Komunitas Kampung Dolanan resmi berhenti menggelar lapaknya di CFD Tunjungan. Informasi itu disampaikan melalui kanal instagram @kampoeng_dolanan. Komunitas yang telah berdiri 10 tahun tersebut memilih mengakhiri program karena kebijakan Pemkot Surabaya yang dinilai kurang berpihak.
"Terima kasih Pemkot karena kebijakanmu membuat kami harus mengakhiri program kami di CFD Tunjungan," dikutip dari Instagram @kampoeng_dolanan.
Founder Kampung Dolanan, Mustofa Sam membenarkan hal tersebut. Pihaknya menjelaskan alasan pemberhentian program dilakukan karena relokasi tempat Kampung Dolanan di CFD Tunjungan yang kurang efektif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang pertama, areanya itu panas. Kemudian yang kedua, areanya juga menjorok, tidak terlihat oleh orang-orang yang lalu lalang. Yang ketiga, areanya di situ, itu tempat bertemunya angin. Jadi lebih banyak kita membetulkan spanduk dan banner yang jatuh karena angin," kata Mustofa kepada detikJatim, Rabu (14/10/2026).
Mustofa menjelaskan, selama menggelar acara, pihaknya sering diminta untuk berpindah tempat dengan alasan tidak boleh menggunakan trotoar Jalan Tunjungan. Pengusiran ini bahkan terjadi berkali-kali, mulai dari 2016 dan kemudian terulang tahun ini, 2026.
"Mas, buyar, (aktivitas) ini merusak pemandangan," kata bapak yang bertugas di CFD Tunjungan, dikutip dari instagram @kampoengdolanan.
Mustofa menuturkan bahwa sebenarnya pihaknya telah mendapat izin pendirian tempat dari tahun 2016. Namun, hal tersebut tidak pernah dihiraukan. Bahkan, sempat terjadi perseteruan hebat dengan petugas di lapangan.
"Kita sudah punya surat izin sebetulnya dari tahun 2016 atau 2017. Karena waktu itu sempat cekcok yang sangat besar dengan dinas terkait. Satpol PP, Linmas, dan Dinas Lingkungan Hidup," lanjutnya.
Pihaknya kemudian diarahkan oleh Dinas Lingkungan Hidup untuk membuat surat izin penggunaan CFD Tunjungan setelah kejadian itu. Meski sempat mendapat tempat di trotoar Tunjungan. Namun, pada 2026, ketika menggelar lapak, pihaknya kembali direlokasi. Bahkan, ia sempat bertanya kepada petugas untuk benar-benar memastikan.
"Saya tanya, Pak ini kita diarahkan untuk pindah dari tempat biasanya? Oh iya mas, untuk aturannya sekarang kita nggak boleh untuk berkegiatan di area trotoar Tunjungan, Jadi harus dipindah," terangnya.
Kini, relokasi Komunitas Kampung Dolanan berada di Pertigaan Genteng. Mustofa menilai lokasi itu kurang sesuai diperuntukkan bagi anak-anak. Alhasil, setelah melakukan banyak pertimbangan, pihaknya memilih mengakhiri program tersebut.
"Jadi dari berbagai macam pertimbangan itu akhirnya kami putuskan untuk berakhir program ini. Selama 10 tahun kita berjuang menggunakan budaya di sana, yang kemudian kita tutup memang karena adanya kebijakan," tegasnya.
Pihaknya sangat menyayangkan kebijakan Pemkot Surabaya. Padahal tujuan berdirinya komunitas adalah untuk menggelar kegiatan budaya sekaligus mengenalkan permainan tradisional anak-anak yang hari ini kurang dikenali.
"Sangat disayangkan, karena permainan tradisional ini masuk dalam amanat undang undang," ucapnya.
Mustofa berharap dengan postingan yang disampaikan melalui instagram @kampoengdolanan mendapat respon oleh pihak Pemkot Surabaya. Selain itu, cara ini ditempuh untuk memperjuangkan hak teman-teman komunitas.
"Ada publikasi dengan cara ini outputnya agar ada mediasi dan memperjuangkan hak-hak teman-teman komunitas, disabilitas yang ingin berkegiatan di ruang publik. Ada ruang bebas beraktivitas di CFD untuk komunitas dengan tujuan jelas, sama seperti saran kami sejak 2016 lalu yang kami sampaikan ke pemkot terkait zona komunitas di area CFD," pungkasnya.
