Air di kawasan hulu Waduk Bendo, sisi Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko, Ponorogo, terus menyusut selama musim kemarau. Kekeringan yang berlangsung lebih dari empat bulan itu membuat aktivitas nelayan terhenti.
Tak hanya nelayan, warga yang tinggal di sekitar waduk juga harus beradaptasi dengan kondisi tersebut. Sebagian lahan yang sebelumnya tenggelam, kini muncul ke permukaan dan mulai dimanfaatkan untuk bercocok tanam.
Salah satu nelayan, Agung Margo mengatakan, kondisi air di kawasan hulu Waduk Bendo mulai menyusut sejak awal musim kemarau. Hingga kini, kekeringan disebut telah berlangsung sekitar empat bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kurang lebih mulai musim kemarau kemarin sampai sekarang mungkin sekitar empat bulanan. Bahkan lebih," kata Agung, Rabu (2/9/2026).
Menurut Agung, surutnya air waduk paling terasa dampaknya bagi nelayan. Aktivitas mencari ikan menggunakan perahu kini sudah tidak bisa dilakukan seperti sebelumnya.
"Yang jelas dampaknya itu kegiatan nelayan perahu akhirnya terganggu, tidak bisa berjalan sekarang," ujarnya.
Bahkan, aktivitas warga untuk mencari ikan di waduk kini semakin jarang terlihat. Warga harus berjalan cukup jauh untuk mencapai genangan air yang masih tersisa.
"Kalau warga sendiri yang mencari ikan masih ada, tapi persentasenya kecil. Soalnya perjalanan menuju area genangan itu jauh, ada sekitar dua kilometer lebih," jelasnya.
Kondisi waduk yang menyusut juga membawa perubahan pada hamparan tanah yang sebelumnya berada di bawah genangan air. Sejumlah warga kini memanfaatkan lahan tersebut untuk menanam berbagai tanaman.
"Kalau untuk pertanian, sekarang memanfaatkan lahan-lahan yang dulunya tergenang kemudian muncul lagi. Bisa untuk tanam sayur-sayuran, jagung ataupun kacang tanah," ungkap Agung.
Namun, bertani di dasar waduk yang mengering bukan tanpa kendala. Warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air karena sistem irigasi lama sudah tidak lagi berfungsi.
Untuk mengairi tanaman, warga mengambil air dari aliran sungai menggunakan mesin diesel maupun pompa.
"Untuk tanah yang dulunya tenggelam dan sekarang muncul lagi, airnya mengambil dari aliran sungai pakai alat, seperti diesel ataupun pompa untuk mengairi lahan yang sekarang dimanfaatkan," katanya.
Penggunaan alat tersebut otomatis menambah biaya yang harus dikeluarkan petani. Meski demikian, Agung menyebut tidak semua lahan bekas genangan bisa kembali produktif seperti sebelum menjadi bagian dari waduk.
"Iya, benar, jadi tambah modal. Tapi potensinya memang sedikit. Tanah-tanah sebagian itu sudah tidak seperti dulu sebelum tenggelam. Dulu masih persawahan dan lain sebagainya, sekarang cuma sedikit saja," terangnya.
Selain persoalan air, warga juga tidak bisa lagi mengandalkan jaringan irigasi lama. Saluran irigasi yang sebelumnya digunakan sebelum kawasan tersebut tergenang kini disebut telah mengalami kerusakan.
"Irigasi yang dulu, sebelum wilayah itu tenggelam, sekarang sudah rusak semua," pungkas Agung.
(irb/hil)
