Ratusan petani, peternak, pelaku UMKM hingga pekerja lokal menggelar aksi di depan Kantor DPRD dan Pemkab Ponorogo. Mereka mendesak agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilanjutkan sembari meminta pemerintah mengevaluasi tata kelolanya dan menindak tegas oknum yang diduga melakukan korupsi.
Koordinator aksi, Purwanto mengatakan, demonstrasi dilakukan karena para pelaku usaha di tingkat bawah merasakan langsung dampak positif program MBG terhadap perekonomian desa.
"Selama beberapa bulan berjalan, program ini sudah dirasakan manfaatnya. Yang sebelumnya menganggur bisa bekerja, hasil pertanian terserap, hasil peternakan terserap, UMKM juga bergerak, tenaga kerja lokal ikut terserap," kata Purwanto kepada wartawan, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, persoalan yang muncul dalam pelaksanaan MBG tidak semestinya menjadi alasan menghentikan program tersebut. Yang diperlukan adalah evaluasi sistem dan penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang menyalahgunakan anggaran.
"Kalau memang ada kekurangan dalam teknis pelaksanaannya ya dievaluasi. Tapi programnya harus tetap lanjut karena manfaatnya sudah dirasakan masyarakat," ujarnya.
Purwanto menegaskan, tuntutan utama massa adalah agar pemerintah tetap melanjutkan MBG, memperbaiki tata kelolanya, sekaligus menindak tegas pelaku korupsi.
"MBG lanjut. Evaluasi sistemnya. Habiskan dan tindak tegas mereka yang korupsi di dalam program ini. Jangan sampai dibiarkan karena itu penyakit di negeri ini," tegasnya.
Sementara itu, Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita menyatakan Pemkab menerima seluruh aspirasi yang disampaikan massa dan akan mencari solusi bersama.
"Namanya tuntutan masyarakat pasti kami tampung semua. Apa yang menjadi keluhan masyarakat nanti kita cari solusinya bersama-sama," kata Lisdyarita.
Menurutnya, MBG terbukti memberi dampak besar terhadap perputaran ekonomi di pedesaan. Petani, peternak hingga pemasok bahan pangan lokal mendapatkan pasar yang jelas selama program berjalan.
"Program MBG ini sebenarnya sangat bagus. Ekonomi desa benar-benar bergerak. Pendapatan petani meningkat karena hasil panennya terserap," ujarnya.
Lisdyarita mengakui penghentian sementara layanan MBG selama masa libur membuat banyak komoditas lokal menumpuk. Salah satunya telur ayam dan buah-buahan yang sebelumnya rutin diserap untuk kebutuhan dapur MBG.
"Sekarang stok telur membludak sehingga harganya turun. Petani sayur juga bingung karena selama ini banyak yang terserap ke MBG. Ternyata dampaknya sangat besar bagi ekonomi masyarakat," jelasnya.
Ia memastikan pemerintah daerah tetap mendorong agar kebutuhan bahan baku MBG diprioritaskan berasal dari Ponorogo.
"Yang pasti kami ingin desa-desa menjadi pemasok untuk MBG. Selama kebutuhan lokal masih tersedia, tentu diprioritaskan dari petani dan peternak Ponorogo. Kalau stok lokal habis baru mengambil dari luar daerah," tegasnya.
Sebagai langkah membantu peternak di tengah turunnya harga telur, Pemkab Ponorogo juga mengimbau aparatur sipil negara (ASN) membeli produk lokal.
"Kami mengajak teman-teman ASN membeli telur, ayam, dan buah-buahan lokal supaya penyerapan tetap ada. Harga telur sekarang turun drastis, dari sekitar Rp 26 ribu menjadi sekitar Rp 16 ribu per kilogram. Kasihan para peternak kalau tidak segera terserap," pungkasnya.
Simak Video "Akar Kemitraan Untuk Masa Depan"
(auh/hil)