Apa Itu Modifikasi Cuaca? Ini Cara Kerjanya untuk Mengendalikan Hujan

Apa Itu Modifikasi Cuaca? Ini Cara Kerjanya untuk Mengendalikan Hujan

Myesha Fatina - detikJatim
Senin, 12 Okt 2026 19:30 WIB
Ilustrasi cloud seeding.
Ilustrasi cloud seeding. Foto: Unsplash/Daria Nepriakhina
Surabaya -

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan intensitas curah hujan di wilayah Jawa Timur.

Teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk menambah pasokan air saat kemarau maupun mengurasi risiko banjir akibat hujan ekstrem.

Di Indonesia, modifikasi cuaca telah dikembangkan sejak 1977. Awalnya, teknologi ini digunakan untuk mendukung sektor pertanian dan mengisi waduk strategis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seiring waktu, pemanfaatannya meluas untuk mitigasi bencana, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penanggulangan banjir.

Lantas, bagaimana cara kerja modifikasi cuaca dan apakah teknologi ini bisa diterapkan untuk menghadapi kondisi cuaca di Jawa Timur pada Oktober 2026?

ADVERTISEMENT

Apa Itu Teknologi Modifikasi Cuaca?

Mengutip Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), TMC merupakan upaya campur tangan manusia dalam pengelolaan sumber daya air di atmosfer dengan memanfaatkan parameter cuaca.

Tujuannya adalah menambah atau mengurangi intensitas curah hujan di wilayah tertentu untuk membantu meminimalkan risiko bencana yang dipengaruhi kondisi cuaca dan iklim.

Sementara, berdasarkan informasi dari laman IPB University, TMC hanya mempengaruhi kondisi cuaca dalam jangka pendek, bukan mengubah iklim secara permanen.

Dengan demikian, modifikasi cuaca bukan teknologi yang dapat mengendalikan seluruh kondisi atmosfer sesuai keinginan manusia. Pelaksanaannya tetap bergantung pada ketersediaan awan, kandungan uap air, stabilitas atmosfer, serta arah dan kekuatan angin.

Sejarah Modifikasi Cuaca di Indonesia

Dilansir BPBD Pontianak, pengembangan teknologi modifikasi cuaca modern bermula pada 1946. Saat itu, ilmuwan Amerika Serikat Vincent Schaefer dan Irving Langmuir melakukan eksperimen dengan menyebarkan es kering ke awan.

Percobaan tersebut menghasilkan salju di wilayah New York. Setahun kemudian, Bernard Vonnegut menemukan bahwa perak iodida (Agl) dapat digunakan untuk membantu proses penyemaian awan karena memiliki struktur kristal yang menyerupai es.

Di Indonesia, pengembangan teknologi ini dimulai pada 1977. Presiden Soeharto saat itu mengutus B J Habibie untuk mempelajari teknologi modifikasi cuaca setelah melihat perkembangan sektor pertanian Thailand yang didukung pengelolaan pasokan air.

Proyek percobaan hujan buatan kemudian dilakukan dengan pendampingan dari Thailand. Fokus awalnya adalah mendukung pertanian melalui pengisian waduk strategis untuk kebutuhan irigasi dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Pada 1978, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berdiri. Pengembangan hujan buatan kemudian berlanjut melalui pembentukan Pelaksanaan Teknis (UPT) Hujan Buatan pada 1985.

Istilah TMC mulai digunakan secara resmi pada 2015, ketika nomenklatur UPT Hujan Buatan diubah menjadi Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca. Setelah integrasi lembaga riset pada 2021, pengelolaan TMC berada di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Penggunaannya kini tidak terbatas pada pengisian waduk. TMC juga pernah diterapkan untuk membantu mengurangi curah hujan saat SEA Games XXVI di Palembang pada 2011, penanggulangan banjir Jakarta pada 2013, 2014, dan 2020, MotoGP Mandalika 2022, serta Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada 2022.

Bagaimana Cara Kerja Modifikasi Cuaca?

Salah satu metode yang umum digunakan dalam operasi TMC adalah cloud seeding atau penyemaian awan. Teknik ini dilakukan dengan memasukkan bahan semai ke awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan. Secara sederhana, prosesnya berlangsung melalui beberapa tahapan berikut.

1. Mengidentifikasi Awan yang Berpotensi Menghasilkan Hujan

Sebelum operasi dilakukan petugas menganalisis kondisi atmosfer menggunakan data cuaca, radar, serta informasi arah dan kecepatan angin. Data tersebut membantu menentukan keberadaan awan yang sesuai untuk disemai.

2. Menyemai Awan Menggunakan Bahan Tertentu

Pesawat yang digunakan dalam operasi TMC membawa bahan semai, salah satunya natrium klorida (NaCl) atau garam. Bahan tersebut disebarkan ke awan yang telah ditentukan berdasarkan analisis cuaca.

Dalam kondisi yang sesuai, partikel bahan semai membantu proses pembentukan dan pertumbuhan butiran air di dalam awan sehingga presipitasi dapat berlangsung lebih cepat.

3. Mempererat Turunnya Hujan di Lokasi yang Ditentukan

Setelan awan disemai, proses pembentukan hujan diharapkan berlangsung sebelum awan mencapai wilayah yang menjadi sasaran perlindungan. Sebagai contoh, ketika TMC digunakan untuk mengurangi risiko banjir, penyemaian dapat diarahkan agar potensi hujan turun lebih awal di lokasi lain yang dinilai lebih aman.

Sementara itu, ketika tujuannya menambah pasokan air, penyemaian dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan hujan di daerah tangkapan air atau waduk. Namun, hasilnya tidak selalu sama pada setiap operasi.

Keberhasilan TMC bergantung pada kondisi awan dan atmosfer yang tersedia. Mengutip dari laman BRIN, TMC tidak dapat menciptakan hujan dari kondisi atmosfer yang tidak memiliki potensi awan hujan. Artinya, jika tidak terdapat awan yang sesuai, operasi penyemaian tidak bisa begitu saja menghasilkan hujan.

Apa Perbedaan Cloud Seeding dan Cloud Breaking?

Selain penyemaian awan, terdapat pendekatan yang disebut cloud breaking. Kedua istilah ini berkaitan dengan upaya mempengaruhi proses pembentukan hujan, tetapi memiliki tujuan yang berbeda.

Cloud seeding umumnya dilakukan untuk mempercepat proses presipitasi atau membantu meningkatkan curah hujan pada kondisi yang mendukung. Metode ini dapat dimanfaatkan untuk menambah pasokan air maupun mengurangi potensi hujan yang mencapai wilayah tertentu.

Sementara itu, cloud breaking merujuk pada upaya mengurangi atau menghambat pembentukan awan maupun proses yang menghasilkan hujan. Pendekatan ini ditujukan untuk membantu menekan curah hujan, meskipun penerapannya bergantung pada metode dan kondisi atmosfer.

Dalam praktiknya, pengurangan risiko hujan ekstrem melalui TMC tidak selalu berarti awan dapat dihilangkan begitu saja. Operasi harus mempertimbangkan karakteristik awan, kandungan uap air, serta dinamika atmosfer agar intervensi yang dilakukan sesuai dengan tujuan.

Siapa yang Terlibat dalam Operasi Modifikasi Cuaca?

Pelaksanaan TMC untuk mitigasi bencana melibatkan sejumlah lembaga dengan tugas yang berbeda. BMKG menyediakan data dan informasi meteorologi, termasuk kondisi awan, arah angin, serta perkembangan cuaca.

Informasi ini menjadi salah satu dasar penentuan waktu dan lokasi operasi. TNI Angkatan Udara mendukung pelaksanaan operasi melalui penyediaan armada pesawat, termasuk pesawat Casa yang digunakan untuk membawa dan menyebarkan bahan semai.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat mendukung pembiayaan operasi untuk penanggulangan bencana melalui anggaran siap pakai kebencanaan dengan persyaratan tertentu, termasuk penetapan status siaga darurat oleh pemerintah daerah terkait.

Untuk operasi yang berkaitan dengan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, pembiayaan dapat melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta dana tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).

Selain menggunakan pesawat, penyemaian juga dapat dilakukan melalui menara Ground Based Generator (GBG). Menara ini ditempatkan di wilayah bertopografi tinggi dan menggunakan bahan semai berbentuk flare yang dibakar untuk melepaskan partikel ke atmosfer.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads