Kronologi Relawan Mojokerto Digigit Kobra hingga Tangan Dioperasi

Kronologi Relawan Mojokerto Digigit Kobra hingga Tangan Dioperasi

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Selasa, 28 Jul 2026 15:15 WIB
Achmad Zaenuri alias Zaenal (68), relawan di Mojokerto saat dirawat di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo
Achmad Zaenuri alias Zaenal (68), relawan di Mojokerto saat dirawat di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Mojokerto -

Achmad Zaenuri alias Zaenal (68), relawan di Mojokerto digigit ular kobra. Beruntung nyawanya masih tertolong, meski tangannya harus mendapat tindakan operasi setelah dipatuk ular berbisa.

Ditemui di kamar rawat inap Kertabumi 9, RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto menceritakan kronologi bagaimana ia digigit ular beracun itu.

Semua berawal saat ia mendapat informasi ular masuk rumah warga Lingkungan Mulyosari, Kelurahan/Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto pada Kamis (23/7) sekitar pukul 08.00 WIB. Zaenuri pun langsung meluncur ke lokasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sampai di lokasi, keterangan pemilik rumah, ularnya lari ke got. Saya cari, ternyata ular di dalam pipa dari saluran rumah menuju got, cuma kelihatan kepalanya," kata Zaenuri kepada detikJatim, Selasa (28/7/2026).

Zaenuri sejatinya sudah mengetahui kalau ular tersebut jenis kobra. Namun, ia tetap nekat menangkapnya dengan tangan kosong. Meski berjalan lancar, aksinya tentu tak patut ditiru karena sangat berbahaya.

ADVERTISEMENT

"Tidak pakai sarung tangan karena saya memang ingin menangkap ular tanpa alat. Saya kepingin seperti pawang ular," terangnya.

Meski telah menangkap, Zaenuri ternyata sempat melepas ular berbisa itu di jalan aspal depan rumah warga tersebut. Dalihnya untuk menjinakkan ular kobra baru dikantongi dalam tasnya.

"Ingin saya jinakkan dulu, itu harus dijinakkan. Jadi, kalau menangkap ular itu harus dijinakkan. Setelah jinak, lemas, baru ditangkap. Setelah itu, saya masukkan ke dalam tas rangsel abu-abu," cetusnya.

Di dalam tas rangsel tersebut rupanya sudah ada seekor ular kayu kesayangan Zaenuri. Begitu sampai di depan warung bakso Jalan RA Basuni, Sooko, Mojokerto, 2 ular tersebut terlepas karena bagian atas tas rangsel itu berlubang dan terbuka.

Beruntung tukang parkir warung bakso mengingatkannya. Zaenuri pun bergegas menangkap ular kobra karena khawatir menyerang orang di sekitarnya. Saat itulah telapak tangan kiri antara ibu jari dan jari telunjuk digigit ular tersebut.

"Langsung saya tarik pakai tangan kanan, lepas dan lari, lalu saya tangkap lagi pakai tangan kanan, jari telunjuk digigit juga. Kemudian saya masukkan ke tas rangsel satunya. Ular kayu juga saya masukkan ke tas itu," ungkapnya.

Sadar digigit ular berbisa, Zaenuri bergegas ke RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo. Tas rangsel berisi ular kobra dan kayu ia taruh di sepeda motornya. Baru 2 hari kemudian, kedua ular itu dievakuasi oleh tim pemadam kebakaran.

"Karena saya khawatir tas itu dicuri orang, tidak tahu kalau isinya ular," ujarnya.

Bisa ular kobra mengakibatkan kedua tangan Zaenuri bengkak. Ia telah menjalani operasi untuk mengangkat jaringan yang rusak di kedua tangannya pada Sabtu (25/7). Saat ini, ia masih menjalani pemulihan.

"Tadi sudah boleh pulang, tapi saya masih mual, demam, pusing dan muntah," jelasnya.

Meski demikian, Zaenuri mengaku tak kapok menangkap ular kobra lagi, bahkan dengan tangan kosong. Pria yang tak punya istri dan anak itu pun dengan enteng menjawab karena senang saja, meski resikonya besar.

"Saya masih ingin bisa menangkap ular tanpa alat. Karena kesenangan saja, senang dan hobi. Sebetulnya saya ini menyelamatkan ular yang meresahkan atau mengganggu warga, jangan sampai dibunuh," terangnya.

Sebelumnya, Achmad Zaenuri alias Zaenal (68), seorang relawan di Mojokerto digigit ular kobra. Akibatnya, pimpinan Relawan Birunya Cinta (RBC) ini harus menjalani operasi akibat gigtan ular berbisa tersebut.
Zaenuri merupakan relawan yang sudah malang melintang di Mojokerto.

Wajahnya jamak terlihat di berbagai evakuasi jenazah korban kecelakaan, tindak pidana, meninggal mendadak, hingga bencana alam.

Namun, belakangan Zaenuri juga terobsesi dengan satwa liar yang mengganggu masyarakat. Sebut saja tawon vespa, kera liar, biawak, luwak dan ular. Tak jarang, Ketua RBC ini mengevakuasi ular secara serampangan.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads