Belasan Desa di Malang Siaga Darurat Kekeringan, Begini Langkah BPBD

Belasan Desa di Malang Siaga Darurat Kekeringan, Begini Langkah BPBD

Muhammad Aminudin - detikJatim
Rabu, 22 Jul 2026 12:45 WIB
Ilustrasi Kekeringan
Ilustrasi kekeringan. (Foto: Getty Images)
Malang -

Memasuki musim kemarau, belasan desa di wilayah Kabupaten Malang mulai dipetakan masuk dalam kategori rawan terdampak kekeringan. Siaga darurat rawan bencana kekeringan berlangsung sampai September 2026.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat daerah rawan tersebut tersebar di 6 kecamatan, yaitu Sumbermanjing Wetan, Pagak, Gedangan, Kalipare, Bantur, dan Donomulyo. Langkah cepat diambil pihak berwenang guna mengantisipasi memburuknya situasi selama beberapa bulan ke depan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan mengonfirmasi bahwa pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat kekeringan sebagai bentuk kewaspadaan dini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami tetapkan status siaga darurat kekeringan sejak 15 Juli sampai dengan September 2026 mendatang," ujar Sadono kepada wartawan, Rabu (22/7/2026).

Penetapan status ini menjadi fondasi bagi tim di lapangan untuk memantau pergerakan ketersediaan air bersih bagi warga terdampak. Dari total 13 desa yang dipetakan sebanyak 8 desa di antaranya tercatat memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi.

ADVERTISEMENT

Kecamatan Donomulyo menjadi salah satu wilayah dengan potensi dampak terbesar, khususnya di Desa Sumberoto, Mentaraman, dan Tulungrejo. Pada ketiga wilayah desa itu potensi ancaman kekeringan bisa dirasakan oleh ratusan penduduk.

"Di Kecamatan Donomulyo sendiri ada sekitar 638 kepala keluarga dari 5 dusun, sedangkan di Kecamatan Bantur ada sebanyak 675 kepala keluarga yang terdampak," tutur Sadono.

Selain wilayah itu, ancaman serupa mengintai Kecamatan Kalipare tepatnya di Desa Putukrejo dan Sukowilangun. Di dua desa ini tercatat ada sekitar 596 kepala keluarga yang masuk dalam zona rawan tinggi.

Kendati demikian, hingga pertengahan Juli 2026, laporan mengenai krisis air secara intensif masih terhitung minim. BPBD sejauh ini baru menerima satu laporan resmi terkait penurunan debit air pasokan warga, yaitu dari Desa Sumberagung, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.

"Kami hanya menerima laporan bahwa debit air warga menurun kurang lebih tinggal 30 persen dari kondisi normal," jelas Sadono.

Meski debit air di beberapa titik mulai menyusut, BPBD memastikan bahwa fenomena itu belum di tahap yang mengkhawatirkan. Penurunan pasokan air di lapangan dinilai masih berada di ambang aman dan belum memerlukan penanganan darurat berupa pendistribusian air bersih ke pemukiman.

"Belum kekeringan krisis, sehingga kami belum lakukan droping air bersih ke wilayah tersebut," pungkas Sadono.



(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads