Seluruh wilayah di Jawa Timur diperkirakan masih mengalami puncak kemarau pada bulan September 2026 ini. Hujan lokal diprediksi akan turun, namun intensitasnya masih sangat rendah.
"September masih puncak musim kemarau di Jawa Timur. Masih sangat minim adanya potensi turun hujan," kata Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan saat dikonfirmasi detikJatim, Rabu (2/9/2026).
Taufiq menyebut, seluruh wilayah di Jawa Timur masih masuk puncak musim kemarau. Curah hujan masih sangat rendah di Jawa Timur pada bulan September.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto menyebut sebanyak 24 kabupaten/kota di Jatim sudah dilanda kekeringan. Distribusi air bersih terus dilakukan.
"Kami sudah distribusi air bersih 1.396.000 Liter, kami menyiapkan stok air bersih untuk didistribusikan ke kabupaten/kota. Potensi kekeringan ada di 29 kabupaten/kota, dan sampai hari ini kekeringan melanda 24 kabupaten/kota," jelasnya.
"Sejumlah daerah yang terdampak kekeringan seperti Bangkalan, Pamekasan, Pasuruan, Bondowoso, Mojokerto, di daerah tersebut ada cukup banyak kepala keluarga (KK) terdampak," tambahnya.
Gatot juga membeberkan selama musim kemarau 2026 ini, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menghanguskan 1917,44 Hektare (Ha) luas area terdampak.
Untuk operasi modifikasi cuaca (OMC), lanjut Gatot masih sulit dilakukan di Jawa Timur. Sebab, kondisi awan hujan masih belum memenuhi syarat dilakukan OMC.
"Kami imbau kembali agar warga tidak melakukan bakar-bakar sampah sembarangan apalagi di lahan kosong yang tidak dijaga, karena dampaknya bisa fatal," jelasnya.
"Karena potensi musim kemarau tahun 2026 ini bisa panjang hingga November. Kita semua harus gotong royong bersama menjaga Jawa Timur," tandasnya.
