Puncak musim kemarau yang tengah terjadi dan maraknya Influenza A atau Super Flu membuat masyarakat perlu lebih memperhatikan kondisi tubuh. Ahli gizi mengingatkan pentingnya memenuhi kebutuhan gizi seimbang untuk membantu menjaga daya tahan tubuh.
Ahli Gizi dari Ottimmo International, Dr Heni Adhianata mengatakan menjaga imunitas tidak cukup hanya dengan mengandalkan satu jenis asupan seperti vitamin atau mineral. Tubuh membutuhkan beragam zat gizi yang diperoleh dari pola makan seimbang.
"Imun tubuh kita itu tidak hanya memerlukan satu jenis asupan gizi, misalnya hanya vitamin atau hanya mineral. Tapi lebih ke pola makan yang seimbang," kata Heni saat dihubungi detikJatim, Jumat (25/92026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Heni, kebutuhan protein harus tetap dicukupi dengan sumber yang beragam, baik protein hewani maupun nabati. Sementara kebutuhan vitamin dan mineral dapat dipenuhi dengan mengonsumsi buah dan sayur.
"Buah, sayur itu akan berkontribusi ke pemenuhan vitamin, mineral, serta fitokimia lain seperti antioksidan yang juga bisa membantu meningkatkan imunitas tubuh kita," jelasnya.
Selain asupan makanan, Heni mengingatkan pentingnya mencukupi kebutuhan cairan. Hal ini menjadi perhatian terutama saat puncak musim kemarau ketika cuaca panas dapat membuat tubuh lebih banyak berkeringat.
"Jangan sampai tubuh kita dehidrasi, kekurangan cairan karena situasi yang panas terus kemudian mungkin membuat kita lebih banyak berkeringat. Nah, itu kan cairan di dalam tubuh kita juga harus segera diganti," ujarnya.
Kebutuhan cairan dapat dipenuhi dengan cukup minum air putih. Masyarakat juga bisa mengonsumsi buah dengan kandungan air tinggi seperti semangka dan melon.
Sementara itu, di tengah cuaca panas, konsumsi air dingin atau es pada dasarnya tetap diperbolehkan. Namun, Heni mengatakan respons tubuh setiap orang perlu diperhatikan.
"Sebenarnya aman saja, cuma tergantung respons tubuh masing-masing," ungkapnya.
Menurutnya, yang paling penting adalah kecukupan jumlah air yang masuk ke tubuh. Namun, ketika kondisi tubuh sedang kurang fit atau terasa lelah, konsumsi minuman dingin dapat dikurangi dan diganti dengan air bersuhu normal atau hangat.
Selain itu, Heni juga menyarankan masyarakat memperhatikan jenis dan cara pengolahan makanan. Makanan yang terlalu banyak minyak, santan, dan gula sebaiknya dikurangi.
"Yang disarankan yang mungkin tidak diolah dengan proses penggorengan yang terlalu banyak minyak. Terus terlalu banyak menggunakan santan itu bisa diminimalisir, terus terlalu banyak gula juga dihindari dulu," katanya.
Sebagai alternatif, sumber protein dapat diolah dengan cara dikukus atau direbus. Metode deep fried juga tidak disarankan menjadi pilihan utama.
Heni juga menyebut masyarakat tidak perlu mengandalkan suplemen apabila kebutuhan vitamin dan mineral masih dapat dipenuhi melalui pola makan dengan gizi seimbang.
"Selagi kita masih bisa memenuhi asupan vitamin melalui buah dan sayur, itu sebenarnya suplemen sudah tidak perlu," katanya.
Suplemen, lanjut Heni, dapat diperlukan dalam kondisi tertentu, seperti masa pemulihan setelah sakit atau operasi, sesuai anjuran dokter.
"Selagi badan kita sehat, asupan melalui buah, sayur itu sudah bisa mencukupi terutama untuk vitamin A, C dari buah seperti tomat, jeruk, apel," pungkasnya.
