Apa Itu Karhutla? Ini Penyebab, Dampak dan Cara Mencegahnya

Mira Rachmalia - detikJatim
Kamis, 16 Jul 2026 14:00 WIB
Ilustrasi kebakaran hutan. Foto: Dok Istimewa
Surabaya -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sering kali bermula dari hal yang terlihat sepele, seperti percikan api dari alat berat, puntung rokok, api unggun yang tidak dipadamkan sempurna, hingga sambaran petir saat musim kemarau.

Namun, ketika terjadi di tengah vegetasi yang kering, api dapat menyebar dengan sangat cepat dan menghanguskan ribuan hektare lahan hanya dalam hitungan jam. Dampak karhutla bisa sangat besar, seperti memicu kabut asap, mengganggu kesehatan masyarakat, merusak ekosistem.

Karhutla juga bisa menyebabkan kerugian ekonomi yang besar. Karena itu, memahami penyebab, proses terjadinya, dampak, serta langkah pencegahan menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana ini. Berikut penjelasan lengkapnya.

Apa Itu Karhutla?

Karhutla merupakan singkatan dari kebakaran hutan dan lahan, yaitu peristiwa terbakarnya kawasan hutan maupun lahan yang mengakibatkan kerusakan vegetasi, ekosistem, dan lingkungan.

Kebakaran dapat terjadi secara alami maupun dipicu oleh aktivitas manusia, tetapi di berbagai negara, termasuk Indonesia, sebagian besar kasus karhutla dipengaruhi oleh faktor manusia.

Pada dasarnya, sebuah kebakaran membutuhkan tiga unsur utama, yakni sumber panas, bahan bakar, dan oksigen. Ketika percikan api bertemu dengan vegetasi yang kering akibat musim kemarau atau kekeringan berkepanjangan, api dapat dengan mudah membesar dan sulit dikendalikan.

Menurut Western Fire Chiefs Association, sebagian besar kebakaran hutan sebenarnya berawal dari aktivitas sehari-hari yang tampak sederhana, bukan semata-mata akibat bencana alam. Hal ini menunjukkan perilaku manusia memiliki peran penting dalam menentukan tingkat risiko terjadinya kebakaran.

Dalam beberapa tahun terakhir, ancaman karhutla juga semakin meningkat akibat perubahan kondisi lingkungan. Suhu udara yang lebih panas, musim kemarau yang berlangsung lebih lama, serta berkurangnya kelembapan membuat pepohonan, semak, dan rumput menjadi lebih mudah terbakar.

Setelah api muncul, angin kencang dan kelembapan udara yang rendah dapat mempercepat penyebaran api ke wilayah yang lebih luas.

Selain faktor iklim, meningkatnya pembangunan permukiman dan infrastruktur di sekitar kawasan hutan juga memperbesar peluang munculnya titik api. Semakin banyak aktivitas manusia di sekitar area rawan kebakaran, semakin besar pula risiko terjadinya karhutla.

Karena itu, memahami penyebab munculnya api sekaligus kondisi yang membuat kebakaran semakin cepat menyebar menjadi langkah penting dalam upaya mitigasi.

Meskipun tidak semua kebakaran dapat dicegah, sebagian besar penyebabnya sebenarnya bisa diminimalkan melalui kesadaran masyarakat dan penerapan langkah pencegahan sejak dini.

Penyebab Karhutla

Karhutla umumnya dipicu dua kelompok penyebab, yaitu aktivitas manusia dan faktor alam. Meski demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebakaran yang dipicu manusia jauh lebih banyak dibandingkan kebakaran yang terjadi secara alami.

1. Aktivitas Manusia

Berbagai aktivitas sehari-hari dapat menjadi sumber munculnya api jika dilakukan saat kondisi cuaca sedang panas dan vegetasi dalam keadaan kering. Beberapa penyebab yang paling sering memicu karhutla, antara lain penggunaan alat berat atau mesin yang menghasilkan percikan api.

Termasuk juga jaringan listrik yang rusak, kendaraan dengan knalpot panas, pembakaran sampah atau lahan, api unggun yang tidak dipadamkan sempurna, hingga penggunaan kembang api di area yang dipenuhi rumput kering.

Menurut Western Fire Chiefs Association, sebagian besar kebakaran berawal dari aktivitas rutin yang sebenarnya dapat dicegah.

Karena itu, tindakan sederhana seperti menunda penggunaan mesin pemotong rumput saat cuaca sangat kering, memastikan api unggun benar-benar padam, atau tidak membakar sampah sembarangan dapat mengurangi risiko kebakaran secara signifikan.

Berbagai contoh kejadian di sejumlah negara juga menunjukkan pola yang sama. Banyak kebakaran besar bermula dari percikan kecil yang kemudian membesar karena vegetasi kering, angin kencang, dan keterlambatan penanganan.

2. Faktor Alam

Selain aktivitas manusia, kebakaran juga dapat terjadi akibat proses alam. Penyebab alami yang paling umum adalah sambaran petir, terutama saat terjadi dry lightning, yaitu petir yang muncul tanpa disertai hujan yang cukup untuk membasahi permukaan tanah.

Sambaran petir dapat langsung membakar pohon atau menciptakan bara api yang baru terlihat beberapa jam bahkan beberapa hari kemudian.

Kondisi kekeringan juga memiliki peran besar dalam meningkatkan risiko kebakaran. Ketika hujan tidak turun dalam waktu lama, kadar air pada rumput, semak, dan pepohonan terus menurun sehingga vegetasi berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar.

Meski angin bukan penyebab munculnya api, keberadaannya sangat menentukan perkembangan kebakaran. Tiupan angin mampu mendorong kobaran api bergerak lebih cepat, menambah pasokan oksigen, sekaligus membawa bara api ke lokasi lain sehingga memunculkan titik-titik kebakaran baru.

Medan yang berbukit atau memiliki lereng curam juga membuat api lebih mudah merambat ke bagian atas karena panas cenderung bergerak naik. Kombinasi antara cuaca panas, vegetasi kering, angin kencang, dan kondisi topografi inilah yang sering menyebabkan kebakaran berkembang menjadi sulit dikendalikan.

Dampak Karhutla bagi Lingkungan, Kesehatan, dan Ekonomi

Karhutla tidak hanya menghanguskan pepohonan. Dampaknya dapat dirasakan dalam jangka pendek maupun panjang, mulai dari kerusakan lingkungan hingga gangguan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Dari sisi lingkungan, kebakaran menyebabkan hilangnya tutupan hutan yang menjadi habitat berbagai satwa liar. Api juga merusak keanekaragaman hayati, mengurangi kemampuan hutan menyerap karbon, serta meningkatkan emisi gas rumah kaca yang mempercepat perubahan iklim.

Dampak lain yang paling sering dirasakan masyarakat adalah munculnya kabut asap. Asap hasil pembakaran mengandung partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu berbagai gangguan kesehatan.

Seperti iritasi mata, batuk, sesak napas, hingga memperburuk penyakit asma dan penyakit paru kronis. Anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan menjadi kelompok yang paling rentan terhadap paparan asap karhutla.

Kerugian ekonomi akibat karhutla juga tidak sedikit. Kebakaran dapat merusak lahan pertanian, perkebunan, kawasan wisata, hingga fasilitas umum. Aktivitas transportasi darat maupun penerbangan juga kerap terganggu akibat jarak pandang yang menurun karena kabut asap.

Di sisi lain, pemerintah harus mengeluarkan biaya besar untuk proses pemadaman, penanganan bencana, hingga pemulihan kawasan yang terbakar.

Besarnya dampak tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan persoalan yang memengaruhi kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan keberlanjutan sumber daya alam.

Cara Mencegah Karhutla dan Langkah Kesiapsiagaan Masyarakat

Pencegahan karhutla pada dasarnya bertujuan mengurangi kemungkinan munculnya titik api sekaligus membatasi penyebaran api apabila kebakaran terjadi.

Menurut National Interagency Fire Center (NIFC), pencegahan kebakaran merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan masyarakat, pemerintah, hingga pengelola kawasan. Upaya tersebut dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari.

Masyarakat dapat mengurangi risiko kebakaran dengan tidak membakar sampah atau membuka lahan menggunakan api, memastikan api unggun benar-benar padam sebelum ditinggalkan, serta menghindari penggunaan alat yang dapat menghasilkan percikan api saat kondisi cuaca sangat panas dan kering.

Area di sekitar rumah maupun bangunan juga perlu dijaga agar bebas dari tumpukan ranting, daun kering, dan material mudah terbakar. Membersihkan atap, talang air, serta halaman secara berkala dapat mengurangi risiko bara api menyulut kebakaran ketika terjadi karhutla di sekitar permukiman.

Selain pencegahan, kesiapsiagaan menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman kebakaran. American Red Cross menyarankan masyarakat selalu memantau informasi cuaca, mengikuti perkembangan peringatan dini dari pemerintah, serta mengetahui jalur evakuasi apabila kebakaran terjadi di sekitar tempat tinggal.

Saat otoritas mengeluarkan peringatan bahaya kebakaran atau kondisi cuaca ekstrem, masyarakat sebaiknya menunda aktivitas yang berpotensi memunculkan percikan api, termasuk membakar sampah, menggunakan mesin pemotong rumput, atau melakukan pekerjaan yang menghasilkan panas di area terbuka.

Menyiapkan tas siaga yang berisi dokumen penting, obat-obatan, pakaian, serta kebutuhan darurat lainnya juga dapat membantu proses evakuasi berjalan lebih cepat apabila situasi memburuk.

Pada akhirnya, pencegahan karhutla bukan hanya bergantung pada teknologi pemadaman, tetapi juga pada kedisiplinan masyarakat dalam mengurangi sumber penyebab kebakaran sejak awal.



Simak Video "Video: Pakar Lingkungan Universitas Palangka Raya Buka-bukaan Soal Tata Kelola Gambut di Indonesia!"

(irb/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork