Ternyata 3 Kuliner Solo Ini Tercipta Sejak Zaman Belanda-Jepang

Tim detikJateng - detikJateng
Minggu, 07 Agu 2022 05:03 WIB
Tengkleng kambing Solo
Tengkleng kambing Solo. Foto: Getty Images/iStockphoto/jim_akay
Solo -

Siapa tak kenal timlo, selat, dan tengkleng? Ternyata tiga kuliner khas Solo ini tercipta sejak zaman kolonial Belanda dan masa pendudukan Jepang. Tiap makanan ini punya sejarahnya sendiri. Terutama tengkleng yang punya sejarah kelam di Solo. Berikut kisah terciptanya tiga makanan khas yang selalu dicari wisatawan di Solo.

1. Tengkleng

Tengkleng adalah makanan khas Solo yang mirip dengan gulai kambing. Bedanya, bahan dasar tengkleng berupa tulang belulang dan jeroan. Kuah tengkleng juga lebih encer dari gulai daging kambing.

Tengkleng mulai dikenal ketika rakyat di Solo pada masa pendudukan Jepang kesulitan mencari bahan pangan. Demi bertahan hidup, mereka pun terpaksa mengolah limbah bahan pangan seperti tulang belulang dan jeroan kambing.


Tulang dan jeroan kambing itu dimasak dengan bumbu yang ada seperti kelapa, kunyit, serai, jahe, lengkuas, daun jeruk, daun salam, kayu manis, cengkeh, garam, bawang putih, bawang merah, pala, dan kemiri.

Makanan ini disebut tengkleng karena menimbulkan bunyi khas kleng-kleng-kleng ketika disantap di piring yang terbuat dari gembreng atau seng. Meski berawal dari sejarah yang kelam, tengkleng kini menjadi salah satu makanan khas Solo yang digemari dan banyak diburu wisatawan

2. Selat

Selat Solo termasuk salah satu kuliner hasil akulturasi pada masa ko

lonial Belanda. Kisah Selat Solo berawal dari Benteng Vastenburg yang menjadi tempat perundingan antara pihak Kasunanan Surakarta dengan pemerintahan Belanda.

Tiap ada pertemuan di Benteng Vastenburg, pada saat jamuan makan, ternyata ada perbedaan selera antara Jenderal Belanda dengan Sultan. Jenderal Belanda menginginkan hidangan berupa steak seperti di negara asalnya. Sedangkan Sultan lebih menyukai nasi dan sayuran.

Walhasil, juru masak pun membuat hidangan yang terdiri dari sayur-sayuran seperti tomat, buncis, selada, wortel, kentang sebagai sumber karbohidrat pengganti nasi, serta daging. Hidangan ini tidak dilumuri saus seperti steak, tetapi disiram kuah yang terbuat dari rempah-rempah Indonesia.

Seiring perjalanan waktu, Selat Solo mengalami beberapa modifikasi, termasuk penambahan isiannya seperti timun, telur rebus, dan kentang yang dibuat keripik atau ditumbuk (mashed potato). Nama Selat ternyata berasal dari kata salad dalam Bahasa Inggris.

Makanan yang tercipta dari perpaduan dua budaya, Eropa dan Jawa, ini sampai sekarang menjadi salah satu ikon wisata kuliner Solo. Salah satu penjual Selat Solo yang terkenal ialah Selat Vien's yang lokasinya tak jauh dari Stasiun Solo Balapan.

3. Timlo

Pada masa kolonial Belanda di Solo, timlo awalnya dijual oleh para pedagang Tionghoa yang berkeliling menggunakan pikulan. Timlo saat itu dikenal dengan nama kimlo, sup bening berisi sosis solo, telur pindang, wortel, hati ampela, dan taburan daging. Timlo biasa disantap dengan nasi dan perasan jeruk nipis.

Pada masa Orde Baru, timlo sempat bersaing ketat dengan menu-menu makanan baru dari luar yang mulai membanjiri dalam negeri. Meski demikian, timlo masih bertahan dan tetap lestari sampai sekarang. Timlo bisa dijumpai di sekitar Pasar Gede dan di berbagai sudut kota Solo.



Simak Video "Gurih Hangat Timlo Maestro, Kuliner Malam Legendaris Khas Solo"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/sip)