Prof Dr Jacob Elfinus (JE) Sahetapy merupakan pakar hukum Indonesia. Dari Kota Pahlawan ia mulai meniti kariernya sehingga dikenal sebagai begawan hukum.
JE Sahetapy lahir pada 6 Juni 1933 di Saparua, Maluku Tengah. Ia anak dari pasangan AA Sahetapy dan CA Lokallo Tomasowa. Sejak kecil, Sahetapy telah dididik menjadi nasionalis oleh ayahnya karena tidak senang dengan penjajahan Belanda.
Dalam buku Biografi Nasional Daerah Jawa Timur yang diterbitkan Depdikbud (1985), ayah Sahetapy membangkitkan semangat nasionalis dengan mendirikan sekolah yang diberi nama Particuliere Saparuache School (PSS).
Adapun kepala sekolahnya yakni CA Lokallo Tomasow, ibu Sahetapy. Sejak kecil Sahetapy telah menunjukkan kegemaran membaca buku berbahasa Belanda dan mengarang dengan Bahasa Indonesia.
Di sekolah yang didirikan oleh orang tuanya ini, Sahetapy hanya mengenyam pendidikan selama 4 tahun sebelum ditutup. Ini karena Jepang mulai masuk pada tahun 1942.
Pada masa Perang Dunia II, hampir semua sekolah, khususnya di Maluku ditutup. Praktis anak-anak tak bisa bersekolah. Sehingga pada masa-masa itu Sahetapy dengan teman sebayanya lebih banyak menghabiskan bermain di pantai dan mencari sagu.
Sahetapy baru bisa sekolah lagi saat perang selesai dan Republik Indonesia berdiri. Meski bisa sekolah lagi, namun situasi politik dan keterbatasan tetap dirasakan di tanah kelahiran Sahetapy.
Namun kesulitan itu sedikit terangkat karena adanya dua guru asli Saparua yang datang dari Surabaya. Salah satu guru tersebut adalah Risakotta.
Saat datang, kedua guru itu disambut dengan gembira. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Sebab agen Republik Maluku Selatan (RMS) anak buah Somoukil menangkap kedua guru tersebut. Kedua guru itu ditangkap karena dinilai mengajarkan nasionalisme dan menentang RMS.
Setelah kehilangan dua guru tersebut, sekolah kembali mengalami kesulitan. Namun Sahetapy mampu merampungkan sekolahnya pada tahun 1947. Lalu dilanjutkan dengan menempuh sekolah menengah selama 4 tahun hingga tahun 1951.
Sahetapy muda kemudian meneruskan sekolah menengah atasnya ke Kota Surabaya. Di Kota Pahlawan ini, Sahetapy masuk di SMA II Wijaya Kusuma kemudian pindah ke SMA Negeri I.
Selama di Surabaya, Sahetapy juga dikenal aktif berorganisasi. Salah satunya menjadi anggota Persatuan Pelajar Maluku. Bahkan ia pernah menjabat sebagai ketua.
(abq/sun)