Eks Penjara Koblen yang dulunya menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa kini terbengkalai. Kawasan cagar budaya itu berubah fungsi menjadi pasar buah, namun kondisinya kumuh dan belum beroperasi maksimal.
Ironi nyata lainnya tampak pada instalasi listriknya. Kabel-kabel putih justru menjuntai semrawut dililitkan begitu saja pada tiang kayu keropos. Di sekitarnya, tampak kain bekas dan sampah berserakan, menandakan aktivitas pasar yang lesu.
Jejak Koblen sejatinya penuh histori. Pemerintah Kota Surabaya membangunnya sejak awal 1930-an di atas lahan seluas 3,8 hektare, dengan menelan biaya fantastis untuk ruang tahanan. Uniknya, nama Koblen muncul dari lidah lokal yang melafalkan Kobbelsteen, merujuk pada material batu alam ekspos kekuningan yang menjadi ciri khas temboknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamat sejarah, Kuncarsono Prasetyo, menyebut kawasan ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan monumen heroik.
"Itu awalnya penjara militer zaman Belanda. Pada masa Jepang, fungsinya berubah jadi kamp interniran untuk tawanan perang warga Belanda. Bahkan tokoh kita, Kiai Haji Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, pernah ditawan di situ," ujarnya kepada detikJatim, Minggu (19/4/2026).
Eks Penjara Koblen Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim |
Setelah merdeka, lokasi ini sempat menjadi Rumah Tahanan Militer hingga tahun 1990 sebelum akhirnya dijual ke pihak swasta. Kini, bangunan di balik tembok perlahan sirna, hanya menyisakan tembok keliling setinggi 3,5 meter sebagai saksi bisu yang tersisa.
Terkait alih fungsi menjadi pasar buah, Kuncarsono menilai secara aturan diperbolehkan melalui konsep adaptif, namun harus tetap menjaga marwah cagar budaya.
"Fungsinya bisa berubah, tapi bangunannya jangan. Di luar negeri banyak penjara jadi fungsi lain tanpa merubah bentuk. Masalahnya, pasar yang sekarang ini dianggap tidak sesuai blueprint, terkesan kemproh (jorok). Harusnya jadi pasar wisata yang asik, bukan sekadar pasar murni di lahan kosong yang mengabaikan nilai sejarahnya," tegasnya.
Toni, salah satu warga setempat, mengungkapkan bahwa meski penataan sudah dimulai sejak 2021, operasional pasar masih terkendala.
"Sudah diajukan lama sejak 2010. Masih lanjut sebenarnya. Kemarin mangkraknya itu gara-gara COVID," jelasnya.
Meskipun terlihat vakum di siang hari, nyatanya aktivitas di eks Penjara Koblen tidak benar-benar berhenti. Slamet, salah satu pedagang yang masih bertahan, menuturkan bahwa kawasan milik swasta ini masih menjadi tumpuan hidupnya.
"Ya jualan sama nyopir juga, ada mobil pikap. Kalau saya dagang untuk kiriman luar pulau," pungkasnya.
(auh/hil)












































