Anggapan bahwa cacingan hanya menyebabkan perut buncit pada anak-anak dipatahkan oleh pakar kesehatan Universitas Airlangga (Unair). Larva cacing diketahui bisa masuk ke aliran darah hingga bersarang di otak, memicu kista yang berisiko menyebabkan epilepsi dan penurunan kecerdasan permanen.
Fenomena ini disebut sebagai bagian dari Neglected Tropical Diseases (penyakit tropis yang terabaikan), yang seringkali luput dari perhatian karena identik dengan isu sanitasi di negara berkembang.
Banyak masyarakat salah kaprah mengira cacing dewasa merayap menuju kepala. Ahli Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr dr Windhu Purnomo mengatakan bahwa yang berpindah adalah telur atau larva melalui sistem sirkulasi tubuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukan cacingnya yang jalan-jalan ke otak, tapi telur atau larvanya yang terbawa oleh aliran darah atau kelenjar getah bening. Begitu sampai di otak, larva ini menetap, membentuk kista, dan mulai 'mengerowok' jaringan di sana," paparnya, Selasa (27/1/2026).
Kondisi ini dapat menimpa siapapun, terutama mereka yang terpapar sanitasi buruk atau mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Bahkan dampak yang paling fatal adalah munculnya kejang mendadak atau epilepsi.
Selain kejang, gejala lain yang patut diwaspadai meliputi sakit kepala hebat yang kronis, muntah proyektil, penurunan kognitif yang membuat penderita menjadi bodoh karena kerusakan jaringan saraf, maupun koma hingga kematian.
Meskipun angka kejadiannya di Jawa Timur tergolong rendah, tantangan utama penyakit ini adalah biaya deteksi. Jika cacingan biasa bisa diketahui cukup melalui tes keberadaan feses atau tinja, cacingan di otak membutuhkan penanganan medis tingkat tinggi.
"Satu-satunya cara deteksi yang tepat adalah dengan CT Scan atau MRI. Masalahnya, pemeriksaan ini tergolong mahal. Padahal, penderita cacingan biasanya adalah warga kurang mampu yang tinggal di lingkungan kumuh atau petani yang bekerja di sawah tanpa alas kaki," ungkap Windhu.
Merujuk pada data, sekitar 1 hingga 4 dari 1.000 orang penderita cacingan berisiko infeksinya naik ke otak. Sehingga, warga tidak perlu risau berlebih terutama maraknya ketakutan mengonsumsi obat cacing.
"Keluar cacing hidup-hidup setelah minum obat itu hal wajar dan lebih baik daripada cacing tersebut terus berkembang biak di dalam tubuh."
Pakar juga menyoroti tren makanan mentah seperti sushi. Menurutnya, sushi di Jepang relatif aman karena standar higienitas dan pengolahan seperti penggunaan cuka khusus yang mampu membunuh telur cacing.
Sementara di Indonesia, risiko tinggi justru datang dari lalapan mentah yang tidak dicuci bersih atau air minum yang tidak dimasak hingga mendidih.
Sebagai langkah preventif, pakar menekankan pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang serupa dengan protokol pencegahan COVID-19.
"Pencegahan masih yang utama. Jangan sampai karena lalai menjaga kebersihan, menjadi ladang tumbuhnya kista cacing di otak," pungkasnya.
(irb/hil)
