Komunitas Kota Toea Magelang menggelar acara Djeladjah Spoor #8 dari Stasiun Secang menuju Payaman, Kabupaten Magelang. Jalur itu termasuk penting karena menjadi titik persimpangan tiga wilayah antara mulai dari Magelang hingga Ambarawa.
"Djeladjah Spoor #8 ini kami mengambil rute dari Stasiun Secang menuju ke Stasiun Payaman dengan berjalan kaki sejauh kira-kira 5 km," kata Pegiat Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana, kepada detikJateng di sela-sela acara, Minggu (20/9/2026).
"Stasiun Secang itu kan menjadi titik persimpangan tiga wilayah. Antara Magelang-Jogja, terus Parakan-Temanggung, dengan Ambarawa-Semarang. Istilahnya simpang tiga dari tiga wilayah itu," sambung Bagus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagus menerangkan, keberadaan Stasiun Secang posisinya sangat penting utamanya untuk mengangkut hasil bumi waktu itu dari Parakan, Temanggung, maupun Magelang.
"(Stasiun Secang) Posisinya sangat penting sekali, terutama untuk mengangkut hasil bumi dari wilayah Temanggung, Parakan, Magelang yang dibawa misalnya ke Pelabuhan Semarang. Terutama komoditas kopi," imbuh Bagus.
"Terus berikutnya bagi wilayah Magelang, jalur Secang ini kan terhubung dengan Ambarawa. Di mana Magelang menjadi pusat pertahanan militer Belanda, termasuk di Ambarawa ada Benteng Pendem, Fort Willem I. Itu kan menjadi basis militer Belanda di Ambarawa, sehingga bisa dikatakan perkeretaapian itu untuk mengangkut, salah satunya mengangkut personel militer yang melintas Magelang, Ambarawa, dan sekitarnya," ujar Bagus.
Bagus memerinci, hasil bumi lain yang diangkut lewat rel Secang-Payaman ini antara lain tembakau hingga beras.
"Itu paling pokok di situ (Stasiun Secang). (Stasiun Payaman) Itu komoditas besar di situ ya padi. Sama Payaman untuk tempat wisata (menuju) Kalibening. Tempat wisata Kalibening itu di zaman Belanda menjadi salah satu tempat rekreasi favorit masyarakat," ujarnya.
"Orang-orang dari Magelang, dari Ambarawa, mereka naik kereta api. Misalnya kalau mau ke Kalibening, turunnya di Payaman. Terus kaitannya dengan syiar Islam, yaitu tahun 1937 kan ada Masjid Agung Payaman, di situ ada kiai ternama namanya Kiai Haji Siradj. Dia kan terkenal di masa-masa perjuangan, termasuk ketika zaman itu," tambahnya.
Bagus menuturkan, secara fisik untuk Stasiun Secang bangunan induknya masih terjaga, termasuk Stasiun Payaman.
"Tetapi, untuk keseluruhan seperti rel, ya kita ketahui bersama sudah ada yang jadi permukiman, jalan kampung. Terus ada yang tertutup menjadi sawah, menjadi kebun. Jadi perubahannya sangat bervariasi," ujar dia.
Suasana Djeladjah Spoor #8 yang diadakan Komunitas Kota Toea Magelang dari Stasiun Secang menuju Stasiun Payaman, Minggu (20/9/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
Adapun dalam Djeladjah Spoor kali ini titik kumpul di Stasiun Payaman. Kemudian naik angkutan menuju Stasiun Secang, terus memulai kaki menuju Stasiun Payaman.
"Seri ke-8 ini pertama kali diadakan dalam rangka memperingati Hari Kereta Api Indonesia. Kereta Api Nasional, yang jatuh tanggal 28 September," kata Bagus.
"Dari seri-seri sebelumnya kami memang lebih fokus ke wilayah Magelang Kota dan Kabupaten dan Temanggung, serta Ambarawa. Jadi, kalau yang seri pertama itu kami lakukan pada tahun 2011," imbuh Bagus.
Rute seri sebelumnya yang pernah dilakukan, kata Bagus, dari Secang ke Candi Umbul (wilayah Grabag), Bedono (Jambu Kabupaten Semarang) ke Candi Umbul, Bedono-Ambarawa (Kabupaten Semarang), Secang ke Kranggan (Temanggung dan Mertoyudan-Blabak (Kabupaten Magelang).
"Hari ini, seri 8 dari Secang ke Payaman. Kami ingin menelusuri jejak-jejak sejarah perkeretaapian di wilayah Magelang yang sudah berusia ratusan tahun. Mulai 1903 sampai 1907, termasuk juga dari jalur Magelang ke Secang tahun 1900-an," ujarnya.
"Di mana kondisi saat ini sudah banyak perubahan. Ada menjadi jalan kampung, area persawahan, ladang, pabrik dan macam-macam. Kami dengan jejak-jejak itu ingin menyampaikan ke teman-teman bahwa Magelang menjadi sebuah bagian sejarah penting perkeretaapian di Indonesia. Walaupun sudah berhenti operasional sejak tahun 1976," tambah Bagus membeberkan.
Bagus melanjutkan, dalam jelajah kali ini, para peserta mengaku terkesan karena dibawa masuk ke lokasi selokan air di atas bekas rel.
"Karena kondisi rel itu di atas tanah, ketinggian sekitar 5 sampai 10 meter, sehingga untuk membuang air dari sisi yang lebih tinggi ke rendah dibuatlah terowongan. Yang di mana terowongan ini juga selama kami mengadakan event ini juga baru pertama kali ini kami temui," tuturnya.
"Sehingga tadi kami mencoba untuk memberikan pengalaman seru kepada peserta melewati terowongan itu. Rupanya teman-teman asyik, menikmati betul dengan proses perjalanan," tambahnya.
Bagus memaparkan ada 45 orang yang mengikuti Djeladjah Spoor #8. Mereka datang dari Purworejo, Jogja, Demak, Tangerang, Purwokerto, Solo dan Magelang.
"Yang daftar 50 orang, tapi tadi ada 45 orang. Ada yang dari Purworejo, Jogja, Demak, Tangerang, Purwokerto, termasuk Magelang. Jadi menurut kami ini menarik juga, karena acara ini bisa menjadi daya tarik edukasi sejarah terkait dengan perkeretaapian," lanjut Bagus.
"Bahwa sebenarnya di Magelang ini kalau tentang wisata sejarah itu sangat menarik untuk digarap. Untuk dijadikan sebagai hal yang bisa disampaikan ke masyarakat," lanjut Bagus.
Salah satu peserta, Rafandra Matalino Hugio Pradana (11), tercatat sebagai partisipan termuda. Siswa kelas 5 SD warga Treko, Mungkid itu datang bersama ayahnya, Ludang Tobriyono (38).
"Aku pecinta kereta. Acara kayak gini cocok buat aku. Tadi asyik, kayak banyak tantangan. Terus, tadi masuk terowongan, sama di Stasiun Secang," kata Hugio.
"Saya suka kereta. Di rumah mainan kereta," ujarnya.
Suasana Djeladjah Spoor #8 yang diadakan Komunitas Kota Toea Magelang dari Stasiun Secang menuju Stasiun Payaman, Minggu (20/9/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
Hal senada disampaikan peserta dari Demak, Roni Cemplon (37). Ia mengaku berangkat sendirian dari Demak sekitar pukul 05.00 WIB.
"Dengan mengikuti acara ini saya mendapat banyak pelajaran tentang perkeretaapian di area Magelang. Bisa mengungkap kembali di tahun tersebut, kapan dibuatnya, terus tujuan dan fungsinya untuk apa," ujar Roni.
"Dari jalurnya sangat ekstrem, menantang dan untuk kesehatan bagus sekali. Tadi berangkat jam 5 sendiri. Untuk Djeladjah sudah empat kali ikut. Pertama ikut 2017 saat rute Mertoyudan-Blabak, terus 2018 rute Secang-Kranggan. Tadi yang terkesan lewat jalur terowongan," tambah dia.
Peserta lainnya, Eni Lestari (49), bersama putrinya, Zahra Lestari (23) datang dari Tangerang. Menurutnya, keikutansertaannya karena suka dengan sejarah.
"Karena saya suka sejarah dan ingin menelusuri masa lalu seperti apa. Kami berangkat dari Tangerang, Sabtu (19/9) pagi terus sore sini. Baru sekali ikut, tahu dari Instagram Kota Toea," tambahnya.
"Rute Payaman-Secang terkesan masuk terowongan. Ya seru saja, menantang, terus kondisi bangunannya masih kokoh sudah ratusan tahun," kata Eni.
Hal lain dialami Wahyu Nugroho (57). Ia sejak tahun 1972 hingga sekarang tinggal di eks rumah dinas Kepala Stasiun Payaman. Orang tuanya dulunya menjadi Kepala Stasiun Payaman.
"Saya sempat mengalami rel aktif. Begitu ada kejadian di Blondo sudah (rusak) terakhir sekali. Waktu dulu bapak meninggali (menempati) tempat ini, saya sampai sekarang. Sekarang meninggali rumah ini sebagai penyewa umum," kata Wahyu.
"Walaupun sebelumnya sebagai pensiunan janda. Memang beda-beda tarifnya. Kalau bapak pensiun masih murah banget per bulan sewanya sekitar Rp 200 ribu, janda pensiun naik, tapi masih di bawah Rp 1 juta. Terus, sekarang hampir Rp 5 juta per tahun. Luas tanah 657 meter persegi. Sampai sekarang kita menempati mulai tahun 1972, Alhamdulillah nyaman, lingkungan juga nyaman," ujarnya seraya memperlihatkan topi Kepala Stasiun milik orang tuanya.


