Sikap! Kedai Kopi di Solo Hapus Menu Americano Buntut Pecahnya Perang

Tara Wahyu NV - detikJateng
Rabu, 04 Mar 2026 15:27 WIB
Kedai kopi Titilaras Solo tak lagi menyediakan americano buntut perang AS-Israel vs Iran, Minggu (1/3/2025). Foto: dok. IG Titilaras Solo
Solo -

Kedai Kopi Titilaras di Kota Solo mengumumkan tidak menjual menu kopi Americano mulai Maret 2026. Hal ini buntut serangan Amerika dan Israel ke Iran yang meningkatkan eskalasi di Timur Tengah.

Hal itu diumumkan founder Titilaras, Arkha Tri Maryanto melalui akun Instagram Titilaras pada Minggu (1/3/2026). Arkha tidak menampik penghapusan menu tersebut sebagai bentuk sikap terkait perang tersebut.

"Bagiku, ini mengambil satu sikap kecil. Walaupun kecil di mata sesama manusia, setidaknya aku memiliki sikap. Mau ikut silakan, tidak juga tidak apa-apa. Kita sudah muak lah gitu. Kita sudah muak dengan hal ini gitu loh. Kita sudah muak dengan isu-isu yang terjadi," kata Arkha saat ditemui detikJateng di kedai kopi Titilaras di Baluwarti, Solo, Rabu (4/3).

Arkha lalu menceritakan lahirnya Americano dari tentara Amerika yang tidak bisa minum espresso. Dengan berkembangnya zaman, masyarakat mulai mengenal Americano sebagai salah satu kopi yang sering diminum.

"Di kediaman Titilaras ini, kita mengganti semuanya, dari nama sampai metodenya. Americano kan dasarnya espresso dikasih air, dan kalau kita telusuri sejarahnya, itu kan awalnya bahan hinaan dari orang Italia untuk tentara Amerika yang tidak bisa minum espresso. Tapi pada akhirnya itu menjadi sebuah identitas bangsa mereka. Nah, itu yang membuat saya berpikir, kenapa kita harus pakai identitas orang lain," jelasnya.

Kenalkan Kopi Tubruk Khas Indonesia

Arkha menyebut selain menghapus menu Americano, dia juga mengubah seluruh metode pembuatan kopi. Ia pun termotivasi memperkenalkan kopi tubruk yang merupakan asli Indonesia.

"Kita mengambil sikap untuk menghapus menu itu beserta metode espresso-nya. Sebenarnya Indonesia itu punya metode yang cukup terkenal, yaitu tubruk. Makanya kita menggantinya dengan tubruk, atau bahasa kami 'tubruk saring'. Jadi metodenya tubruk, tapi ampasnya disaring," terangnya.

Pemilik kedai Titilaras, Arkha Tri Maryanto, membuat black coffe usai tak menyediakan americano di lapaknya, Rabu (4/3/2026) Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng

Lebih lanjut Arkha menjelaskan alasan memilih kopi tubruk atau black coffee sebagai pengganti. Menurutnya, kopi tubruk mempunyai rasa yang tidak jauh beda dengan americano.

"Iya, yang mendekati (americano) adalah tubruk karena menghasilkan ekstraksi yang cukup strong, tergantung pengaturannya. Kita mengambil sikap ini karena identitas itu bagi mereka adalah kebanggaan. Di mana-mana ada menu itu yang sebenarnya tercipta dari ejekan tapi jadi identitas negara," bebernya.




(ams/sip)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork