Stroke Tak Lagi Didominasi Lansia, Dokter: Kini Banyak Serang Usia 30-an

Stroke Tak Lagi Didominasi Lansia, Dokter: Kini Banyak Serang Usia 30-an

Esti Widiyana - detikJatim
Selasa, 08 Sep 2026 09:30 WIB
Dokter Spesialis Saraf bagian intervensi katerisasi stroke RS Kemenkes Surabaya (RSUP), dr Locoparta Agung.
Dokter Spesialis Saraf bagian intervensi katerisasi stroke RS Kemenkes Surabaya (RSUP), dr Locoparta Agung.(Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Jumlah penderita stroke pada kelompok usia produktif di Jawa Timur diprediksi terus naik. Jika dahulu penderitanya didominasi kelompok lansia, kini trennya bergeser cepat menyerang kelompok usia 30-an tahun.

Dokter Spesialis Saraf bagian intervensi katerisasi stroke RS Kemenkes Surabaya (RSUP), dr Locoparta Agung mengatakan, di Jawa Timur, gejala hingga kasus stroke di usia produktif semakin marak ditemukan di fasilitas kesehatan. Baik stroke sumbatan maupun stroke perdarahan.

"Pergeseran tren pasti dan jelas. Pasien-pasien usia 30 tahun sekarang sudah terkena stroke, mau stroke sumbatan maupun perdarahan. Trennya sudah bukan di usia 50 tahun lagi, sekarang serangan stroke dan jantung sudah di angka 30 tahunan dan diprediksi akan terus naik," kata dr Agung kepada wartawan di RSUP, Selasa (8/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyebut, pemicu utama bergesernya penyakit ini ke usia muda adalah lifestyle dan beban kerja yang tinggi. Kelompok usia produktif kerap dihadapkan pada deadline pekerjaan, kurang tidur, dan tingkat stres yang memicu gaya hidup tidak sehat.

ADVERTISEMENT

"Meluapkannya dengan minum kopi terlalu banyak, merokok, dan jarang meluangkan waktu untuk screening gula darah, tekanan darah, hingga kolesterol. Makanan instan atau fast food juga jadi pemicu karena bikin gula darah dan kolesterol tinggi," jelasnya.

Gejala stroke yang sering dirasakan pasien adalah serangan motorik berupa gangguan gerak atau lemas separuh badan. Namun, gejala stroke juga bisa bervariasi tergantung area otak yang terdampak.

"Otak itu ibarat CPU. Ada bagian komunikasi, ada bagian penglihatan. Jadi serangan stroke tidak harus lemas separuh badan. Kalau kena di bagian penglihatan, pasien bisa mengalami buta mendadak," ujarnya.

Tak sekadar melumpuhkan fisik, dampak stroke di usia produktif jauh lebih berat, karena menyerang mental pasien dan keluarganya secara jangka panjang. Pasien kerap depresi memikirkan kesembuhan, sementara keluarga atau pasangan merasa tertekan karena harus merawat sekaligus menggantikan peran pasien sebagai tulang punggung keluarga.

"Banyak pasien kontrol yang sudah terlambat dan kondisinya berat. Istrinya sampai frustrasi dan kehilangan harapan. Stroke ini tidak cuma menyerang fisik, tapi juga psikis," ceritanya.

Ada pub empat faktor utama lifestyle yang paling memengaruhi risiko stroke di usia produktif, yakni:

• Pola Tidur: Kurangnya waktu istirahat malam yang idealnya 6-8 jam.
• Kurang Aktivitas Fisik: Minimnya paparan sinar matahari pagi (minimal 30 menit) yang kaya vitamin D.
• Paparan Asap Rokok: Baik perokok aktif maupun pasif yang menghirup residu asap di pakaian atau sekitar.
• Pola Makan: Konsumsi berlebih makanan tinggi garam (pemicu tensi), manis (diabet), dan jeroan (kolesterol).



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads