Kabar Finance

Ini Dampak yang Terjadi Jika Rupiah Terus Melemah

Trisna Wulandari - detikJatim
Minggu, 17 Mei 2026 15:40 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto)
Surabaya -

Nilai tukar rupiah kini berada di kisaran Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) per Minggu (17/5/2026) siang. Nominal tersebut jauh dari target nilai tukar rupiah 2026 yang dipatok Rp 16.500 per dolar AS.

Sejumlah pakar dan akademisi di perguruan tinggi angkat bicara soal potensi dampak yang akan terjadi jika rupiah terus melemah. Beberapa di antaranya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Harga Kebutuhan Pokok Naik

Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi mengatakanm melemahnya nilai tukar rupiah dapat mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok. Hal ini dipicu oleh naiknya harga bahan baku impor dalam rupiah.

Rijadh menjelaskan, ketika perusahaan masih bergantung pada penggunaan bahan baku impor tersebut, maka perusahaan tersebut nantinya harus menyesuaikan harga barang dalam beberapa bulan kemudian.

Biaya Transportasi-Kesehatan Naik

Tak hanya bahan pokok, kenaikan juga berpotensi terjadi pada biaya transportasi dan layanan kesehatan. Ini seiring mahalnya bahan bakar serta obat-obatan impor.

"Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak," kata Rijadh, dikutip dari laman UGM, Minggu (17/5/2026).

Beban Subsidi-Utang Naik

Sementara itu, ketergantungan pada impor juga dapat meningkatkan beban subsidi energi saat nilai tukar rupiah melemah.

Ia menambahkan, pelemahan nilai tukar rupiah juga membuat nilai pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri dalam rupiah membesar, meskipun besarannya masih sama dalam mata uang dolar.

Pembiayaan Sektor Lain Terbatas

Rijadh menyoroti bahwa dengan naiknya beban subsidi dan utang luar negeri, pembiayaan untuk sektor penting lainnya bisa terdampak. Termasuk di antaranya yakni sektor pendidikan.

"Ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, maka fleksibilitas pemerintah untuk membiayai sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial menjadi terbatas," ucapnya.

Selaras, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (Unand), Dr Hefrizal Handra, mengatakan kombinasi peningkatan subsidi dan kompensasi energi, kebijakan efisiensi belanja, dan penurunan transfer ke daerah dapat mendorong pasar menyesuaikan risiko (risk repricing) di Indonesia.

Wakil Rektor II Unand ini menilai fundamental ekonomi dan sektor riil Indonesia masih relatif terjaga. Namun, situasi saat ini harus direspons dengan menjaga stabilitas nilai tukar, kredibilitas fiskal, dan penguatan struktur ekonomi agar tidak berkembang menjadi krisis.

"Ini bukan krisis, tetapi jelas ujian yang serius. Jika tekanan global berlanjut tanpa respons kebijakan yang kuat dan kredibel, kondisi ini bisa berkembang menjadi krisis," ucapnya.

Produk Asal RI Lebih Kompetitif

Di sisi lain, Dosen FEB UGM Eddy Junarsin, Ph D, CFP, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah dapat berdampak baik pada harga produk Indonesia yang menjadi lebih murah di mata pasar internasional. Dengan demikian, harga barang Indonesia dapat lebih bersaing.

Menurutnya, dampak produk asal Indonesia yang menjadi lebih kompetitif juga dapat meningkatkan ekspor dan pembukaan lapangan kerja baru.

Jika biaya produksi di negeri menjadi relatif lebih murah bagi investor asing, menurutnya, hal ini dapat memicu foreign direct investment (FDI). Namun, potensi ini tidak berlaku bagi industri yang bergantung pada impor.

"Industri yang bergantung pada impor, seperti energi, pangan impor, serta mesin dan alat berat, justru akan terdampak karena biaya menjadi lebih mahal," kata Eddy.

Artikel ini telah tayang di detikEdu. Baca selengkapnya di sini.



Simak Video "Video: Rupiah Babak Belur ke Level Rp 17.300 per Dolar AS"

(auh/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork