Bencana kekeringan mulai membayangi warga di Kabupaten Malang. Memasuki puncak musim kemarau debit air sumur maupun mata air warga di sejumlah kawasan dilaporkan terus merosot sejak akhir Juni.
Kondisi terparah salah satunya melanda Desa Sumberagung, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Di wilayah ini, pasokan air warga menyusut drastis hingga menyisakan kurang lebih 30 persen saja dari kondisi normal.
"Berdasarkan hasil monitoring, wilayah Desa Sumberagung, mulai dua minggu lalu debit air dari belik dan sumur milik warga sudah menurun dan saat ini tinggal kurang lebih 30 persen dari kondisi normal," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan kepada wartawan, Rabu (22/7/2026).
Penurunan debit air ini berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan harian warga, khususnya di RT13 dan RT14/RW02 Dusun Krajan. Tercatat ada sekitar 30 Kepala Keluarga (KK) yang mulai kelimpungan mencari pasokan air tambahan.
Meski sisa pasokan air saat ini masih cukup untuk kebutuhan mendasar seperti konsumsi dan memasak, warga terpaksa menempuh jarak cukup jauh demi keperluan mencuci pakaian.
"Untuk aktivitas lain seperti mencuci pakaian, saat ini warga harus ke Sungai Mbambang yang berjarak 1,5 kilometer dari wilayah RW 2," jelas Sadono.
Selain Desa Sumberagung, BPBD Kabupaten Malang juga memantau ketat wilayah rawan lain seperti Desa Sitiarjo dan Desa Kedungbanteng.
Kendati debit air di dua lokasi tersebut turut menyusut, kondisinya dinilai masih aman untuk mencukupi kebutuhan harian warga.
"Untuk saat ini baru ada laporan penurunan debit air dari Desa Sitiarjo dan Kedungbanteng. Kami terus melakukan pemantauan untuk melihat perkembangan kondisi di lapangan," lanjutnya.
Guna mengantisipasi dampak kemarau panjang, BPBD Kabupaten Malang sebenarnya telah menetapkan status siaga darurat kekeringan.
Pihaknya memetakan ada 13 desa di 6 kecamatan yang tergolong rawan kekeringan, dengan delapan desa di antaranya berstatus kerawanan tinggi.
Meski demikian, bantuan air bersih hingga kini belum disalurkan ke lokasi terdampak karena kondisi di lapangan dinilai belum mencapai level kritis.
"Belum kekeringan krisis, sehingga kami belum melakukan dropping air bersih ke wilayah tersebut," pungkas Sadono.
Simak Video "Video: Siap-siap! Awal Musim Kemarau di Indonesia Dimulai Juli"
(auh/dpe)