Ahli Gizi Unair Ingatkan Tak Makan Berlebihan Saat Buka Puasa

Ahli Gizi Unair Ingatkan Tak Makan Berlebihan Saat Buka Puasa

Aprilia Devi - detikJatim
Sabtu, 21 Feb 2026 16:15 WIB
Ilustrasi buka puasa
Ilustrasi buka puasa/Foto: iStock
Surabaya -

Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Agar tetap sehat selama berpuasa, pengaturan asupan dan pola makan yang seimbang menjadi kunci utama.

Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair), Mahmud Aditya Rifqi, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan waktu berbuka sebagai penggeseran waktu makan dari pagi dan siang ke malam dengan jumlah besar.

"Jangan sampai setelah berbuka justru makan berlebihan dalam waktu berdekatan. Tubuh bisa terbebani," ujar Mahmud dalam keterangannya, Sabtu (21/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, pola ideal saat Ramadan adalah satu kali makan utama setelah berbuka, sahur yang cukup, serta tambahan selingan sehat bila diperlukan.

ADVERTISEMENT

Kebutuhan cairan minimal delapan gelas per hari juga tetap harus dipenuhi dengan membaginya saat berbuka, malam hari, dan sahur.

Ia pun menyarankan konsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah agar rasa kenyang bertahan lebih lama dan energi lebih stabil selama berpuasa. Makanan berkuah dapat menjadi alternatif untuk membantu mencukupi kebutuhan cairan tubuh.

"Puasa Ramadan adalah momen ibadah, tetapi juga kesempatan memperbaiki pola makan. Kuncinya ada pada pengaturan yang seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh," jelasnya.

Lantas, apa bedanya puasa Ramadan dengan intermittent fasting? Meski sama-sama mengatur waktu makan, keduanya memiliki perbedaan mendasar dari sisi tujuan hingga aturan pelaksanaannya.

Mahmud menjelaskan, puasa Ramadan dan intermittent fasting (IF) memang sama-sama menerapkan pengaturan waktu makan atau time-restricted eating. Di Indonesia, durasi puasa Ramadan berlangsung sekitar 13-14 jam dari sahur hingga berbuka tanpa asupan makanan maupun minuman.

Sementara itu, intermittent fasting umumnya bertujuan untuk kesehatan, seperti penurunan berat badan atau perbaikan metabolisme. Polanya pun lebih beragam, mulai dari metode 16:8, 5:2, hingga one meal a day.

"Pada intermittent fasting masih diperbolehkan minum air putih atau minuman non-kalori seperti kopi tanpa gula. Sedangkan puasa Ramadan tidak boleh ada asupan makanan ataupun minuman selama waktu berpuasa," terangnya.

Dari sisi kesehatan, keduanya berpotensi meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu pengendalian gula darah. Namun, ia menekankan pentingnya tetap memenuhi kebutuhan energi minimal tubuh atau basal metabolic rate (BMR), agar tidak terjadi defisit energi berlebihan yang bisa berdampak pada penurunan massa otot.

"Pengurangan kalori sebaiknya bertahap, sekitar 300-500 kkal dari kebutuhan harian, dan tidak sampai di bawah batas minimal kebutuhan tubuh," pungkasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads