Sederet Ulah 'Unik' Warga Sidoarjo, Dari Lempar Tinja Sampai Tutup Jalan

Sederet Ulah 'Unik' Warga Sidoarjo, Dari Lempar Tinja Sampai Tutup Jalan

Anastasia Trifena - detikJatim
Selasa, 07 Apr 2026 10:30 WIB
Selat Hormuz Cabang Sidokare Sidoarjo
'Selat Hormuz Cabang Sidokare' Sidoarjo (Foto: Tangkapan layar)
Sidoarjo -

Drama bertetangga dengan orang yang 'unik' atau nyeleneh ternyata tidak hanya terjadi di layar kaca. Karena di Sidoarjo, semua itu merupakan kisah nyata.

Fenomena ini rata-rata dilatarbelakangi oleh miskomunikasi ataupun masalah sepele antarwarga. Namun, cara penyelesaiannya selalu saja menyita perhatian. Mulai dari menutup jalan secara sepihak hingga melempari batu maupun tinja ke rumah tetangga.

Ragam kejadian ini pun jadi sorotan. Sebab cara-cara yang ditempuh dinilai di luar nalar dan justru merugikan banyak pihak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kelakuan 'unik' warga Sidoarjo pun masih bermunculan hingga kini. Karena itu, detikJatim merangkum sejumlah kasusnya yang sempat ramai dibicarakan sebagai pengingat agar konflik serupa tak kembali terulang.

Penutupan Sepihak Jalan Sidokare Asri (April 2026)

'Selat Hormuz Cabang Sidokare' Sidoarjo'Selat Hormuz Cabang Sidokare' Sidoarjo Foto: Suparno/detikJatim

Kasus terbaru yang masih hangat dibicarakan datang dari Perumahan Sidokare Asri. Aksi seorang lansia yang menutup akses jalan alternatif secara sepihak viral di media sosial setelah akun TikTok @Brilliant_Prayoga mengunggah dan menamainya sebagai "Selat Hormuz".

ADVERTISEMENT

Unggahan yang merupakan rekaman CCTV tersebut memperlihatkan seorang pria berinisial MH (66) menutup jalan dengan berbagai benda, mulai dari jemuran hingga plang besi. Akibatnya, warga pun kesulitan melintas. Bahkan, ada pengendara yang terpaksa mundur dan bermanuver hingga kendaraan lecet saat memaksa lewat di celah sempit tersebut.

Ketua RT setempat, Abdul Rofik membenarkan kejadian itu dan menyebut aksi serupa bukan pertama kali terjadi.

"Memang kejadian seperti itu sudah sering. Tapi waktu itu kondisinya terlalu penuh, jadi tidak bisa lewat, akhirnya terjadi percekcokan," jelasnya saat ditemui detikJatim, Minggu (5/4/2026).

Ia juga menegaskan bahwa portal yang digunakan bukanlah fasilitas resmi, melainkan dibuat secara pribadi oleh pelaku.

Sementara MH mengaku penutupan jalan dilakukan bukan tanpa alasan. ia berdalih ingin menertibkan parkir liar serta menjaga keselamatan anak-anak di sekitar lokasi.

"Saya itu tujuannya penertiban, banyak mobil parkir seenaknya dan tidak memikirkan lingkungan," ujar MH.

Ia juga menilai narasi yang beredar di media sosial tidak sesuai fakta dan merasa dirugikan atas viralnya video tersebut. MH pun berencana menempuh jalur hukum dengan melaporkan penyebar video ke Polresta Sidoarjo terkait pencemaran nama baik.

Sementara, sang pengunggah video (YG) menyebut aksinya dilatarbelakangi buntunya komunikasi antarwarga dan bukan untuk memperkeruh suasana.

"Tujuan saya bukan mau melaporkan orang ini. Tujuan saya biar banyak orang bisa berubah, lebih baik, bertetangga lebih nyaman," kata YG kepada detikJatim melalui telepon selulernya, Senin (6/4/2026).

Pelemparan Batu dan Genting (Januari 2024)

Kasus tetangga melempar batu dan genting ke rumah di Sidoarjo berujung damai. Pelaku yang merupakan paman korban meminta maaf dan tidak akan mengulanginya.Kasus tetangga melempar batu dan genting ke rumah di Sidoarjo berujung damai. Pelaku yang merupakan paman korban meminta maaf dan tidak akan mengulanginya. Foto: Istimewa

Kasus selanjutnya merupakan aksi pelemparan batu dan genting yang sempat menghebohkan warga di Desa Sidodadi RT 07 RW 02, Kecamatan Taman, Sidoarjo pada awal 2024. Lebih mengherankan lagi, pelaku merupakan paman dari korban. Aselar (71) kedapatan melempari rumah keponakannya sendiri, Najunda Duhita (24) sejak November 2023. Aksi itu terekam CCTV pada 8 Desember 2023 dan kemudian viral di media sosial.

Dalam rekaman terlihat pelaku beberapa kali melempar batu hingga genting ke arah rumah korban. Akibatnya, keluarga korban merasa resah dan terancam hingga akhirnya melaporkan kejadian itu ke polisi.

"Sebenarnya teror pelemparan genting-genting ini sudah lama. Namun baru mulai tanggal 8 Desember 2023 itu baru ada buktinya," kata Najunda kepada detikJatim, Sabtu (13/1/2024).

Menurutnya, pelemparan serpihan genting sudah terjadi sejak 2022. Namun Najunda tidak mengerti pasti apa motif kerabatnya melakukan hal tersebut.

Kasus ini kemudian berujung mediasi yang difasilitasi di Balai Desa Sidodadi pada 15 Januari 2024. Dalam pertemuan tersebut, Aselar mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada korban.

"Dalam mediasi tersebut berakhir damai. Terduga pelaku pelemparan juga sudah minta maaf kepada Najunda Dahita selaku korban," kata Kanit Reskrim Polsek Taman AKP Isbahar Buamona kepada detikJatim, Selasa (16/1/2024).

Pihak korban pun menerima permintaan maaf tersebut dan sepakat menyelesaikan perkara secara kekeluargaan dengan mencabut laporan polisi.

"Saya menghargai beliau telah mengakui secara jujur, namun apa motifnya tidak dikatakan. Yang terpenting bahwa keluarga kami merasa sedikit lega karena pelaku sudah membuat perjanjian tertulis bermeterai. Kalaupun mau mengulang ya pelaku sudah mengerti konsekuensinya," imbuh Najunda.

Teror Siram Air Kencing dan Tinja (Mei 2023)

Masriah penyiram air kencing dan tinja ke tetangga bebas dari penjaraMasriah penyiram air kencing dan tinja ke tetangga bebas dari penjara Foto: Suparno/detikJatim

Puncak aksi 'unik' yang sempat bikin geram warga di Sidoarjo jatuh pada kasus teror penyiraman air kencing dan tinja. Aksi tak biasa ini dilakukan seorang perempuan berinisial Masriah (56) kepada rumah tetangganya, Wiwik, bahkan berlangsung berulang sejak 2017.

Dalam rekaman CCTV yang sempat viral, pelaku terlihat menyiramkan cairan ke area rumah korban. Aksi itu disebut terjadi hampir setiap hari, bahkan bisa mencapai tiga kali dalam sehari, hingga menimbulkan bau menyengat dan mengganggu aktivitas penghuni.

Korban mengaku sudah lama bertahan sebelum akhirnya melapor ke polisi.

"Kami sekeluarga diteror dilempari air kencing, sampah limbah rumah tangga seperti diapers, sisa makanan yang busuk. Bahkan sore kemarin dilempari air kencing dan kotoran manusia," kata Wiwik di kediamannya, Kamis (11/5/2023).

Penyebab utama aksi tersebut rupanya dipicu persoalan lama soal kepemilikan rumah. Rumah yang ditempati Wiwik diketahui awalnya milik adik Masriah. Namun karena tidak mampu membeli, rumah itu dijual ke Wiwik. Masriah disebut masih ingin memiliki rumah tersebut, sehingga berupaya membuat penghuni tidak betah. Ia pun kerap menyiram air kencing, tinja, hingga membuang sampah agar korban mau menjual rumah itu dengan harga murah.

Kasus ini kemudian ditangani aparat setelah bukti rekaman tersebar luas.

Masriah juga sempat diproses dan dinyatakan bersalah melanggar aturan ketertiban umum. Dalam putusan pengadilan, ia dijatuhi hukuman satu bulan penjara atas perbuatannya yang meresahkan warga.

Setelah menjalani masa hukuman, Masriah kemudian dinyatakan bebas pada Juni 2023 karena masa kurungannya telah selesai. Namun demikian, persoalan tidak sepenuhnya berakhir.

Setelah bebas Masriah disebut masih sempat kembali melakukan tindakan yang mengganggu lingkungan sekitar. Wike, anak Wiwik menyebut teror beralih menjadi aksi seorang laki-laki yang memukul pagar rumahnya berkali-kali dengan suara yang sangat keras.

"Terutama ibu saya kalau jalan kaki mendengar suara itu langsung lari berbirit-birit, dia bilang masih trauma dengan ulah mereka," jelas Wike, Sabtu (30/12/2023).

Sejak akhir 2023 tersebut, belum diketahui apakah Masriah telah berhasil diamankan oleh satpol PP atau belum. Pasalnya, teror masih terjadi saat Masriah dinyatakan telah bebas dari penjara.

Halaman 2 dari 2
(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads