Kasus infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) di Jawa Timur meningkat sepanjang tahun 2026. Bahkan, kasus pada bulan September 2026 mencapai 252.457.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur (Jatim), Erwin Astha Triyono menyebut rata-rata dalam sebulan ada 159.397 kasus ISPA di Jatim tahun 2026. Namun, pada bulan September lalu kasus mencapai 252.457.
"Rata-rata sekitar 159.397 kasus per bulan di tahun 2026 ini. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata bulanan tahun 2025 yang mencapai sekitar 118.891 kasus per bulan. Pada September 2026, jumlah kasus yang dilaporkan mencapai 252.457 kasus," kata Erwin dalam keterangannya, Jumat (9/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus di bulan September, lanjut Erwin, lebih tinggi dibanding bulan Agustus 2026 lalu. Jumlah kasus yang dilaporkan mencapai 212.914 pada Agustus 2026. Artinya ada kenaikan hampir 40 ribu kasus dari Agustus ke September.
Erwin juga membeberkan 5 daerah dengan jumlah laporan kasus ISPA tertinggi pada periode Januari sampai September 2026 di Jatim.
"Tertinggi di Kota Surabaya. Kemudian Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Lamongan, Kota Malang, dan Kabupaten Malang," bebernya.
Erwin membeberkan sejumlah upaya yang telah dilakukan Dinkes Jatim. Di antaranya memantau perkembangan kasus ISPA, membuat media KIE terkait dampak abu vulkanik/karhutla dan pencegahan penyakit sensitif iklim pada musim kemarau, dan melakukan koordinasi dan pemantauan layanan ISPA di faskes (puskesmas dan RS)
"Meningkatkan pemantauan terhadap tren kasus ISPA. Kami juga melanjutkan edukasi kepada masyarakat terkait etika batuk, penggunaan masker, senantiasa melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) serta peningkatan daya tahan tubuh dengan asupan gizi seimbang," jelasnya.
Erwin mengimbau ke masyarakat untuk menerapkan etika batuk dan bersin, penggunaan masker pada kondisi/lingkungan yang beresiko terhadap penularan penyakit pernapasan maupun paparan polusi/asap.
"Menghindari kerumunan, lalu melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Meningkatkan daya tahan tubuh dengan asupan gizi seimbang, dan segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala pernapasan, terutama apabila gejala memburuk," tambahnya.
Erwin mengatakan musim kemarau panjang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kenaikan kasus ISPA di Jatim.
"Adanya dampak dari musim kemarau dengan curah hujan rendah, sehingga menyebabkan pencucian polutan di udara oleh proses rain washing menjadi berkurang. Kondisi udara yang panas dan relatif kering dapat mempengaruhi stabilitas aerosol serta pertahanan mukosa saluran napas, sehingga bisa menjadi salah satu potensi dalam transmisi virus penyebab infeksi saluran pernapasan," terangnya.
"Berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, jumlah kasus ISPA yang dilaporkan menunjukkan peningkatan pada 2026 dibandingkan rata-rata bulanan pada 2025," tandasnya.
