Surutnya air di kawasan hulu Waduk Bendo, sisi Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko, Ponorogo, membawa perubahan bagi warga sekitar. Hamparan lahan yang sebelumnya berada di bawah genangan air kini disulap menjadi area pertanian.
Warga memanfaatkan dasar waduk yang mengering untuk menanam berbagai komoditas. Mulai dari jagung hingga kacang, tanaman kini tumbuh di area yang sebelumnya tertutup air.
Salah seorang warga Desa Ngadirojo, Tulus mengatakan, warga memilih menggarap lahan tersebut karena sayang jika tanah dibiarkan kosong selama musim kemarau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kering, eman (sayang) kalau sampai lahan itu kosong. Kalau ditanami, rakyat semua bisa mendapatkan penghasilan tambahan," kata Tulus, Rabu (2/9/2026).
Menurut Tulus, mayoritas warga Desa Ngadirojo memang bekerja sebagai petani. Karena itu, munculnya lahan akibat surutnya air Waduk Bendo menjadi peluang bagi warga untuk menambah penghasilan.
Ia mengatakan, Waduk Bendo selama ini lebih dikenal sebagai sumber air yang digunakan untuk mengairi area persawahan di wilayah lain. Namun ketika air surut, warga sekitar memilih memanfaatkan tanah yang muncul ke permukaan.
"Air di sini untuk pengairan sawah. Tapi kalau lahannya kosong, eman. Harus ditanami supaya ada penghasilannya," ujarnya.
Tulus menyebut hampir seluruh warga di sekitar kawasan tersebut ikut memanfaatkan lahan yang mengering untuk bercocok tanam.
"Ada jagung, ada kacang. Banyak warga yang memanfaatkan, semua ikut menanam," jelasnya.
Bagi sebagian warga, musim kemarau kali ini justru membuka peluang untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Tanah yang sebelumnya tidak bisa digarap karena berada di bawah genangan air kini dapat ditanami.
"Kalau kering ya jadi bisa ditanami. Eman kalau kosong dan tidak ada penghasilan. Akhirnya ditanami supaya bisa menghasilkan dan untuk kebutuhan masyarakat," ungkap Tulus.
Namun, kondisi tersebut juga membawa dampak lain bagi aktivitas ekonomi di sekitar waduk. Sebelum air surut, kawasan hulu Waduk Bendo ramai didatangi pemancing, bahkan sebagian pengunjung disebut berasal dari Jawa Tengah.
"Dulu kalau ada airnya banyak yang mancing. Dari Jawa Tengah juga banyak sekali yang datang," katanya.
Ramainya pemancing sebelumnya turut menggerakkan ekonomi warga sekitar. Sejumlah warga memanfaatkan kawasan waduk untuk membuka tempat parkir hingga warung.
Kini, suasana tersebut berubah drastis. Seiring surutnya air dan hilangnya aktivitas memancing, kawasan yang sebelumnya ramai kini menjadi sepi.
"Sekarang sepi karena pengunjung dan pemancing sudah tidak ada. Jadi beralih ke pertanian," tutur Tulus.
Meski demikian, hasil pertanian dari lahan bekas genangan waduk belum tentu menjanjikan. Tulus menyebut hasil panen sangat bergantung pada kondisi tanaman dan gangguan hama, terutama tikus.
"Kalau hasilnya tidak menentu. Sekarang juga musim hama tikus banyak, jadi penghasilannya tidak seberapa," pungkasnya.
