Manfaatkan Balai RT, Pemuda Kedungdoro Bikin Parfum dan Deodoran

Manfaatkan Balai RT, Pemuda Kedungdoro Bikin Parfum dan Deodoran

Eka Fitria Lusiana - detikJatim
Sabtu, 10 Okt 2026 23:00 WIB
Pemuda Kedungdoro Sulap Balai RT Jadi Tempat Produksi Parfum
Pemuda Kedungdoro Sulap Balai RT Jadi Tempat Produksi Parfum (Foto: Eka Fitria Lusiana/ detikjatim)
Surabaya -

Pemuda Karang Taruna Kedungdoro, Surabaya, merintis usaha parfum dan deodoran dengan memanfaatkan lahan seadanya di Balai RT. Meski memiliki keterbatasan alat dan bahan, hal itu tidak menyurutkan niat mereka untuk memulai usaha.

Salah satu anggota Karang Taruna Kedungdoro, Rayhan Syah, menuturkan ide merintis usaha tersebut sebenarnya telah digagas sejak lama. Namun, rencana itu baru bisa terealisasi berkat bantuan dana melalui program Gen-Z Pemkot Surabaya.

"Dari awalnya itu kita di Karang Taruna itu punya ide sebenarnya. Punya ide pengen bikin usaha. Kebetulan ada program Gen Z dari Pak Wali. Jadi program Gen Z akhirnya kita coba ajukan. Dan Alhamdulillahnya tembus. Untuk mengembangkan usaha yang dari awal, dari lama emang kita sudah rencanakan dari lama. Jadi tinggal eksekusi saja," kata Rayhan kepada detikJatim saat ditemui, Jumat (9/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usaha parfum dan deodoran tersebut mulai berjalan pada Agustus 2026. Meski baru beroperasi selama dua bulan, omzet yang diperoleh telah mencapai sekitar Rp 2 juta.

ADVERTISEMENT

"Dan omset kita sekitar 2 juta. Kurang lebih 2 juta," ujarnya.

Pemuda Kedungdoro Sulap Balai RT Jadi Tempat Produksi ParfumKisah Pemuda Kedungdoro Rintis Bisnis Parfum Bermodal Dana Gen-Z (Foto: Eka Fitria Lusiana/ detikjatim)

Rayhan menjelaskan, pemilihan usaha parfum dan deodoran bukan tanpa alasan. Produk tersebut memiliki banyak peminat dari berbagai kalangan, termasuk di lingkungan mereka sendiri. Berbekal riset melalui jurnal, para anggota Karang Taruna pun mencoba meracik parfum dan deodoran sendiri.

"Yang paling banyak diminati lah teman-teman. Kalau deodoran sendiri, awalnya itu riset-riset. Karena kita semua di kartar ini pakai deodoran Tawas. Deodoran Tawas beda-beda merknya. Akhirnya kita riset bagaimana caranya. Riset jurnal juga apakah aman. Formulasinya bagaimana. Dibantu teman-teman juga," terangnya.

Saat ini, mereka telah memproduksi enam varian deodoran dengan aroma beragam, yakni original, apel, stroberi, mawar, kopi, dan cokelat. Sementara itu, varian parfum dibuat melalui proses pencampuran atau mixing dari berbagai parfum yang telah ada.

"Parfum sendiri sebenarnya kita inspirasi yang mungkin sudah umum. Cuma kebetulan kemarin salah satu teman kita itu coba mixing. Melakukan pencampuran, ternyata banyak yang cocok," ujarnya.

Pemuda Kedungdoro Sulap Balai RT Jadi Tempat Produksi ParfumBaru 2 Bulan, Usaha Parfum Pemuda Kedungdoro Raup Omzet Rp 2 Juta (Foto: Eka Fitria Lusiana/ detikjatim)

Ketua Karang Taruna Kelurahan Kedungdoro, Fadli, menjelaskan produk parfum dan deodoran tersebut dijual dengan harga bervariasi, bergantung pada ukuran. Deodoran dibanderol mulai Rp 13.000 hingga Rp 15.000, sedangkan parfum dijual dengan harga Rp 50.000 hingga Rp 85.000.

Fadli juga menjelaskan alasan pemilihan nama KDR sebagai merek parfum dan deodoran mereka. Menurutnya, nama tersebut memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan wilayah tempat mereka tinggal.

"Jadi inspirasinya waktu itu kita nyari-nyari. KDR ini filosofinya banyak. Kebetulan kita itu wilayahnya Kedungdoro. Jadi KDR itu bisa meliputi singkatan dari kelurahannya. Salah satu wilayah RW kita itu ada yang namanya Kedung Rukem, ada juga Kedung Turi. Kita ringkas pakai nama KDR itu. Jadi filosofinya kita ambil dari nama-nama kewilayahan," kata Fadli.

Meski baru berjalan selama dua bulan, produk parfum dan deodoran tersebut telah terjual sebanyak 150 pieces. Saat ini, pemasaran masih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Namun, ke depannya, mereka akan mempertimbangkan penjualan melalui marketplace untuk memperluas jangkauan pasar.

Menurut Fadli, mengembangkan usaha baru memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menjaring pelanggan baru. Terlebih, merek KDR masih belum banyak dikenal masyarakat.

"Karena usaha baru dan dengan teman juga kadang-kadang bukan basicnya pengusaha. Kita sama-sama belajar. Mungkin tantangan terbesarnya adalah penjualan. Karena di sisi produksi kita siap. Tapi untuk mempertahankan demand yang besar, cari pelanggan baru terus," terangnya.

Meski menghadapi tantangan dalam pemasaran, Fadli berupaya mengajak masyarakat sekitar untuk turut terlibat dalam pengembangan usaha tersebut. Ia berharap bisnis yang dirintis Karang Taruna itu tidak hanya memberikan manfaat bagi organisasi, tetapi juga mampu memberdayakan masyarakat secara lebih luas.

"Tujuan awalnya bukan untuk profit yang sebesar-besarnya. Tapi bisa memberdayakan seluas-luasnya. Karena kita harus berdampak kepada masyarakat. Dan kalau semakin besar merk kita, juga akan semakin banyak masyarakat yang berdampak, terdampak juga," ucapnya.

Fadli turut menyampaikan terima kasih kepada Pemkot Surabaya atas inisiasi program dana Gen-Z. Melalui program tersebut, ide usaha yang telah direncanakan sejak lama akhirnya dapat diwujudkan.

"Dan kita terima kasih juga kepada Pak Wali juga mengadakan dana Gen-Z ini. Bisa merealisasikan ide-ide usaha kami," pungkasnya.

Pihak Karang Taruna memastikan seluruh varian parfum dan deodoran yang diproduksi aman digunakan karena dibuat dari bahan-bahan pilihan. Produk tersebut juga ditujukan untuk dapat digunakan oleh semua kalangan.



(ihc/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads