Gubes Unair Sebut Pasien Infeksi Penyebab Kanker Lambung-Maag Surabaya Rendah

Gubes Unair Sebut Pasien Infeksi Penyebab Kanker Lambung-Maag Surabaya Rendah

Esti Widiyana - detikJatim
Rabu, 31 Agu 2022 13:16 WIB
Helicobacter pylori
Bakteri (Foto: Infografis detikcom/Denny)
Surabaya -

Penyakit gastritis (Maag), ulkus peptikum, limfoma lambung dan kanker lambung muncul dikarenakan adanya helicobacter pylori. Helicobacter pylori ini bakteri yang hidup berkoloni pada lambung manusia dan telah terbukti menjadi agen penyebab maag, ulkus peptikum, limfoma lambung dan kanker lambung.

Ahli dan Spesialis Penyakit Dalam, Prof dr Muhammad Miftahussurur MKes SpPD-KGEH PhD FINASIM mengatakan, pada tahun 1982 ditemukan bakteri helicobacter pylori oleh peneliti dari Australia. Dulu, seluruh dokter di dunia berpikir sakit maag atau gastritis, tukak lambung dan kanker lambung disebabkan masalah obat-obatan, diet dan gaya hidup.

Saat menemukan bakteri ini, ketiga penyakit ini menjadi entitas infeksi. Hampir semua penelitian menyebutkan, jika helicobacter pylori diindikasi dan dibunuh lebih awal, kemungkinan kanker lambung bisa dicegah.

"Kenapa bakteri ini bisa mengakibatkan kanker lambung? Karena ini mempunyai kemampuan untuk melawan keasaman lambung dengan urease, suatu enzim yang dimiliki H. pylori. Maka kolonisasi bisa hidup lama, akhirnya muncul inflamasi dan terjadi pembengkakan atau suatu perubahan di dalam lambung. Lama kelamaan lambung terjadi inflamasi dan capek, akhirnya sel lambung mengecil atau hilang, dan digantikan sel kanker," kata Prof Miftah kepada detikJatim, Rabu (31/8/2022).

"Oleh karena itu urutannya sakit maag yang berlangsung lama, berubah menjadi gastritis atrofi, hilang selnya, kemudian menjadi metaplasia berubahnya sel kelenjar menjadi sel pipih menjadi kanker," tambah pria yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Dalam FK Unair.

Pria yang juga Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Digitalisasi dan Informasi Unair ini menjelaskan banyak risiko memicu adanya bakteri helicobacter pylori. Pada tahun 2015-2018 pihaknya meneliti, jika orang-orang yang minum dari air PDAM risiko lebih rendah dari pada minum air sumur atau sungai.

"Ada teori higiene hipotesis. Orang yang lahir di dalam lingkungan yang kumuh, maka akan lebih sulit terkena penyakit alergi daripada hidup di lingkungan bersih. Kalau di daerah kumuh infeksi yang lebih menonjol, daerah terlalu bersih alergi menonjol. Itu menjadi faktor risiko tertentu," jelasnya.

Ada hal yang menarik, saat dia meneliti helicobacter pylori di Indonesia. Ditemukan bahwa etnik dan kerentanan individu menjadi salah satu faktor risiko utama infeksi helicobacter pylori.

"Dalam penelitian kami yang sedang proses publikasi, didapatkan 4 etnik utama, Batak, Bugis, Papua, Timor punya risiko yang jauh lebih tinggi, bisa 20x lipat dari orang keturunan Melayu," ujarnya.

Misalnya, lanjut dia, Melayu Jawa, Sunda, Sumatera sangat rendah. Bahkan 0%, bahkan Aceh 0% tidak ada infeksi helicobacter pylori di sana, Sunda 0%, Jawa 0,28%, Batak 40%. Dari 100 orang diperiksa 2-3 positif kalau orang Jawa, Chinnese Surabaya 18%.



Simak Video "Maling Motor di Surabaya Gentayangan, Nih Buktinya!"
[Gambas:Video 20detik]