Transformasi Bulog di Balik Sepiring Nasi

Transformasi Bulog di Balik Sepiring Nasi

Adhar Muttaqin - detikJatim
Senin, 18 Mei 2026 23:59 WIB
Petugas melakukan pengecekan stok beras di Gudang Bulog Pulosari, Tulungagung
Foto: Adhar Muttaqin/detikJatim
Tulungagung -

Di sebuah rak toko modern berjaringan di Desa/Kecamatan Ngunut, Tulungagung tampak berjajar beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) produksi Perum Bulog. Sejurus kemudiaan, Yati tanpa ragu megangkat satu kantong kemasan 5 kg dan membawanya ke meja kasir.

"Berapa mbak," ucap Yati kepada kasir.

"Ini saja bu, Rp62.500," sahut kasir, setelah memeriksa harga melalui alat memindai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usai membayar, Yati bergegas keluar toko sambil menenteng beras dan meletakkannya di atas sepeda motor untuk dibawa pulang.

Bagi Yati, beras SPHP bukan hanya sekadar kebutuhan pokok. Namun, menjadi penyelamat dapur di tengah meroketnya harga sembako. Selain harga yang terjangkau, kualitas berasnya dinilai cukup baik.

ADVERTISEMENT

"Saya sudah pakai SPHP sekitar satu tahun terakhir, pokoknya kalau ada stok di toko ya saya beli seperlunya karena terkadang habis," ujarnya sembari menuangkan beras itu ke dalam tempat penyimpanan plastik.

Awalnya ia mengaku sempat ragu untuk menggunakan produk Perum Bulog tersebut. Alasannya beras Bulog sering dicap sebagai beras berkualitas rendah.

"Ya tahu sendiri lah dulu seperti apa kualitas beras Bulog seperti apa, terlebih yang diberikan untuk masyarakat miskin. Tapi sekarang jauh berbeda, bagus ternyata," imbuhnya.

Yati mengaku keberadaan beras SPHP cukup membantu keluarganya karena dapat mengurangi biaya kebutuhan dapur. Jika dibandingkan beras medium sejenis harganya jauh lebih murah. "Kalau yang merk lain itu ya di atas Rp70 ribu/ lima kilogram. Untuk ibu rumah tangga dengan gaji suami UMR ya cukup membantu," imbuhnya.

Hal senada disampaikan Tini. Penerima program bantuan pangan pemerintah asal Trenggalek ini mengaku beras Bulog yang diterimanya kini kualitasnya jauh lebih bagus. "Dulu itu kalau dapat bantuan beras harus dipoles lagi ke penggilingan keliling, karena warnanya jelek dan kadang berkutu," kata Tini.

Sekarang beras batuan pangan pemerintah bisa langsung diolah menjadi nasi. Meski telah banyak berubah dari sisi kualitas, ia mengaku beras bantuan tersebut terkadang memiliki tekstur lebih pera. "Kalau anak muda ya enggak masalah, tapi kalau yang tua sukanya yang agak pulen," imbuhnya.

Salah satu mitra Bulog, Subagyo, mengakui adanya transformasi besar-besaran dalam tubuh Perum Bulog terhadap kualitas beras yang dihasilkan. Terlebih sejak pemerintah meningkatkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP). Dampakya proses penyerapan gabah petani dapat berjalan maksimal, sebab harga yang ditawarkan bisa lebih kompetitif.

"Dulu sebetulnya juga ada HPP, tapi nilainya jauh dari harga pasaran, akibatnya banyak mitra yang memilih menjual beras ke pasar langsung. Kemudian yang disetor ke Bulog ya pasti kualitasnya setara harga HPP," kata Subagyo.

Dijelaskan peningkatan HPP tinggi memberikan keuntungan langsung terhadap para petani karena harga jual gabah mendapatkan jaminan dari pemerintah. Tidak hanya itu penyerapan gabah pun juga dijamin oleh pemerintah melalui Bulog.

"Untuk mitra ada dua sistem yang diterapkan, pertama kami hanya sebagai jasa pengolahan gabah menjadi beras. Jadi penyerapan gabah dilakukan langsung oleh Bulog, kemudian dikirimkan ke kami untuk diolah," jelasnya.

Sementara itu sistem kedua, pihak mitra melakukan penyerapan langsung ke petani dan mengolah menjadi beras dengan kualitas sesuai standar yang ditetapkan, yaitu derajat sosoh minimal 95 persen, kadar air maksimal 14 persen persen, butir patah maksimal 25 persen dan butir menir maksimal 2 persen.

"Untuk kadar air GKP dari petani itu maksimal 25 persen," ujarnya.

Subagyo menyebut, sistem baru yang ditetapkan Bulog dan pemerintah cenderung lebih baik dibandingkan periode-periode yang lalu. Meski demikian para mitra juga harus cermat dalam menjalankan bisnis. Terlebih saat penyerapan gabah petani, pemerintah menerapkan sistem any quality.

"Jadi apapun kualitas gabahnya harus bisa diserap, sedangkan Bulog menerapkan kualitas beras yang tinggi. Nah, ini kalau hasil berasnya jelek, mitra yang salah," jelasnya.

Ia mengaku pernah memiliki pengalaman mendapatkan GKP dengan kadar air 30 persen, padahal standarnya 25 persen. Akibatnya ia harus melakukan pengolahan ekstra agar kadar air tersebut diturunkan menjadi 14 persen atau siap giling.

"Kalau biasanya hanya butuh waktu pengeringan 12 jam ya bisa sampai 24 jam untuk menjadi 14 persen, tentu ini akan memakan biaya tambahan," ujarnya.

Tidak hanya itu, fluktuasi harga gabah di pasaran juga menjadi tantangan tersendiri bagi mitra dalam penyerapan hasil panen. Saat ini harga gabah berkisar antara Rp7.000-8.100/kilogram, sedangkan HPP yang ditetapkan Rp6.500/kilogram.

"Kalau bisa pemerintah juga menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) gabah karena beras ada HET-nya," kata Subagyo.

Jalan Panjang Transformasi

Pimpinan Perum Bulog Kantor Cabang Tulungagung, Yonas Haryadi Kurniawan, mengatakan transformasi institusinya hingga terus berjalan. Kini Bulog tidak sekadar menjalankan penugasan atau Public Service Obligation (PSO) dari pemerintah. Namun, juga bergerak untuk meningkatkan lini bisnisnya.

"Sekarang kita sudah mulai memperkuat dari sisi bisnis komersil kita. Jadi perubahannya sudah sangat signifikan ya. Karena tidak hanya berfokus pada penugasan PSO," kaya Yonas.

Kantor Cabang Bulog Tulungagung juga dituntut untuk bergerak cepat dalam memperkuat pilar ketahanan pangan nasional. Perubahan strategi yang dijalankan Bulog kini mulai mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Pihaknya menjelaskan setiap produk yang dihasilkan harus melalui proses panjang mulai dari petani, mitra dan diolah menjadi komoditas berkualitas bagus dan layak dikonsumsi oleh masyarakat.

Untuk penugasan pemerintah, Bulog Tulungagung pada tahun 2025 berhasil menyerap 42 ribu ton setara beras, sedangkan stok cadangan pangan pada akhir Desember 2025 mencapai 35 ribu ton.

"Tahun ini, sampai dengan saat ini cadangan pangannya mencapai 75 ribu ton. Untuk serapan setara berasnya mencapai 45 ribu ton," kata Yonas.

Menurutnya untuk memaksimalkan penyerapan gabah petani dan penyediaan stok cadangan pangan, pihaknya menggerakkan petugas Sergap (serap gabah petani) yang bertugas langsung mendatangi petani untuk membeli hasil panen. Selain itu pihaknya juga menjalin kerja sama dengan 40 mitra untuk mengolah hasil panen petani.

Proses penyerapan hasil panen petani dilakukan lebih awal, terutama pada saat panen raya. Harapannya HPP yang ditawarkan ke petani masih dapat bersaing dengan para tengkulak, serta mampu menyerap dalam jumlah yang lebih banyak.

Yonas menjelaskan, pada tahap ini Bulog tidak sekadar memaksimalkan penyerapan. Namun, pihaknya tetap melakukan pengawasan ketat terhadap proses pengolahan padi menjadi beras. Seluruh stok beras yang diterima harus sesuai dengan standar yang tekah ditetapkan Bulog.

"Untuk mitra-mitra, kami juga menghimbau supaya mereka itu tidak hanya bergerak pada saat panen untuk mengolah, baik mengolah gabah kita ataupun mengolah produk mereka sendiri. Tapi menghimbau mereka juga melakukan pembinaan kepada petani," jelasnya.

Harapannya dengan pembinaan yang tepat, para petani juga bisa meningkatkan kualitas padi yang dihasilkan, sekaligus mendapatkan kepastian penjualan setelah panen.

Yonas menambahkan proses penyimpanan beras di gudang Bulog juga menerapkan sistem pengawasan yang ketat, sehingga kualita beras tetap terjaga hingga didistribusikan ke masyarakat melalui SPHP maupun bantuan pangan.

"Sekarang kan karungnya ukuran 50 kg. kami tumpuk di tiap unit-unit gudang. Terus dilakukan aerasi setiap hari, pagi buka pintunya, sore tutup supaya sirkulasi udaranya jalan, kelembabannya terjaga. Terus per 1 bulan kita lakukan spraying rutin," imbuh Yonas.

Spraying atau fogging rutin dilakukan untuk antisipasi serangan hama. Ketika terjadi serangan hama sedang ataupun hama berat itu biasanya di kisaran 3 bulan masa simpan itu kita laksanakan fumigasi. Dengan penyimpanan yang tepat, kualitas beras akan tetap terjaga.

"Kalau di Tulungagung ini masa simpannya tidak lama, bahkan ada yang kurang dari satu tahun sudah keluar," imbuhnya.

Pada tahap awal di 2026 pihaknya menerima penugasan penyaluran 9.000 ton beras bantuan pangan. Proses penyaluran ditargetkan akan tuntas pada akhir Mei. Diakui proses penyaluran sempat terjeda akibat masa puncak musim panen, sehingga dikhawatirkan akan mengganggu harga.

"Kemarin juga sempat terkendala kemasan, akibat harga bahan baku plastik naik. Sekarang sudah berdatangan. Untuk bantuan pangan ini biasanya setahun tiga kali," jelasnya.

Sementara itu penyaluran beras SPHP hingga kini terus dilakukan dengan untuk menstabilkan harga beras di pasaran. Distribusi dilakukan melalui ratusan toko, ritel hingga program gebyar pangan murah yang diselenggarakan oleh TNI, Polri maupun BUMN dan instansi terkait.

"SPHP ini adalah sebagai substitusi atau opsi lain selain beras di pasaran yang harganya lebih mahal. Ini ada SPHP nih. Sebagai produk opsi lainnya," jelasnya.

Keberadaan SPHP di pasaran tidak lepas dari pengawasan ketat pihak Bulog. Seluruh toko dan mitra yang bekerja sama diwajibkan untuk menjual sesuai dengan HET yang telah ditetapkan yakni Rp12.500/kilogram atau Rp62.500/lima kilogram.

"Pengawasannya kami lakukan secara berkala secara tertutup maupun terbuka. Kami datang tanpa seragam untuk membeli. Jika memang ada pelanggaran akan kami peringatkan," jelas Yonas.

Pemimpin Wilayah (Pimwil) Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adinugroho, mengklaim respons masyarakat terhadap beras SPHP cukup tinggi. Hal tersebut dinilai cukup efektif untuk menjaga stabiitas harga beras di pasar.

"Secara overall secara Jawa Timur di pasar-pasar SP2KP yang dipantau seluruh Jawa Timur hijau. Jadi aman. Itu tiap hari kita ada grup WA dari tim Saber Pangan, Satgas Pangan, kita sangat komunikatif di sini," kata Langgeng.

Stok Beras Jatim Tembus 1,3 Juta Ton, Tertinggi Dalam Sejarah

Stok beras Bulog di Jawa Timur mencapai angka 1,3 juta ton atau tertinggi sepanjang sejarah. Jumlah tersebut menopang 26 persen dari stok beras nasional.

Direktur Pengadaan Perum Bulog Prihasto Setyanto, saat kunjungan di Tulungagung, mengatakan stok beras di Jatim menduduki posisi tertinggi di Indonesia, disusul Sulawesi Selatan.

"Sudah hampir mencapai 1,3 juta ton khusus untuk Jawa Timur saja. Jadi ini memang pencapaian tertinggi," kata Prihasto.

Data Bulog menyebut stok beras nasional saat ini mencapai 5 juta ton. Dengan kondisi tersebut, Jawa Timur menjadi penopang utama ketersediaan stok pangan nasional.

Selain beras, Jatim juga berada di posisi atas dalam menyediakan pasokan jagung nasional. Stok jagung Jatim mencapai 55.000 ton atau berada di posisi kedua setelah Sulawesi Selatan sebanyak 65.000 ton. Sementara itu stok jagung nasional mencapai 210.000 ton.

"Ini masih terus bertambah sampai kita akan dapat penugasan untuk jagung ini 1 juta ton secara nasional," jelasnya.

Prihasto, menambahkan tingginya stok pangan menjadi salah satu bukti produktivitas pertanian di Jatim.

Di sisi lain, tingginya stok bahan pangan tersebut nyaris membuat Bulog kewalahan, sebab ketersediaan gudang penyimpan hampir penuh. Saat ini pihaknya tengah mengatur strategi untuk menambah gudang penyimpanan untuk beras dan jagung.

"Di Jawa Timur, sisa ruang gudang yang tersedia saat ini hanya sekitar 74.000 ton. Kondisi ketersediaan ruang gudang ini dinilai sudah cukup mengkhawatirkan," imbuhnya.

Stok jagung tersebut merupakan salah satu faktor yang menghabiskan ruang di gudang beras.

Bulog Optimistis Serap Serap 4 Juta Ton Beras di 2026

Perum Bulog optimistis mampu menyerap 4 juta ton beras petani pada tahun 2026. Saat ini progres penyerapan telah mencapai 60 persen.

Prihasto Setyanto, mengatakan sesuai Instruksi Presiden (Inpres) 4 tahun 2026, pihaknya mendapatkan mandat untuk melakukan penyerapan beras hingga 4 juta ton.

"Saat ini kita sudah menyerap hampir 2,4 juta ton atau sekitar 60 persen dari target. Insyaallah sampai Juni nanti 4 juta ton bisa kita selesaikan," kata Prihasto Setyanto.

Target penyerapan tersebut naik 1 juta ton dari sebelumnya 3 juta ton menjadi 4 juta ton. Pihaknya yakin target tersebut mampu tercapai sebelum tutup tahun.

"Untuk capaian secara nasional, tahun 2025 kita dapat tugas 3 juta ton, alhamdulillah sudah kita capai," jelasnya.

Capaian target tahun 2025 menjadi landasan seluruh komponen Bulog untuk bekerja ekstra guna mewujudkan angka penyerapan hingga 4 juta ton.

Optimisme itu juga didukung oleh jaminan pemerintah terkait stabilitas harga di tingkat petani. Tingginya harga tanah mampu mendorong semangat petani untuk meningkatkan produksi.

"Sekarang kalau ada yang mempermainkan harga, Bulog siap hadir dengan membeli dengan harga 6.500 sesuai dengan Inpres Nomor 4 Tahun 2026," jelasnya.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads