Uniknya Kali Odo Hanya Mengalir Saat Kemarau, Pakar Undip: Anomali Hidrologi

Uniknya Kali Odo Hanya Mengalir Saat Kemarau, Pakar Undip: Anomali Hidrologi

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Sabtu, 29 Agu 2026 16:06 WIB
Potret Kali Odo di Dusun Karangnongko, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jumat (28/8/2026) sore.
Potret Kali Odo di Dusun Karangnongko, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jumat (28/8/2026) sore. Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng
Semarang -

Sungai atau Kali Odo di Dusun Karangnongko, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang punya keunikan tersendiri karena mata airnya mengalir saat musim kemarau dan kering saat musim penghujan. Pakar menyebut hal ini dapat terjadi karena anomali hidrologi.

Guru Besar Keairan Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Prof Dr Ir Ign Sriyana MS, IPU, APEC Eng menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan anomali hidrologi dan memang sebenarnya tidak lazim ditemui.

"Dalam ilmu hidrologi dan hidrogeologi, fenomena ini disebut sebagai anomali hidrologi," kata Prof Sri, sapaan akrabnya saat ditemui detikJateng di Semarang, Sabtu (29/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena dari hasil pantauan di lapangan terjadi fenomena yang tidak lazim di mana pada saat musim hujan volume air tanah tersebut airnya mengecil bahkan tidak mengalir, namun alirannya justru membesar saat musim kemarau," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Prof Sri menerangkan ada beberapa faktor yang dapat menciptakan anomali hidrologi sebagaimana yang terjadi di Kali Odo. Dugaan pertama yakni pengaruh waktu jeda aliran atau lag time.

"Air hujan memerlukan waktu untuk meresap atau melakukan infiltrasi melewati zona tidak jenuh air atau vadose zone, sebelum akhirnya mencapai zona jenuh air atau aquifer," terang Prof Sri.

Dijelaskannya bahwa akuifer merupakan lapisan tanah atau batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan air dalam jumlah besar. Lapisannya biasanya terdiri dari material berpori seperti pasir, kerikil, atau batuan retak sehingga air dapat mengalir dengan mudah.

"Akuifer dapat dibedakan menjadi dua jenis utama, yaitu akuifer bebas dan akuifer tertekan. Akuifer bebas berada dekat dengan permukaan tanah, sedangkan akuifer tertekan berada di bawah lapisan kedap air sehingga airnya lebih terlindungi," ujar Prof Sri.

Saat musim hujan, air hujan baru mulai meresap di dalam tanah, namun tidak bisa langsung mencapai lapisan akuifer yang dalam atau akuifer tertekan dalam waktu singkat. Prof Sri menuturkan faktor penyebabnya bisa karena kondusivitas hidrolik lapisan tanah atasnya yang lambat.

"Jika akuifer tersebut berada sangat dalam atau memiliki lapisan tanah atas dengan konduktivitas hidrolik yang lambat, air belum terkumpul pada sumur atau mata air," ungkap Prof Sri.

Guru Besar Keairan Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Prof Dr Ir Ign Sriyana MS, IPU, APEC Eng.Guru Besar Keairan Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Prof Dr Ir Ign Sriyana MS, IPU, APEC Eng. Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng

Proses air hujan tiba hingga ke lapisan akuifer dalam bisa saja selesai pada saat kemarau tiba. Menurut Prof Sri, hal inilah yang bisa membuat mata air baru mengalir saat musim kering.

"Saat musim kemarau air yang meresap selama berbulan-bulan sepanjang musim hujan baru saja tiba dan berkumpul di lapisan akuifer dalam. Akibatnya, debit atau aliran air tanah justru memuncak saat di permukaan sudah memasuki musim kemarau," papar Prof Sri.

Faktor kedua anomali hidrologi yang bisa terjadi di Kali Odo yakni pengaruh karakteristik sistem akuifer karst atau batuan kapur. Hal ini dapat terjadi bilamana di wilayah Kali Odo didominasi oleh batuan kapur atau topografi karst.

"Pengaruh ini mungkin terjadi karena sifat lorong bawah tanah dari topografi karst. Di dalam batuan karst, air mengalir melalui jaringan sungai bawah tanah dan gua," kata Prof Sri.

Ia menjelaskan bahwa beberapa sistem gua memiliki struktur menyerupai siphon atau pipa melengkung. Efek siphon akan muncul saat air telah terkumpul dengan ketinggian tertentu di dalam rongga batuan.

"Air harus terkumpul hingga ketinggian tertentu di dalam rongga batuan sebelum efek siphon terpicu dan mengalirkan air dalam jumlah besar," ujar Prof Sri.

Proses pengumpulan airnya juga bisa memakan waktu sepanjang musim penghujan. Sehingga efek siphon baru muncul ketika musim kering tiba.

"Proses pengumpulan ini seringkali memakan waktu selama musim hujan, dan baru mengalir deras setelah mencapai titik puncak di musim kemarau," papar Prof Sri.

Faktor lain yang mungkin terjadi dalam anomali hidrologi yakni pengaruh tekanan hidrolik air permukaan dan pumping test. Menurut Prof Sri, air permukaan di sebuah sungai atau danau dengan air tanah dapat berhubungan dan memicu anomali.

"Saat musim hujan level air permukaan sungai atau limpasan banjir meningkat drastis. Hal ini kadang menciptakan tekanan hidrolik yang menahan keluarnya air tanah pada titik-titik mata air tertentu (gaining-losing stream interaction), atau membuat air tanah terjebak," papar Prof Sri.

"Namun ketika musim kemarau, level air permukaan menyusut drastis, sehingga menurunkan tekanan balik. Hal ini memicu pelepasan air tanah secara masif dari area tangkapan air (recharge area) yang letaknya jauh menuju titik keluar yang tekanannya lebih rendah," sambungnya.

Faktor terakhir yang mungkin terjadi yakni pengaruh antropogenik atau intervensi dari manusia. Prof Sri menjelaskan bahwa faktor ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas manusia di sekitar mata air.

"Di antaranya akibat pola pompa bersama, yaitu pada musim hujan, para petani atau industri di sekitar wilayah tersebut biasanya mengandalkan air hujan dan mematikan sumur bor mereka," terang Prof Sri.

"Namun jika ada anomali penggunaan misalnya ada sistem drainase besar yang menyedot air tanah saat hujan agar tidak banjir, debit air lokal bisa mengecil. Sebaliknya, regulasi pengisian kembali atau artificial recharge yang berhasil di hulu sering kali baru berdampak pada peningkatan debit di hilir saat kemarau tiba," tambahnya.

Setelah mencermati pengamatan detikJateng di lokasi dan pernyataan warga setempat bahwa Kali Odo akan kering total saat musim kemarau dan anomali ini sudah berlangsung sejak dulu kala, Prof Sri menduga kuat dari keempat faktor tersebut ada dua yang paling memungkinkan.

"Kemungkinan besar terjadi karena pengaruh waktu jeda aliran atau lag time. Tetapi jika memang di wilayah tersebut didominasi oleh batuan kapur, maka pengaruh karakteristik sistem akuifer karst juga sangat mungkin menjadi penyebab anomali hidrologi di Kali Odo," kata Prof Sri.

Prof Sri juga berpesan kepada masyarakat setempat untuk bisa menjaga dan memperluas daerah resapan di Kali Odo sebagai langkah penting dalam pengelolaan sumber daya air.

"Daerah resapan adalah wilayah yang berfungsi sebagai tempat masuknya air ke dalam tanah. Kawasan ini biasanya berupa hutan, lahan terbuka, atau area dengan vegetasi yang masih alami," ujar Prof Sri.

"Upaya seperti penghijauan, pembuatan sumur resapan, dan pengurangan penggunaan beton dapat membantu meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah," pungkasnya.



(alg/ahr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads