Kampung Batik Okra Bubutan, Tiap Motif Hanya Ada di Satu Kain

Chilyah Auliya - detikJatim
Senin, 16 Mar 2026 13:45 WIB
Batik Okra Surabaya/Foto: Chilyah Aulia/detikJatim
Surabaya -

Kampung Wisata Batik Okra yang berada di Jalan Kranggan Gang VII, RW 1, Kecamatan Bubutan, Surabaya, menawarkan konsep eksklusivitas dalam produksi batik tulis. Setiap motif yang dibuat hanya diproduksi satu kain sehingga tidak ada desain yang sama.

Kampung batik ini digagas oleh purnawirawan TNI AU, Ridi Sulaksono atau yang akrab disapa Sony. Ia menjelaskan, filosofi utama yang diterapkan adalah satu motif hanya satu karya.

"Keunggulannya kita itu satu, tidak ada yang ngembarin. Semuanya satu kali bikin," tegas Sony.

Konsep tersebut membuat karya batik di Kampung Okra diminati berbagai kalangan, termasuk tokoh akademisi. Salah satu koleksinya bahkan pernah menarik perhatian Rektor Universitas Airlangga (Unair).

Nama Okra sendiri diambil dari tanaman asal Afrika yang dikenal dengan sebutan Lady's Finger. Selain itu, Okra juga merupakan akronim dari Orang Kranggan.

Bunga dan daun okra menjadi unsur wajib dalam setiap motif batik yang dibuat. Selain itu, berbagai corak juga mengangkat ikon wisata lokal seperti motif Kampung Pancasila yang menampilkan gerbang Bubutan, bintang, hingga pura, serta arsitektur Kota Lama dan kawasan Kya-Kya.

Batik Okra Surabaya Foto: Chilyah Aulia/detikJatim

Untuk menjaga kualitas, Kampung Batik Okra tidak bekerja sama dengan konveksi. Mereka memberdayakan penjahit internal agar penataan motif batik tulis tetap terjaga dan tidak rusak saat dijahit menjadi busana.

Salah satu koleksi unggulan Sony bahkan dihargai hingga Rp 8 juta dengan proses pengerjaan mencapai satu tahun.

Sony juga memiliki pandangan unik terkait proses pembuatan batik tulis. Menurutnya, dalam batik tulis tidak ada istilah produk gagal.

"Batik itu tidak ada kesalahan. Kalau ada kesalahan, akan menjadi motif," jelasnya saat ditemui detikJatim, Senin (23/2/2026).

Batik Okra Surabaya Foto: Chilyah Aulia/detikJatim

Ia mencontohkan sebuah vest yang terkena tumpahan lilin karena ia kaget saat ada tikus lewat. Tumpahan tersebut tidak dibuang, melainkan diolah menjadi motif baru yang justru menambah nilai keunikan karya tersebut.

Menurut Sony, ketidaksempurnaan seperti bekas pensil atau tumpahan lilin justru menjadi bukti keaslian batik tulis yang tidak dapat ditiru oleh batik printing.

Meski memiliki kualitas eksklusif, Kampung Batik Okra masih menghadapi kendala dalam pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Hal ini karena biaya pendaftaran yang dinilai cukup besar.

"Sekarang kita mau bikin hak cipta itu terkendala dengan uang. Kita tidak punya apa-apa, kendala kita di situ," ungkap Sony.

Salah satu pengunjung, Alya, juga memberikan kesan positif setelah berkunjung ke Kampung Batik Okra.

"Selama melakukan kunjungan ke sini, sambutannya sangat hangat. Sehingga mengetahui hal-hal tentang dunia batik yang tidak hanya dari permukaan saja."

Sony mengatakan, hingga kini pengembangan Kampung Batik Okra masih mengandalkan dukungan dari media dan mahasiswa atau yang ia sebut dengan formula 2M.

Di usianya yang masih relatif muda, ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap potensi ekonomi kreatif di kawasan Bubutan tersebut.



Simak Video " Menikmati Makan Malam Lezat di Restoran Hotel Mewah Surabaya "

(ihc/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork