Surabaya Panas 'Kentang-kentang' tapi BMKG Bilang Kemarau Belum Datang

Surabaya Panas 'Kentang-kentang' tapi BMKG Bilang Kemarau Belum Datang

Aprilia Devi - detikJatim
Selasa, 05 Mei 2026 12:15 WIB
Ilustrasi cuaca panas di Surabaya.
Ilustrasi cuaca panas di Surabaya. (Foto: Aprilia Devi/detikJatim)
Surabaya -

Panas di Surabaya beberapa hari terakhir begitu terik. Orang Surabaya bilang, panasnya 'kentang-kentang'. Meski begitu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa awal musim kemarau di Kota Pahlawan sebenarnya belum sepenuhnya datang.

Prakirawan BMKG Juanda, Levi Ratnasari menjelaskan bahwa secara umum awal musim kemarau di Surabaya diperkirakan baru terjadi pada dasarian II atau pada dasarian III Mei 2026. Menurutnya, awal kemarau di Surabaya diprediksi akan terjadi pada pertengahan hingga akhir Mei 2026.

"Untuk wilayah Surabaya secara umum awal musim kemarau diprediksi terjadi di bulan Mei Dasarian III atau akhir Mei mendatang," ujar Levi saat dikonfirmasi detikJatim, Selasa (5/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski begitu, beberapa wilayah di Surabaya menurutnya akan lebih dulu memasuki awal musim kemarau tahun ini.

ADVERTISEMENT

"Namun untuk sebagian wilayah seperti Surabaya bagian barat diprediksi awal musim kemarau pada Mei Dasarian II atau pertengahan bulan Mei," tambah Levi.

Ia juga menjelaskan terkait istilah 'Godzilla El Nino' yang sempat ramai diperbincangkan. Levi menegaskan istilah tersebut bukan istilah resmi BMKG. Namun, musim kemarau tahun ini memang diprediksi diikuti fenomena El Nino.

"Terkait istilah 'Godzilla El Nino' bukan istilah resmi dalam BMKG, namun memang prediksi dari BMKG untuk musim kemarau tahun ini diikuti oleh fenomena El Nino, sehingga kondisi musim kemarau yang memang biasanya akan terasa kering dan terik ditambah diikuti fenomena El Nino tersebut, maka kondisi musim kemarau akan lebih terasa kering dan terik," jelasnya.

Di tengah cuaca panas yang mulai terasa, BMKG pun mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi. Warga diminta bijak menggunakan air hingga mengurangi aktivitas di luar ruangan saat siang hari.

"Gunakan air secukupnya untuk kebutuhan sehari-hari agar tidak kekurangan saat puncak musim kemarau datang," imbaunya.

Selain itu, masyarakat diingatkan untuk tidak melakukan pembakaran lahan karena berpotensi memicu kebakaran.

"Hindari membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar karena dapat memicu kebakaran besar," tutur Levi.

Levi turut mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampak cuaca panas yang terjadi.

"Kurangi aktivitas di luar ruangan saat siang hari dan perbanyak minum air agar tidak dehidrasi," pungkasnya.




(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads