Kemunculan buaya di sejumlah aliran sungai di Sidoarjo dan wilayah sekitarnya, belakangan ini menjadi perhatian warga. Kemunculan satwa liar tersebut diduga berkaitan dengan kondisi habitat, ketersediaan makanan, hingga musim kawin.
Koordinator Satker Surabaya Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Suwardi mengatakan, buaya yang muncul di wilayah Sidoarjo umumnya merupakan buaya liar yang sedang bergerak mencari makan maupun pasangan.
"Musim kemarau atau ketika air surut, makanan di habitatnya bisa berkurang sehingga buaya berpindah untuk mencari makan. Selain itu, saat musim kawin, pergerakannya juga menjadi lebih luas untuk mencari pasangan," kata Suwardi kepada detikJatim melalui telepon selulernya, Kamis (13/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, wilayah sepanjang Sungai Porong beserta cabang-cabangnya merupakan jalur pergerakan alami bagi buaya. Kemunculan buaya juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain, seperti Tulungagung, Banjarmati dan Jagir.
Jenis buaya yang banyak ditemukan merupakan buaya muara. Satwa ini memiliki kemampuan hidup di air tawar, payau maupun asin.
Suwardi menjelaskan, buaya liar yang terbiasa mencari makanan secara alami, seperti ikan, udang dan kepiting, pada umumnya cenderung menghindari manusia.
"Buaya yang masih liar dan mencari makan secara alami relatif belum mengenal manusia sebagai sumber makanan. Biasanya cenderung menghindar, ketika ada keramaian," jelasnya.
Buaya juga kerap terlihat berada di tepian sungai ketika cuaca panas. Kondisi tersebut merupakan perilaku alami untuk mengatur suhu tubuh atau berjemur, bukan berarti buaya sedang bersiap menyerang manusia.
Namun, masyarakat tetap diminta waspada. Buaya dapat menjadi berbahaya ketika merasa terancam, terutama apabila manusia berada terlalu dekat dengan satwa tersebut.
"Jangan mendekati atau mengganggu buaya. Kalau masih berada di sungai atau aliran air, sebaiknya dibiarkan karena biasanya akan kembali sendiri," ujarnya.
Suwardi menyebut masyarakat perlu lebih berhati-hati ketika berada seorang diri di tepi sungai, terutama di kawasan yang sepi. Warga juga diimbau tidak berenang atau memancing sendirian di lokasi yang berpotensi menjadi habitat buaya.
Populasi Ikan Berkurang
Selain faktor musim, Suwardi menilai berkurangnya ketersediaan makanan alami juga dapat mendorong buaya bergerak lebih jauh dari habitatnya.
Menurut dia, penangkapan ikan dengan cara yang merusak, seperti menggunakan setrum maupun bahan obat atau bius, dapat mengganggu rantai makanan di perairan.
"Kalau ikan dan makanan alami di sungai semakin berkurang, buaya bisa mencari makan lebih luas. Penangkapan ikan menggunakan setrum dan obat itu merusak populasi ikan, mulai dari telur sampai ikan dewasa," katanya.
Kondisi tersebut berpotensi membuat buaya memasuki kawasan tambak warga melalui saluran air yang terhubung dengan sungai.
Karena itu, masyarakat diminta menghindari metode penangkapan ikan yang merusak dan menjaga habitat perairan, termasuk kawasan mangrove yang masih alami.
Suwardi juga mengingatkan para petambak yang memiliki lokasi usaha dekat sungai agar meningkatkan kewaspadaan. Saluran air yang terhubung dengan sungai dapat menjadi jalur bagi buaya untuk masuk ke kawasan tambak.
Buaya disebut lebih berpotensi menunggu mangsa di perairan yang tenang, terutama di sekitar tepian yang tertutup daun, kayu atau vegetasi.
Petambak diminta memeriksa kondisi sekitar sebelum turun ke air dan tidak berada terlalu dekat dengan tepian yang sepi maupun rimbun.
"Kalau masuk ke pemukiman atau tambak warga, segera dilaporkan agar bisa dilakukan penanganan atau penangkapan oleh petugas," tegas Suwardi.
Ia menambahkan, selama buaya masih berada di habitat alaminya, masyarakat tidak perlu melakukan tindakan sendiri. Warga cukup menjaga jarak dan melaporkan apabila satwa tersebut mulai masuk ke area yang membahayakan manusia.
Dengan menjaga ketersediaan makanan alami dan mengurangi praktik penangkapan ikan yang merusak, diharapkan rantai makanan di perairan tetap terjaga sehingga pergerakan buaya keluar dari habitat alaminya dapat diminimalkan.
Simak Video "Video: Viral Pelajar Terpapar HIV di Sidoarjo Capai 522 Orang, Dinkes Buka Suara "
[Gambas:Video 20detik] (irb/hil)
