Batik Ecoprint Surabaya Bertema Alam Ini Tembus ke Pasar Internasional

Batik Ecoprint Surabaya Bertema Alam Ini Tembus ke Pasar Internasional

Jihan Navira - detikJatim
Jumat, 30 Jan 2026 07:00 WIB
Batik Ecoprint Surabaya Bertema Alam Ini Tembus ke Pasar Internasional
Batik Ecoprint, produk tekstil ramah lingkungan di Kota Surabaya Foto: Raihan Mahendra/ detikjatim
Surabaya -

Di sebuah kawasan permukiman di Jalan Wisma Kedung Asem Indah, Rungkut, Surabaya, berdiri Namira Ecoprint. Usaha fashion ramah lingkungan ini mengusung tagline Handmade with Heart for Earth, selaras dengan semangatnya memproduksi kain dan busana tanpa bahan kimia.

Namira Ecoprint didirikan pada 2019 oleh Yayuk Eko Agustin. Ketertarikannya pada ecoprint bermula dari program smart city oleh Pemkot Surabaya yang mendorong setiap kampung atau RW memiliki produk unggulan untuk meningkatkan pendapatan warga.

Di sisi yang lain, pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota Surabaya ini mengaku bahwa dirinya di usianya yang tak lagi muda masih suka berkegiatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau sudah punya keinginan, saya nggak main-main. Saya harus mewujudkannya dengan sungguh-sungguh," ujar Yayuk.

Kesungguhan itu membuahkan hasil. Namira Ecoprint meraih berbagai penghargaan, di antaranya UKM Berprestasi, Inovator UKM Hijau, dan Pengusaha Berprestasi.

ADVERTISEMENT

Produknya pun menembus pasar internasional, mulai dari Kanada, Arab Saudi, Oman, Thailand, Malaysia, hingga San Francisco, Amerika Serikat.

Namira Ecoprint usaha fesyen ramah lingkungan yang mengolah alam menjadi karya. Mengusung prinsip tanpa bahan kimia, setiap kain diproduksi dengan kesabaran dan sentuhan tangan.Namira Ecoprint usaha fesyen ramah lingkungan yang mengolah alam menjadi karya. Mengusung prinsip tanpa bahan kimia, setiap kain diproduksi dengan kesabaran dan sentuhan tangan. Foto: Raihan Mahendra/ detikjatim

Berbeda dengan batik pada umumnya, batik ecoprint mengandalkan dedaunan, bunga, hingga kulit pohon sebagai pencetak motif. Seluruh proses dilakukan tanpa bahan kimia, menggunakan pewarna alami dan sisa bahan baku yang dapat didaur ulang, sehingga tidak menghasilkan residu yang merusak lingkungan.

"Dari batik ecoprint ini kita bisa melihat bagaimana alam bekerja," kata Yayuk.

Keunikan lain dari ecoprint adalah hasilnya yang tak bisa dikendalikan sepenuhnya. Faktor alam seperti jenis daun, kandungan tanin, hingga suhu sangat memengaruhi warna dan motif yang muncul. Karena itu, Yayuk tidak menerima pesanan dengan permintaan motif khusus.

"Pesanan paling banyak pernah mencapau 320 potong untuk souvenir. Meskipun pakai daun yang sama, hasilnya bisa beda. Kadang keluar biru, kadang putih, makannya saya tidak menerima pesanan dengan permintaan khusus," ujarnya.

Daun yang digunakan pun beragam, mulai dari daun jati, kedondong, eukaliptus, pohon afrika, air mata pengantin, daun dan buah kenikir, dan masih banyak lagi.

Untuk menjaga kesegarannya, bahan-bahan tersebut disimpan di dalam freezer dan hanya bisa digunakan satu kali.

Namira Ecoprint usaha fesyen ramah lingkungan yang mengolah alam menjadi karya. Mengusung prinsip tanpa bahan kimia, setiap kain diproduksi dengan kesabaran dan sentuhan tangan.Daun yang digunakan sebagai bahan Foto: Raihan Mahendra/ detikjatim

Dalam proses pengerjaan, daun disusun satu per satu di atas kain dengan pola tertentu. Tulang daun harus menempel langsung pada kain agar urat-uratnya tercetak jelas.

Setelah itu, di atas daun-daun dan bunga yang sudah disusun dilapisi kembali menggunakan kain. Kemudian, daun dipukul perlahan menggunakan palu kayu, dibungkus plastik, digulung rapat, lalu direbus dengan durasi yang tidak menentu di panci yang sangat besar.

"Kelihatannya mudah, tapi harus telaten. Salah sedikit saja, daunnya bisa tidak menempel. Kain pelapis yang digunakan juga harus berbeda jenisnya, misal kain utamanya menggunakan kain sutera, kain pelapisnya kain katun," ujar Yayuk.

Eksplorasinya tak berhenti di kain sutera dan kain katun. Yayuk juga mengembangkan ecoprint pada media kulit untuk produk tas, jaket, vest, hingga sandal. Proses ini diakuinya jauh lebih rumit dan membutuhkan banyak percobaan.

"Kalau kelamaan direbus, kulitnya bisa lembek. Kalau terlalu panas, bisa kering seperti keripik. Tapi di situ letak seninya," tutur Yayuk.

Namira Ecoprint usaha fesyen ramah lingkungan yang mengolah alam menjadi karya. Mengusung prinsip tanpa bahan kimia, setiap kain diproduksi dengan kesabaran dan sentuhan tangan.Produk dari Namira Ecoprint Foto: Raihan Mahendra/ detikjatim

Hal tersebut ia akui karena hasil cetakan dari tumbuhan yang ia gunakan tidak mengeluarkan warnanya, namun ia menyiasatinya untuk tetap membantu hasil karya alami tersebut memiliki nilai yang berharga

Namira Ecoprint juga mulai mengombinasikan ecoprint dengan teknik bordir. Hal tersebut ia akui karena hasil cetakan dari tumbuhan yang ia gunakan tidak mengeluarkan warnanya secara maksimal. Oleh karena itu, Yayuk menyiasatinya untuk tetap membantu hasil karya alami tersebut memiliki nilai yang berharga

Namira Ecoprint usaha fesyen ramah lingkungan yang mengolah alam menjadi karya. Mengusung prinsip tanpa bahan kimia, setiap kain diproduksi dengan kesabaran dan sentuhan tangan.Berbagai hasil dari Namira Ecoprint Foto: Raihan Mahendra/ detikjatim

Inovasi tersebut justru menambah nilai artistik pada setiap karya hingga Yayuk mengklaim bahwa inovasi ini menjadi pelopor bagi ecoprint bordir pertama di Indonesia.

Saat ini, Namira Ecoprint tengah menyiapkan diri untuk pameran Inacraft di Jakarta. Yayuk juga terus bereksperimen dengan warna-warna baru yang lebih berani dan mencolok, meski mengaku tidak mudah mendapatkannya. Salah satu warna biru, misalnya, ia peroleh dari bubuk kayu logwood yang didatangkan dari Thailand.

"Per 1 kilogramnya kita beli seharga Rp 2.500.000, mahal tapi hasilnya cantik," kata Yayuk.

Meski prosesnya panjang, tak jarang gagal, dan hasilnya tak pernah sama, karya-karya Namira Ecoprint tetap diminati karena nilai handmade-nya. Bagi Yayuk, setiap kain adalah kanvas yang merekam kerja alam yang unik, jujur, dan tak tergantikan.

"Ini kekayaan Indonesia yang luar biasa. Sayangnya, kadang kita sendiri kurang bangga dengan karya buatan negeri sendiri," pungkasnya.




(ihc/dpe)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads