Kejar Karier, Dokter Ingatkan Pasutri Jangan Tunda Punya Anak

Kejar Karier, Dokter Ingatkan Pasutri Jangan Tunda Punya Anak

Tim detikJatim - detikJatim
Minggu, 20 Sep 2026 13:05 WIB
Seminar Morula IVF di Surabaya
Seminar Morula IVF di Surabaya/Foto: Istimewa
Surabaya -

Kesibukan mengejar karier membuat sebagian pasangan menunda rencana memiliki anak. Namun, semakin lama menunda kehamilan, pasangan juga perlu mempertimbangkan faktor usia dan kesuburan, terutama pada perempuan.

Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam seminar kesehatan reproduksi bertajuk Future Family Planning: Balancing Career & Parenthood yang digelar Morula IVF Surabaya di Whiz Luxe Hotel Spazio Surabaya, Minggu (20/9/2026). Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 28 tahun Morula IVF Indonesia.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fertilitas, dr. Benediktus Arifin mengatakan, perencanaan kehamilan seharusnya berjalan beriringan dengan perencanaan karier. Menurutnya, pasangan sering kali mempersiapkan pernikahan dan karier secara matang, tetapi lupa menyusun rencana kapan ingin memiliki anak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi kegiatan ini salah satu bentuk dari kepedulian Morula ya. Bahwa kalau kita ingin seringkali kan orang itu jarang merencanakan sebuah sebuah kehamilan ya Prof ya. Jadi kadang-kadang orang menikah pokoknya menikah direncanakan dengan baik tapi kehamilan enggak direncanakan ya kan," kata dr. Benediktus dalam seminar tersebut.

Ia mencontohkan, jika pasangan dapat merencanakan karier hingga lima atau 10 tahun ke depan. Menurutnya, perencanaan memiliki anak juga perlu dipikirkan sejak awal, agar pasangan dapat menyesuaikan rencana keluarga dengan perjalanan karier.

ADVERTISEMENT

"Ditambah dengan kerjaan, ya kan? Bekerja, wah, perencanaannya luar biasa sampai 5-10 tahun ke depan mau kerja di mana, mau apa. Tapi kehamilan ini harus bisa berjalan perencanaan kehamilan ini sebaiknya berjalan bersamaan dengan kita merencanakan suatu masa depan gitu kan," ujarnya.

Menurut dr. Benediktus, persoalan kesuburan juga menjadi tantangan di tengah perubahan pola pernikahan masyarakat. Usia menikah yang semakin tinggi membuat sebagian pasangan memiliki waktu reproduksi yang lebih pendek untuk merencanakan kehamilan dan jumlah anak yang diinginkan.

"Dulu mungkin orang 17, 18 tahun, 20 tahun lulus SMA, kuliah, setelah lulus kuliah menikah. Sekarang lulus kuliah menikah kan jarang. Menikah umur 25, 26, 27, bahkan ada yang 29, bahkan 30. Sehingga usia lebih lama untuk menunda ini juga menjadi salah satu faktor fertilitas," jelasnya.

dr. Benediktus menegaskan persoalan fertilitas tidak hanya berkaitan dengan perempuan. Kondisi kesuburan laki-laki juga perlu diperiksa, bahkan sebelum pasangan menikah.

"Yang kedua adalah masalah fertilitas itu bukan hanya masalah wanita. Pria pun demikian. Sekarang sudah mulai banyak pria yang juga peduli bagaimana dia ngecek dulu gimana kondisi spermanya sebelum dia menikah bahkan," katanya.

Selain faktor medis, keputusan memiliki anak juga dipengaruhi kondisi sosial, ekonomi, budaya, hingga akses terhadap layanan kesehatan reproduksi.

"Yang ketiga adalah tentu faktor sosial ekonomi, ya kan? Dulu banyak anak banyak rezeki. Sekarang banyak anak belum tentu banyak rezeki kan, gitu ya," ujarnya.

Sementara itu, Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.O.G, Subsp.F.E.R menambahkan, fenomena penurunan angka kelahiran terjadi secara global. Ia menyebut Indonesia saat ini masih berada di sekitar angka 2,1 anak per perempuan, tetapi sejumlah kota besar telah berada di bawah angka tersebut.

Ia juga menyoroti faktor usia perempuan. Menurutnya, cadangan sel telur atau ovarian reserve akan menurun seiring bertambahnya usia, sementara risiko tertentu dalam kehamilan juga meningkat pada usia yang lebih tinggi.

"Kita lupa bahwa seorang wanita itu kalau sudah di atas 35 tahun, angka ovarian reserve-nya, cadangan sel telurnya itu turun. Tetapi kalau mereka nanti hamil, kecenderungannya di atas 35, itu kelainan kongenitalnya meningkat, kemudian abortusnya meningkat," kata Prof Budi.

Karena itu, ia menilai perencanaan keluarga perlu dilakukan tanpa harus membuat seseorang menghentikan kariernya.

"Sehingga kita itu adalah memformulasikan di tema topik hari ini adalah bagaimana kita tetap memprogram kehamilan bahkan sampai IVF tanpa mengorbankan karirnya. Bagaimana program hamil ini berjalan dengan baik, terus kemudian karir tetap jalan," ujarnya.

Prof Budi juga menyebut, gaya hidup dan lingkungan sebagai faktor yang dapat berkaitan dengan kesuburan. Menurutnya, pola hidup sedentari, obesitas, serta paparan polusi menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh pasangan.

"Jadi lifestyle yang sehat, lingkungan yang sehat ini akan mempunyai pengaruh yang positif, tetapi kalau polusi kotor, lifestyle apa jelek ya, jarang bergerak, makanan tanpa batas, maka itu semuanya sangat berpengaruh terhadap kesuburan. Laki-laki juga demikian, perempuan juga demikian," katanya.

Jangan Terlalu Lama Menunggu Hamil Alami

Sementara itu, dr. Jimmy Yanuar Annas, Sp.O.G, Subsp.F.E.R mengatakan, program kehamilan tidak selalu berarti harus menjalani inseminasi atau bayi tabung. Kehamilan alami pun tetap merupakan bagian dari perencanaan, tetapi pasangan perlu memiliki target dan batas waktu.

"Cuman tentu apa hubungan-hubungan suami-istri pun itu juga merupakan suatu program kehamilan. Cuman yang penting kita harus punya target dan terus apa harus punya timeline ya, sampai kapan kita menunggu alami. Nggak bisa terus kita menunggu alami sampai lama akhirnya telat," tuturnya.

Ia menyarankan pasangan segera mencari bantuan medis apabila telah menikah selama satu tahun, melakukan hubungan suami istri secara teratur, tetapi belum mengalami kehamilan. Pemeriksaan juga dianjurkan lebih cepat apabila pasangan memiliki faktor risiko tertentu.

"Ya, pada saat wanita itu menikah selama 1 tahun sudah hubungan suami istri teratur, belum hamil, segera mencari pertolongan. Apalagi kalau sudah dapat resiko, misalnya pernah operasi apa?" katanya.

"Operasi rahim, operasi endometriosis, ada gangguan haid ya, umur menikahnya sudah di atas 35 tahun, menikah sudah di atas apa? 2 tahun belum hamil, segera mungkin untuk mencari pertolongan ya, supaya kita bisa segera memberikan pertolongan dan Biayanya enggak semakin besar," lanjutnya.

Di kesempatan yang sama, dr. Achmad Rheza, Sp.O.G, Subsp. F.E.R, mengatakan persoalan rendahnya angka kelahiran juga perlu dilihat dari sisi apakah pasangan memang memilih memiliki lebih sedikit anak atau mengalami persoalan kesuburan.

Ia menyebut, angka total fertility rate (TFR) di Surabaya dan Mojokerto telah berada di kisaran 1,7.

"Nah, ini sebenarnya kita harus tahu apakah ini akibat dari masyarakat yang semakin mengerti KB atau karena masalah ya, masalah di kesuburan. Nah, ini kita pun coba untuk memberikan informasi ke masyarakat, ke Moms & Dads itu. Apa yang harus kita lakukan ya kalau kita kok enggak hamil-hamil ya," kata dr. Rheza.

Menurutnya, edukasi diperlukan agar pasangan memahami kapan bisa mencoba kehamilan secara alami dan kapan perlu mendapat bantuan medis, termasuk melalui inseminasi maupun bayi tabung.

Head of Division Morula IVF Surabaya, Arik Lisarja mengatakan, selain faktor usia dan kesadaran, akses terhadap informasi dan layanan fertilitas juga menjadi perhatian. Morula IVF Surabaya menggelar sejumlah kegiatan edukasi dan layanan konsultasi untuk mendekatkan akses kepada masyarakat.

"Kita ada fenomena yang di mana masyarakat itu ada suatu hambatan ya, akses. Kami sudah melakukan road show di beberapa kota-kota daerah Indonesia Timur ya, salah satunya Kupang dan di Jawa Timur. Akses ini tujuannya adalah apa sih? Untuk memberikan informasi, membuka peluang informasi yang sangat besar kepada ada mereka yang ee sudah telat untuk mendapatkan informasi tersebut," ujarnya.

Ia menyebut dalam empat hingga lima bulan terakhir, Morula IVF Surabaya telah memberikan konsultasi dan USG gratis kepada 694 pasien.

"Makanya kami mencoba membuka akses selebar-lebarnya dengan semua kemampuan kami yaitu termasuk apa fasilitas atau teknologi yang sudah update, lalu standar yang sudah sertifikasi internasional dan lain-lain ya, program PGT-A yang kita gratiskan satu PGT-A, satu embrio seumur hidup sampai lahir, itu satu-satunya tujuan untuk membuka akses bagi mereka," katanya.

Akses layanan juga disebut diperluas melalui dokter di sejumlah daerah, termasuk Mojokerto, Bangkalan, dan Malang. Tujuannya agar pasangan tidak harus selalu datang ke Surabaya untuk memperoleh informasi awal mengenai persoalan fertilitas.

Dokter Maya Devi Arifiandi, Sp.O.G, Subsp.FER mengatakan, pasangan di Malang dapat melakukan konsultasi awal untuk mengetahui kemungkinan faktor yang memengaruhi kesuburan.

"Baik nanti kalau di Malang nanti kita bisa berkoordinasi ya jadi bisa bertemu dengan saya nanti bisa mencari tahu tempat praktek saya jadi bisa bertemu dengan saya untuk konsultasi misalnya pertama kalinya kira-kira nanti kita akan mencari masalahnya apa gitu. akan kita telusuri gitu masalah fertilitasnya di mana?" ujarnya.

Sementara itu, dr. Raudatul Hikmah, MM., Sp.O.G, Subsp.F.E.R, menyoroti kondisi pasangan yang harus menjalani hubungan jarak jauh karena pekerjaan. Ia mencontohkan masyarakat Madura yang bekerja sebagai pelaut dan hanya dapat bertemu pasangan dalam waktu terbatas.

"Orang pelayaran tuh suaminya setahun sekali baru datang ya. Kalaupun datang dia mungkin hanya sebulan. Jadi waktunya hanya sempit sekali untuk ada di berdekatan dengan istri. Kita beri solusi mungkin ada freezing sperma seperti itu ya. Jadi itu solusi untuk LDR ya. Orang-orang yang kawin tapi jarak jauh seperti itu," katanya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Rombongan Kloter Pertama Haji Embarkasi Surabaya Tiba di Tanah Air"
[Gambas:Video 20detik] (irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads