Jika detikers berkunjung ke Jawa Timur, khususnya ke Kota Kediri, pemandangan deretan tahu berwarna kuning mencolok di etalase toko oleh-oleh adalah hal yang tak mungkin terlewatkan.
Berbeda dengan tahu putih pada umumnya yang bertekstur lembut dan rapuh, tahu khas Kediri yang dikenal sebagai Tahu Takwa memiliki tekstur yang lebih padat, kenyal, dan tentu saja, warna kulit kuningnya yang ikonik.
Namun, pernahkah detikers bertanya-tanya, mengapa tahu ini harus berwarna kuning? Apakah sekadar estetika, atau ada fungsi khusus di baliknya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata, di balik warna terangnya, Tahu Takwa menyimpan sejarah panjang akulturasi budaya Tiongkok dan Jawa, jejak pasukan Kubilai Khan, hingga rahasia pengawetan alami yang menyehatkan. Simak perjalanan sejarah kuliner legendaris ini.
Jejak Sejarah Tahu
Dikutip dari Buku berjudul "Dapur Naga di Indonesia" yang ditulis oleh Suryatini N. Ganie, tahu memiliki sejarah panjang di tempat asalnya, kurang lebih sejak 300 tahun yang lalu. Teknologi pembuatan tahu menyebar secara cepat ke Jepang, Korea, dan Asia Tenggara. Meskipun hanya merupakan salah satu dari produk kacang kedelai, Tahu sangat diminati konsumen secara umum.
Di Indonesia, Tahu konon dibawa dari Tiongkok, namun spesifik waktunya belum dapat dipastikan. Masyarakat Kediri mengklaim bahwa Kediri adalah kota pertama di Indonesia yang mengenal tahu, dibawa oleh tentara Kubilai Khan pada tahun 1292.
Menurut Babad Tanah Jawa, Kubilai Khan memaksa Raja Kertanegara dari Singosari membayar upeti padanya. Tetapi, permintaan itu ditolak oleh raja dan menganiaya perwakilan khusus Khan yang dikirim ke Jawa pada tahun 1289. Kubilai Khan marah dan mengirim 20.000 tentara untuk membalas dendam. Saat pasukan itu tiba pada tahun 1292, ternyata Raja Jayakatwang dari Kediri telah menaklukkan Singasari dan membunuh Raja Kertanegara.
Menantu Raja Kertanegara (Raden Wijaya), bersumpah akan membalas dendam. sebuah keberuntungan baginya pasukan Mongol mampir di Surabaya, dan di sana mereka berjanji untuk bekerjasama menaklukkan Raja Jayakatwang.
Kapal-kapal Mongol dialihkan ke Sungai Brantas menuju Kediri. Setelah pertempuran panjang, Raden Wijaya keluar sebagai pemenang. Tidak sampai disitu, Ia bahkan berbalik melawan tentara Mongol, konon sebagian dari mereka melarikan diri ke arah utara. Kemudian Raden Wijaya akhirnya mendirikan kerajaan Majapahit yang berjaya sampai abad 15.
Di Kediri sampai hari ini masih ada tempat berlabuhnya jung-jung Mongol yang umum disebut Jung Biru. Armada ini mempunyai jung-jung khusus untuk mengurus makanan para tentara, termasuk tempat khusus untuk menyimpan kecang kedelai dan membuat tahu. Dari situlah Kediri mengenal Tahu yang hingga sekarang diperjualbelikan dengan beragam macam jenisnya.
Kediri sangat bangga dengan sejarah tahu ini hingga menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-1123 kota itu sebuah tahu sebesar 500 kilogram dibagikan ke beberapa lembaga sosial. Foto tahu tersebut masih tersimpan rapi di Museum Muri Semarang.
Tahu Takwa atau Tahu Kuning
Dilansir dari laman resmi Pemkot Kediri, dulu di wilayah Kediri sekitar tahun 1900-an belum ada orang yang membuat tahu. Ketika warga Tiongkok membandingkan tekstur air Kediri dan Tiongkok sama, mereka tertarik untuk memproduksi tahu disana.
Dalam sejarah Chu Ku Fei dari China, awalnya warga Tiongkok hanya membuat tahu berwarna putih. Namun, melihat Kota Kediri indentik dengan bangunan nuansa kuning di sepanjang jalan, dibuatlah tahu kuning atau juga disebut tahu Takwa sebagai simbol hubungan keduanya.
tahu takwa bahkacung Foto: Andhika Dwi Saputra |
Nama tersebut diambil dari suku hokkian yang bernama Kwa, sehingga dengan peleburan logat Tiongkok ke Jawa penyebutannya menjadi Takwa.
Dilansir dari laman detikJatim, Gus Barok (pengamat sejarah Kediri) mengatakan tahu takwa Kediri memang menjadi makanan khas Kediri. Yang menjadi pembeda dengan tahu yang lain adalah diberi kunyit untuk mengawetkan tahu. Karena kunyit tersebut, tahu menjadi berwarna kuning. Tahu takwa juga bisa bertahan lebih lama sehingga bisa dibawa kemana-mana, selain itu juga memiliki khasiat untuk mengobati penyakit pencernaan tanpa mengganggu lambung.
Proses dan Manfaat Tahu Kuning
Proses pembuatan tahu kuning harus dilakukan dengan hati-hati, harus ada kesamaan karakteristik air. Pembuatan dengan cara kuno menggunakan peralatan kayu dan batu manual dengan tenaga manusia, diyakini dapat menghasilkan rasa tahu yang lebih gurih dan menghasilkan tahu berkualitas yang diminati banyak orang.
Tahu Takwa Kediri Foto: Andhika Dwi Saputra |
Dilansir dari laman DPMPTSP Kota Kediri, Tahu Kuning memiliki banyak manfaat, salah satunya yaitu menurunkan resiko penyakit jantung, karena protein nabati yang terkandung dalam kedelai dan minyak tumbuhan yang baik dapat menurunkan kadar kolesterol dan mencegah penyumbatan jantung.
Selain itu juga dapat mencegah kanker dan hasil fermentasi nya juga meningkatkan pembentukan vitamin K yang mencegah pendarahan dan terdapat kandungan insulin yang dapat menurunkan kadar gula darah. Kandungan curcumin pada kunyit juga mengandung anti-iflimasi alami dan meningkatkan neurotropic untuk mencerdaskan otak.
Kini, Tahu Takwa telah menjadi identitas tak terpisahkan dari Kota Kediri. Perpaduan rasa gurih, tekstur padat, serta manfaat medisnya bagi pencernaan dan jantung menjadikannya oleh-oleh yang wajib dibawa pulang. Menikmati sepotong Tahu Takwa, sejatinya kita sedang menikmati sepotong sejarah nusantara yang kaya rasa dan cerita.
Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(ihc/hil)


