Unik! Sungai di Semarang Ini Air Hanya Mengalir Saat Kemarau

Unik! Sungai di Semarang Ini Air Hanya Mengalir Saat Kemarau

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Sabtu, 29 Agu 2026 14:05 WIB
Potret Kali Odo di Dusun Karangnongko, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jumat (28/8/2026) sore.
Potret Kali Odo di Dusun Karangnongko, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jumat (28/8/2026) sore. Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng
Semarang -

Saat musim kemarau panjang tiba, persoalan kekeringan dan kebutuhan akan air bersih menjadi momok tersendiri bagi masyarakat di berbagai wilayah. Namun hal itu rupanya tidak pernah dirasakan oleh warga di sekitar Kali Odo.

Pasalnya, sungai atau Kali Odo di Dusun Karangnongko, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang justru mengalir deras saat musim kemarau dan akan kering saat musim penghujan tiba.

Pengurus Wisata Kali Odo, Agung Sulistiono mengatakan fenomena tersebut sudah terjadi sejak dahulu kala. Ia mengistilahkan air yang keluar saat musim kemarau dari Kali Odo merupakan air penolong bagi warga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari buyut-buyut, sepuh-sepuh, memang dari dulu kita disuruh ngambil air itu ya pas musim kemarau aja, karena kita kan kesusahan air di bulan kemarau," kata Agung saat ditemui detikJateng di lokasi, Jumat (28/8/2026).

ADVERTISEMENT

"Kalau dari desa yang atas kita ngambilnya di sini, desa mana pun sering ngambil di sini buat dibawa ke desanya kayak air tolongan," tambahnya.

Menurut kepercayaan warga setempat, Agung menjelaskan Kali Odo punya tujuh mata air yang akan mati saat musim penghujan tiba. Penandanya yakni saat ada hujan disertai petir.

"Kalau sumbernya orang dulu bilang tujuh tuk (mata air) yang bisa ngeluarin air. Kalau bulan penghujan airnya mati, keluarnya di bulan kemarau aja," ujar Agung.

"Begitu ada hujan petir, besoknya kita ke sini langsung hilang (airnya). Surut benar-benar nggak ada air lagi sama sekali, kering," tambahnya.

Menjelang musim kemarau, menurut Agung, warga setempat juga punya tradisi membersihkan sungai. Sampah-sampah yang menumpuk saat sungai kering akan dibersihkan.

"Setiap kali tradisinya warga sini itu memang sebelum mata air keluar, kita ngadain namanya bersih kali. Jadi kayak dibersihin semua dari sampah-sampah baru mata air keluar," kata Agung.

Begitu mata air kembali mengucur dan sungai mengalir deras saat kemarau tiba, warga setempat juga punya kebiasaan mengadakan sadranan. Mereka memanjatkan rasa syukur karena air kembali mengalir.

"Sadranan itu di desa kami, kita bersyukur sama yang Maha Kuasa kalau diberi mata air keluar dan kita berdoa sama leluhur biar selalu menjaga tempat ini. Terus bisa syukur-syukur bisa permanen kayak mata air lainnya," ujar Agung.

Agung mengaku warga setempat tidak mengetahui mengapa fenomena tersebut bisa terjadi. Mereka hanya meyakini bahwa Kali Odo yang justru mengalir deras saat kemarau merupakan kuasa Tuhan.

"Orang sini itu benar-benar enggak bisa jawab ya, kita cuman bisanya wallahualam, memang dari yang Maha Kuasa gitu loh kita dari sininya," ungkap Agung.

Karena air yang mengalir bertepatan saat musim kemarau, warga memanfaatkannya untuk berbagai hal, mulai dari mencuci baju hingga membawa air ke rumah untuk persediaan.

"Ya mandi, ya kadang nyuci baju kayak gitu. Jadi kayak warga sini kan nggak semua sudah punya mesin cuci. Mereka masih senang nyuci di kali. Ada juga beberapa yang bawa pulang airnya buat di rumah karena sumur kering," tutur Agung.

Agung juga menceritakan terkadang ada rombongan dari luar daerah yang datang untuk mengambil air, melakukan ritual, lalu pulang, terutama saat menjelang bulan Suro atau Muharam. Ia mengaku tidak tahu secara pasti dari mana orang-orang itu.

"Kalau malam satu Suro dua tahun ini ada yang ke sini berapa rombongan entah mereka enggak tahu sih tujuannya mereka apa. Biasanya bapak-bapak ngambil air satu botol terus pulang," ungkap Agung.

"Ada yang pembersihan diri atau gimana, kalau malam satu Suro kan kalau orang adat Jawa kan banyak, ada yang ngumbah pusaka atau gimana ya, adat Jawa," tambahnya.



(ahr/ahr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads