Kebakaran Bromo Nyaris 900 Hektare, BNPB Targetkan Padam Total pada Jumat

Kebakaran Bromo Nyaris 900 Hektare, BNPB Targetkan Padam Total pada Jumat

M Rofiq - detikJatim
Selasa, 11 Agu 2026 18:15 WIB
Tim gabungan kementerian, BNPB, BPBD Jatim dan lainnya sedang meninjau karhutla di TNBTS.
Tim gabungan kementerian, BNPB, BPBD Jatim dan lainnya sedang meninjau karhutla di TNBTS. (Foto: M Rofiq/detikJatim)
Probolinggo -

Penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo, terus dikebut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan dua titik api yang masih tersisa dapat dituntaskan pada Jumat (14/8).

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan bahwa strategi pemadaman harus terus diperkuat dengan mengoptimalkan operasi water bombing serta pengerahan pasukan darat di sejumlah titik.

"Kita sudah menyampaikan kepada Danrem, Sekda, kemudian Kalaksa BPBD, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Kita upayakan dua titik ini Jumat sudah selesai," ujar Suharyanto. Selasa (11/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, apabila 2 titik api itu berhasil dipadamkan, sebagian helikopter water bombing dapat digeser untuk membantu penanganan kebakaran di wilayah lain yang juga membutuhkan.

"Saat ini ada tiga water bombing. Dua water bombing kita geser ke tempat lain karena tempat lain juga membutuhkan untuk pemadaman kebakaran," katanya.

ADVERTISEMENT

Untuk mempercepat pemadaman BNPB melakukan evaluasi terhadap pola operasi helikopter. Suharyanto mengatakan, salah satu perubahan penting adalah menempatkan helikopter dalam kondisi standby di Pasuruan.

"Perbedaannya adalah helikopter standby di Pasuruan, refueling-nya di Pasuruan, sehingga lebih efektif," jelasnya.

Sebelumnya, dua helikopter yang digunakan dinilai belum cukup efektif karena membutuhkan waktu perjalanan menuju lokasi pengambilan air dan titik operasi. Dengan penempatan helikopter serta lokasi pengisian bahan bakar yang lebih dekat, waktu operasional dapat dipangkas.

"Kita menambahkan satu dari Pemprov, sewa satu lagi. Itu yang dua pesawat kecil harus standby dan refueling-nya, sehingga lebih efektif," ujarnya.

Dengan pola itu helikopter bisa melakukan beberapa kali penerbangan untuk menjatuhkan air tanpa harus terlalu lama kembali ke pangkalan. Suharyanto mengungkapkan, salah satu kendala terbesar pemadaman kebakaran Bromo adalah kondisi medan. Titik api berada di kemiringan yang sangat terjal sehingga menyulitkan pasukan darat menjangkaunya.

"Yang pertama medan. Jelas kita lihat, rekan-rekan media lihat itu apinya ada di ketinggian, sudutnya sampai 80 derajat. Jadi pasukan darat tidak bisa naik sampai ke atas," katanya.

Selain medan, keterbatasan sumber air juga menjadi persoalan. Air untuk operasi pemadaman, terutama water bombing, salah satunya hanya dapat diambil dari kawasan Ranu Pane.

"Kedua, sumber airnya tidak banyak, jadi hanya yang bisa diambil di Ranu Pane," ujar Suharyanto.

Faktor ketiga adalah cuaca. Hingga kini hujan belum dapat segera diturunkan untuk membantu proses pemadaman.

BNPB bersama BMKG terus memantau perkembangan cuaca. Berdasarkan informasi BMKG, terdapat potensi awan hujan pada pertengahan Agustus.

"Penjelasan dari BMKG, ada potensi awan hujan tanggal 14 sampai 16 Agustus. Tanggal 18 juga," kata Suharyanto.

Jika kondisi atmosfer memenuhi persyaratan, pemerintah akan melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memicu turunnya hujan di kawasan yang terdampak kebakaran.

"Kalau memang betul-betul ada, nanti kita akan lakukan operasi modifikasi cuaca supaya datang hujan. Kalau hujan tentu saja lebih efektif dan lebih efisien," ujarnya.

BNPB juga mengingatkan bahwa pemadaman tidak cukup hanya dengan menjatuhkan air ke titik api yang terlihat. Kawasan yang telah terbakar perlu terus dibasahi untuk mencegah bara dan percikan api kembali muncul.

Suharyanto menyebutkan, berdasarkan pengalaman penanganan kebakaran sebelumnya, api dapat kembali muncul setelah kondisi kawasan mengering.

"Walaupun sudah kering, ternyata percikan itu muncul lagi, bara api lagi seperti itu," katanya.

Karena itu, BNPB berencana tetap mempertahankan dukungan helikopter meskipun sebagian armada nantinya digeser ke lokasi kebakaran lain.

"Kalaupun ditinggal dua heli, kami tetap, kalau boleh satu heli yang kami sewa tetap lanjut. Karena sebetulnya perlu pembasahan," ujar Suharyanto.

Hingga update terakhir, luas kawasan yang terdampak kebakaran mencapai 889 hektare. Area terdampak tersebar di empat wilayah administrasi, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Pasuruan.

"Luas lahan yang terdampak hari ini 889. Masuknya di empat wilayah, jadi semua yang kebakaran di Probolinggo, Lumajang, Malang, Pasuruan," kata Suharyanto.

Ia menegaskan seluruh unsur terkait diminta terus bekerja hingga penanganan kebakaran benar-benar tuntas.

Selain pemadaman, pemerintah juga menyiapkan langkah pemulihan dampak kebakaran, terutama terhadap infrastruktur dasar masyarakat. Salah satunya pipa air yang terbakar dan meleleh akibat kebakaran.

Suharyanto memastikan infrastruktur tersebut akan direhabilitasi karena dampak kebakaran telah mengganggu kebutuhan dasar masyarakat.

"Terutama pipa air yang terbakar, meleleh, itu akan diganti semua. Karena kalau bencana besar terjadi, masyarakat tidak mendapatkan air. Kami sudah rencanakan itu," ujarnya.

Menurutnya, dampak kebakaran Bromo tidak hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga mengancam aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata.

"Kalau Bromo hingga selesai, dampaknya luar biasa. Bagaimana jip-jip berhenti, warung, homestay, itu ekonomi jelas sangat bergantung," kata Suharyanto.

Karena itu, BNPB meminta seluruh unsur di lapangan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia agar kebakaran dapat segera dituntaskan.

"Semua kerahkan dulu sampai selesai. Kita pastikan Jumat sudah signifikan untuk yang water bombing sudah bisa selesai," tegasnya.



(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads