Penurunan Angka Kemiskinan Jatim Tertinggi di Indonesia

Faiq Azmi - detikJatim
Rabu, 19 Jan 2022 19:37 WIB
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kembali meraih penghargaan tingkat nasional. Kali ini ia menerima penghargaan dalam Baznas Award 2022 di Ballroom The Sultan Hotel & Residence, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (17/1).
Gubernur Khofifah/Foto: Istimewa
Surabaya -

Gubernur Khofifah Indar Parawansa kembali membuktikan keberhasilannya dalam memimpin Jatim. Keberhasilan itu dibuktikan dengan penurunan angka kemiskinan, yang tertinggi se-Indonesia periode Maret hingga September 2021.

BPS mencatat, penurunan angka kemiskinan Jatim pada periode tersebut mencapai 313,13 ribu jiwa. Penurunan itu berhasil mengoreksi angka kemiskinan Jatim dari 4,57 juta jiwa atau 11,40 persen menjadi 4,25 juta jiwa atau 10,59 persen.

Khofifah mengungkapkan, dengan penurunan kemiskinan tertinggi se-Indonesia, Jatim mampu berkontribusi terhadap penurunan angka kemiskinan nasional sebesar 30,13 persen. Secara nasional, penurunan angka kemiskinan mencapai 1,03 juta jiwa dari total penduduk miskin di Indonesia mencapai 26,5 juta jiwa.

"Penurunan angka kemiskinan di perkotaan ini patut kita syukuri bersama. Sebab, tahun lalu mulai Maret 2020 sampai Maret 2021 angka kemiskinan di perkotaan ini terus mengalami peningkatan, meski kemiskinan di perdesaan sempat mengalami penurunan. Secara periode Maret 2021 hingga September 2021, angka kemiskinan di Jatim turun 0,81 persen," kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Rabu (19/1/2022).

Menurut Khofifah, capaian ini patut disyukuri di tengah berbagai tekanan akibat gelombang kedua pandemi COVID-19. Terlebih, penurunan angka kemiskinan ini juga diikuti dengan menipisnya disparitas angka kemiskinan di perkotaan dan pedesaan. Di perdesaan, penurunan angka kemiskinan terjadi dari 15,05 persen menjadi 13,79 persen atau terkoreksi minus 1,26 poin. Sedangkan di perkotaan, angka kemiskinan turun dari 8,38 persen menjadi 7,99 persen atau terkoreksi minus 0,39 persen.

Dengan penurunan angka kemiskinan di perdesaan dan perkotaan, Khofifah menegaskan, disparitas angka kemiskinan semakin mengecil antara keduanya. Yakni turun dari 6,67 persen pada Maret 2021 menjadi 5,8 persen pada September 2021.

Lebih lanjut Khofifah menjelaskan, penurunan angka kemiskinan di Jatim juga diikuti dengan penurunan indeks kedalaman kemiskinan (P1) dari 1,841 di bulan Maret 2021 menjadi 1,576 di bulan September 2021. Sedangkan indeks keparahan (P2) kemiskinan turun dari 0,429 pada Maret 2021 menjadi 0,327 pada September 2021.

Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama ini menjelaskan, penurunan angka kemiskinan juga selaras dengan menurunnya ketimpangan berdasarkan indeks gini ratio. Pada periode yang sama, gini ratio Jatim turun 0,010 poin dari 0,374 menjadi 0,364. Seperti halnya angka kemiskinan, gini ratio di perdesaan dan perkotaan juga sama-sama mengalami penurunan. Gini ratio di perkotaan turun dari 0,387 persen menjadi 0,379 persen. Sedangkan gini ratio di perdesaan menurun dari 0,324 persen menjadi 0,319 persen.

"Capaian yang telah baik ini harus terus diikhtiari dengan sungguh-sungguh untuk mengupayakan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sehingga, gini ratio akan terus menipis dan mengurangi ketimpangan pengeluaran masyarakat," tutur Khofifah.

Khofifah menegaskan, berbagai upaya yang telah dilakukan untuk percepatan pengentasan kemiskinan di Jatim tentu berseiring dengan berbagai program perlindungan sosial dan berbagai bansos dari pemerintah pusat, kerja keras dari bupati/wali kota serta sinergitas dari berbagai instansi vertikal, lembaga keuangan dan dunia usaha disertai kerja keras semua warga dan tim Pemprov Jatim.

"Di antara sinergi yang kami lakukan adalah dengan terjun langsung ke masyarakat bersama Forkopimda dan berbagai instansi vertikal di Jatim. Kami biasa terjun langsung ke daerah, dengan gowes pemulihan ekonomi misalnya. Pemprov bersama Forkopimda, Bank Indonesia, OJK, BPN, Himbara, Bank Jatim dan instansi vertikal lainnya bersama Forkopimda kabupaten kota saling memberi penguatan," tutur Khofifah.

Dalam gowes pemulihan ekonomi tersebut, berbagai bantuan seperti Jatim Puspa, Desa Berdaya, Bantuan Langsung Tunai, Sertifikat Gratis (PTSL), Elektrifikasi, Santunan Kematian COVID, BPJS Ketenagakerjaan, paket sembako dan berbagai program Pemprov telah disalurkan. "Alhamdulillah semua berdampak positif terhadap percepatan pemulihan ekonomi., terbukti kemiskinan Jawa Timur penurunannya terbanyak se Indonesia" kata Gubernur Khofifah.

Program intervensi lainnya melalui Jatim Puspa (Pemberdayaan Usaha Perempuan), Pemprov mengalokasikan anggaran sebesar Rp 15,606 miliar untuk stimulan modal usaha produktif senilai Rp 2,5 juta per keluarga penerima manfaat (KPM). Program tersebut menjangkau 5.294 KPM di 175 Desa pada 30 kabupaten/ kota se Jatim. Sedangkan Desa Berdaya diberikan sebagai reward kepada desa yang telah mampu meningkatkan kapasitasnya menjadi Desa Mandiri. Masing-masing Desa Mandiri mendapatkan reward sebesar Rp 100 juta untuk 151 Desa Mandiri di 24 kabupaten dan Kota Batu.

"Program-program pemulihan ekonomi yang sudah berjalan ini sesungguhnya membuktikan bahwa ikhtiar kita untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sudah on the track dan selaras dengan penurunan angka kemiskinan," pungkas Khofifah.



Simak Video "BPS Ungkap Ada 27,54 Juta Penduduk Miskin di Indonesia pada Maret 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/sun)