, ia juga meminta agar anak yang terlibat dalam kasus tersebut mendapatkan pembinaan. Agar, mereka tak mengulangi perbuatannya saat keduanya kembali ke masyarakat,

"Tolong dibina, dididik sampai dewasa. Setelah dewasa kalau dia sekiranya pantas untuk dikembalikan ke masyarakat monggo silakan kembalikan ke masyarakat," katanya.

Selaras khawatir, tanpa pembinaan yang tepat, kedua anak tersebut berpotensi melakukan tindak kejahatan saat dewasa.

"Kami ini hancur mbak melihat anak-anak itu masih bebas berkeliaran. Saya takutnya kalau nggak dibina, nggak dididik takutnya tambah umur, tambah umur kedua anak ini jadi penjahat," jelasnya.

Sebelumnya, Zulkarnain ditemukan dalam kondisi membiru dengan tali sepatu menjerat lehernya di depan rumahnya di kawasan Medokan Ayu, Surabaya, pada Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 09.20 WIB.

Ayah korban, Selaras Abdul, menduga anaknya menjadi korban perundungan oleh dua anak tetangganya berinisial K (10) dan F (8). Keluarga menduga keduanya mengetahui kejadian yang menimpa Zulkarnain setelah melihat rekaman kamera pengawas atau CCTV di sekitar lokasi.

Keluarga kemudian melaporkan kasus tersebut ke polisi untuk mengungkap penyebab pasti kematian Zulkarnain dan peran anak-anak yang diduga terlibat.

Kasatres PPA dan PPO Polrestabes Surabaya AKBP Melatisari sebelumnya membenarkan laporan tersebut telah diterima dan saat ini masuk tahap penyidikan.

"Sudah kita proses (laporannya)," kata Melatisari saat dikonfirmasi detikJatim, Sabtu (17/10/2026).

"Kita tangani, proses penyidikan," imbuhnya.



Simak Video " Menikmati Makan Malam Lezat di Restoran Hotel Mewah Surabaya "

(irb/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork