Portugal melenggang ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 dengan meninggalkan banyak kelemahan selama empat laga yang telah dijalani. Namun, justru itu yang membuat pertandingan mereka terasa begitu mendebarkan untuk disaksikan.
Kepastian langkah Portugal menapaki babak 16 besar didapat usai menekuk Kroasia 2-1. Dua gol dari Cristiano Ronaldo (68') dan Goncalo Ramos (94') berhasil menghadirkan kemenangan setelah tertinggal melalui sepakan Ivan Perisic (53') di muka gawang.
Laga tersebut bergulir dengan penuh drama. Asa Portugal bisa saja terpupus andai dua gol Kroasia pada babak kedua tidak dianulir wasit karena offside.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Portugal yang tampil dominan sepanjang paruh pertama, dibuat kelimpungan selepas turun minum. Peragaan permainan terbuka dengan celah antarlini yang begitu menganga berulang kali hampir membuat mereka terbobol dari serangan balik Kroasia.
Puncaknya, gawang Diogo Costa robek oleh konversi gol Perisic yang jeli menempatkan posisi dalam menerima umpan lambung dari sisi kanan. Bahkan, ketertinggalan Portugal hampir berlipat tiga menit berselang bilamana offside tidak menggagalkan gol kedua Kroasia.
Meskipun pada akhirnya Portugal bisa bangkit membalikkan keadaan, gol offside Kroasia di menit akhir hampir memaksa laga berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Beruntungnya, wasit tidak mengesahkan.
Sepanjang pertandingan, Portugal menguasai 60 persen penguasaan bola tetapi hanya mampu melepaskan tiga tembakan ke arah gawang. Catatan tersebut cukup timpang jika dibanding efektivitas Kroasia yang sanggup menciptakan enam peluang tepat sasaran.
Dominasi penguasaan bola dengan garis pertahanan tinggi kerap membuat sektor belakang Portugal rentan tereksploitasi. Kelemahan tersebut semakin memunculkan banyak lubang sebab empat pemain terdepan mereka sering lamban dalam transisi bertahan.
Permainan yang tak begitu solid juga mereka tampilkan selama fase grup. Selain dalam kemenangan 5-0 atas Uzbekistan, Portugal cukup kepayahan saat bermain imbang kontra Kongo dan Kolombia.
Pada laga menghadapi Kongo, Portugal bermain membosankan dengan 75 persen penguasaan bola. Pertandingan tersebut berkesudahan 1-1 dengan hanya satu peluang tepat sasaran yang sanggup mereka kreasi.
Sementara itu, Kolombia cukup tangguh untuk meladeni Portugal dengan permainan sengit dalam laga yang berakhir 0-0. Sebuah gol dari Davinson Sanchez pada menit akhir hampir memberi kekalahan untuk Ronaldo dan kolega jika tidak karena offside.
Dari empat pertandingan yang telah dilakoni, kerentanan terlihat pada permainan Portugal sekalipun deretan pemain bintang terhimpun dalam tim ini. Pada laga-laga tersebut, serangan yang mampu mereka ciptakan hampir sama mengancamnya dengan risiko yang ditinggalkan pada lini pertahanan.
Namun, hal tersebutlah yang membuat pertandingan Portugal terasa menggugah. Kita dibuat kagum dengan cara mereka menggencarkan serangan sekaligus bergidik manakala pertahanan mereka tertekan.
Dibanding melihat tim unggulan lain, misalnya Spanyol atau Prancis yang tampil superior dalam mendominasi dan mendikte permainan lawan, menyaksikan Portugal terasa lebih menggairahkan. Tim ini menyuguhkan pertandingan yang bergelimang jual beli serangan dan 90 menit seolah terlalu singkat untuk itu.
Barangkali, Portugal bukanlah tim dengan permainan paling solid atau kandidat terdepan perengkuh juara. Tetapi, tiap-tiap peluang yang mereka hadirkan serta upaya mati-matian menahan gempuran serangan membuat peluit akhir terasa begitu memuaskan.
(auh/hil)
