Panas Terik di Jatim tapi Masih Ada Hujan Lokal, Kenapa?

Panas Terik di Jatim tapi Masih Ada Hujan Lokal, Kenapa?

Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikJatim
Sabtu, 09 Mei 2026 01:00 WIB
Ilustrasi cuaca berawan di Jatim.
Ilustrasi cuaca berawan di Jatim. Foto: ChatGPT
Surabaya -

Cuaca panas terik mulai dominan di Jawa Timur (Jatim) dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, suhu udara di sejumlah wilayah dilaporkan bisa menembus 34 derajat Celsius pada siang hari.

Meski begitu, hujan lokal masih berpotensi turun di beberapa daerah, terutama pada sore hingga malam hari. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat bertanya-tanya mengapa hujan masih terjadi padahal musim kemarau mulai datang.

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sebagian wilayah Indonesia memang telah memasuki musim kemarau. Namun, dinamika atmosfer dan masa peralihan musim masih memicu terbentuknya awan hujan di beberapa wilayah, termasuk Jawa Timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wilayah Jatim yang Masih Berpotensi Hujan

Meski cuaca panas mulai mendominasi, BMKG masih memprediksi potensi hujan lokal di sejumlah wilayah Jatim akhir pekan ini. Berdasarkan peringatan dini cuaca BMKG Juanda, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi di beberapa daerah, terutama kawasan tapal kuda dan wilayah pegunungan.

Sabtu 9 Mei 2026

BMKG Juanda mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk Sabtu 9 Mei 2026. Sejumlah wilayah di Jawa Timur masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat meski cuaca panas mulai mendominasi pada siang hari.

ADVERTISEMENT

Hujan Sedang-Lebat:

  • Banyuwangi
  • Ngawi

Minggu 10 Mei 2026

BMKG Juanda memprediksi sejumlah wilayah di Jawa Timur masih berpotensi diguyur hujan pada Minggu 10 Mei 2026. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, serta hujan petir masih diperkirakan turun di beberapa wilayah berikut.

Hujan Sedang-Lebat:

  • Banyuwangi
  • Bondowoso
  • Jember
  • Lumajang
  • Malang
  • Pasuruan
  • Probolinggo
  • Situbondo
  • Sumenep

Hujan Petir

  • Pasuruan
  • Probolinggo
  • Situbondo

Kenapa Hujan Lokal Masih Terjadi di Jatim?

Meski cuaca panas mulai mendominasi di sejumlah wilayah Jatim, hujan lokal masih berpotensi turun pada periode awal musim kemarau. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari informasi BMKG, berikut beberapa penyebab hujan masih kerap turun di Jatim meski telah memasuki Mei 2026.

1. Pengaruh Gelombang Atmosfer

Salah satu faktor utama turunnya hujan bulan Mei adalah masih aktifnya gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang melintasi Indonesia. Ketiga gelombang tersebut memperkuat proses konvektif pada skala luas sehingga mendorong terbentuknya awan hujan di berbagai wilayah.

2. Aktivitas MJO

Selanjutnya, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase 2 juga turut meningkatkan potensi hujan. Aktivitas ini melintasi sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa bagian barat, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, NTT, hingga Maluku.

3. Adanya Sirkulasi Siklonik

Penyebab ketiga, yakni keberadaan sirkulasi siklonik di beberapa kawasan seperti pesisir barat dan utara Sumatera, Kalimantan bagian utara, perairan utara Maluku, serta pesisir utara Papua yang ikut memperkuat pembentukan awan hujan. Kondisi ini meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah tersebut.

4. Suhu Permukaan dan Kelembaban Tinggi

Faktor lokal juga berperan dalam terjadinya fenomena hujan, terutama saat pemanasan permukaan bumi yang cukup kuat pada siang hari, serta kelembapan udara yang tinggi. Perpaduan dua kondisi ini mendukung terbentuknya awan hujan meski Indonesia mulai memasuki masa peralihan musim.

5. Bibit Siklon Tropis 92W

BMKG juga mencatat adanya Bibit Siklon Tropis 92W di Samudra Pasifik utara Papua, serta sejumlah sirkulasi siklonik di perairan Indonesia, seperti Selat Makassar, Laut Banda, hingga wilayah barat Bengkulu dan barat laut Aceh.

Sistem ini membentuk area konvergensi dan konfluensi, yaitu pertemuan angin yang memicu pengangkatan massa udara. Keadaan ini juga mendorong terjadinya pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah tersebut.

6. Pengaruh Monsun Australia

Sementara itu, Monsun Australia yang membawa angin timuran mulai menguat. Angin ini cenderung membawa massa udara lebih kering, sehingga beberapa waktu tutupan awan berkuran dan suhu pada siang hari meningkat. Namun, keadaan ini justru mempertegas terjadinya masa peralihan musim menuju kemarau.

Secara keseluruhan, kombinasi berbagai faktor tersebut membuat potensi hujan masih cukup tinggi di sejumlah wilayah. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika atmosfer di Indonesia masih aktif dan belum sepenuhnya stabil meski telah memasuki periode peralihan menuju musim kemarau.

Imbauan BMKG

BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kondisi cuaca cerah yang berpotensi disertai cuaca ekstrem dalam beberapa waktu terdepan. Masyarakat disarankan menggunakan pelindung.

Seperti tabir surya untuk menghindari paparan langsung sinar matahari, serta menjaga asupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, guna mencegah dehidrasi dan kelelahan.

Selain itu, BMKG juga mengingatkan pentingnya memantau informasi cuaca secara berkala. Masyarakat dapat mengakses prakiraan cuaca, peringatan dini, hingga potensi cuaca ekstrem melalui kanal resmi BMKG antara lain laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads