Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bertemu dengan Minister Counsellor for Development dari Kedutaan Besar Inggris (FCDO), Peter Rajadiston di Surabaya.
Keduanya membahas percepatan berbagai proyek kerja sama internasional antara Jatim dan Inggris yang merupakan tindak lanjut konkret dari kesepakatan antara Presiden RI Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada Januari 2026.
Wagub Emil mengatakan, fokus utama pertemuan ini adalah penguatan sektor pendidikan tinggi dan modernisasi transportasi perkotaan, khususnya di wilayah Surabaya, Jawa Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Emil menyebut, di sektor infrastruktur, fokus utama pertemuan Jatim-Inggris terletak pada pengembangan sistem transportasi kereta api urban di Surabaya.
Berbeda dengan proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) yang merupakan peningkatan jalur existing, kerja sama dengan Pemerintah Inggris ini akan mengkaji pembangunan jalur kereta baru termasuk peluang membangun kereta light rail transit atau lintas raya terpadu (LRT).
"Di mana, studi-studi yang dilakukan telah mengidentifikasi rute-rute strategis yang selama ini belum terjangkau, khususnya untuk memfasilitasi mobilitas masyarakat dari wilayah Barat menuju Timur Surabaya," kata Emil, Kamis (12/3/2026).
"Tadi disampaikan hasil pertemuan juga dengan Pak Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, menunjukkan ada rute yang belum terisi selama ini. Salah satunya dari Barat ke arah Timur. Nah ini yang sudah dikaji melalui proses pembahasan yang cukup panjang," jelasnya.
Emil menjelaskan, hasil kajian teknis saat ini mulai mengerucut pada opsi penggunaan moda LRT. Pemilihan LRT dinilai paling ideal bagi karakter mobilitas di Kota Surabaya karena sistemnya yang lebih ringkas dan efisien untuk kawasan perkotaan yang padat.
Selain aspek teknis rute, pertemuan tersebut juga mendalami konsep pengelolaan transportasi aglomerasi yang terintegrasi. Di mana, konsep itu telah berjalan di wilayah Inggris.
Gubernur Khofifah Indar Parawansa bahkan disebut Emil secara khusus telah menaruh perhatian pada model Transport for London (TfL) yang sukses mengelola transportasi di wilayah Greater London. Konsep serupa ingin diadaptasi untuk wilayah Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik) agar seluruh stakeholders mulai dari KAI, Dinas Perhubungan, hingga kepolisian dapat terintegrasi dalam satu sistem manajemen yang padu.
"Yang menarik juga adalah Ibu gubernur berkomunikasi dengan TFL. Kita punya Surabaya, Sidoarjo, Gresik yang nyambung langsung. Tetapi bagaimana aglomerasi transportasi ini dikelola dengan baik Ini salah satu yang juga kita bahas," jelasnya.
Emil juga menyadari pembangunan transportasi publik berskala besar memerlukan komitmen fiskal yang kuat dan berkelanjutan. Untuk itu, ia menegaskan bahwa proyek kereta api urban tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada pihak swasta, sehingga diperlukan kajian mendalam mengenai kondisi fiskal jangka panjang, baik di tingkat pusat, provinsi, maupun kota.
"Ini masih melakukan penajaman studi teknisnya. Model pengerjaannya seperti apa ini kita ingin bahas dulu dengan pemerintah pusat karena tentu harus ada komitmen fiskal," pungkasnya.
Sementara itu, Minister Counsellor for Development dari Kedutaan Besar Inggris (FCDO), Peter Rajadiston mengatakan bahwa pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden Prabowo ke UK pada Januari lalu.
Ia mengaku sangat senang bisa bertemu dan diterima langsung oleh Wakil Gubernur Emil Dardak. Melalui pertemuan ini, ia sangat berharap agar dapat memperkuat kerjasama antara Jatim dan Inggris utamanya di sektor infrastruktur perkotaan utamanya di Kota Surabaya dan sekitarnya di Jatim.
"Saya sangat menantikan kolaborasi yang akan berlanjut untuk memastikan bahwa kita memiliki infrastruktur urban yang berkembang di Kota Surabaya dan sekitarnya," ucapnya.
