Bos konter ponsel Royal Phone Ambarawa, Semarang, Candra Waskito (25) dibunuh secara sadis oleh Didit Panggih Pamulihan (20) dan Taufik Ilham (25). Terungkap, Didit nekat membunuh Candra buntut terlilit utang ratusan juta rupiah untuk mengembangkan bisnis mochi.
"DPP itu yang punya utang besar. Dia itu utangnya ada di angka Rp 145 juta," kata Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Bodia Teja Lelana saat dihubungi detikJateng, Kamis (13/8/2026).
Bodia lantas merinci utang yang ditanggung Didit tersebar di bank pemerintah hingga swasta.
"Terbagi di tiga tempat yaitu yang pertama di bank pemerintah di Ambarawa Rp 100 juta, bank swasta Salatiga Rp 25 juta, sama bank swasta Bawen Rp 20 juta. Sudah jatuh tempo terus dia nggak bisa bayar," ujar Bodia.
Bodia melanjutkan, utang sebesar itu dipakai Didit untuk mengembangkan bisnis mochinya. Ia juga menerangkan Didit berencana menggunakan uang hasil penjualan ponsel curian untuk melunasi utang-utangnya.
"Hasil pencurian digunakan untuk melunasi utangnya yang sudah jatuh tempo," ucapnya.
Alasan Incar Konter Korban
Dikatakan Bodia, Didit sengaja memilih konter milik Candra karena selalu ramai. Sehingga menyimpulkan korban adalah orang kaya.
"Karena konter ponsel ini terkenal," tuturnya.
"Dia itu jadi tertarik ya karena kan dia terkenal, ramai, kayaknya orangnya (korban) kaya," lanjut Bodia.
Modus yang awalnya direncanakan Didit serta Taufik adalah mengambil ponsel kemudian kabur. Namun, karena merasa aksinya sudah hampir diketahui, pelaku lantas menghantamkan palu ke kepala korban hingga tewas.
"Jadi mereka itu kan awalnya memang CB-nya (cara bertindaknya) mereka itu satu ngajak ngobrol, satu pura-pura beli. Nanti langsung disaut, langsung mlayu. (Tidak merencanakan perampokan dengan skala besar?) Iya," ucap Bodia.
"Ternyata mereka karena ini panik, istilahnya ya pertama kali melakukan itu, panik mereka. Ketika sudah mau mulai ketahuan jadi spontan mukul menggunakan palu total sebanyak enam kali," tambahnya.
Bodia juga mengungkap alasan Didit memilih Taufik untuk diajak merampok. Didit disebut tahu kondisi ekonomi Taufik.
"Taufik kan diajak oleh Didit karena berteman, karena bapaknya Taufik itu kan usaha tepung, Didit usahanya mochi dan sering membeli di situ. Dari situ Didit tahu kalau Taufik punya background ekonomi yang kurang," ungkap Bodia.
Ojol Pengantar 2 Pelaku Diupah iPhone Curian
Bodia berujar, setelah pelaku membawa mobil Honda Jazz berisi jasad korban dan meninggalkannya di depan gudang kosong wilayah Gubug, Grobogan, keduanya awalnya pulang dengan berjalan kaki hingga di perempatan Gubug. Setelah itu, mereka menebeng seseorang.
"Berjalan kaki sampai perempatan Gubug. Di situ ketemu dengan salah satu saksi terus minta nebeng. Dia cenglu, bonceng telu ke arah Kwaron," papar Bodia.
Setibanya di Kwaron, Didit memesan ojol tujuan Ambarawa menggunakan ponselnya. Bodia menyebut hal ini juga menjadi petunjuk awal polisi untuk melacak pelaku.
"Gojek itulah yang jadi petunjuk kita pertama sebenarnya. Gojek itu dia, (memakai layanan) GoRide, cenglu ke Ambarawa. Itu kan sekitar jam 7.30 WIB jadi sudah siang, jadi wajar kalau ada Gojek," ujar Bodia.
Bodia menyebut pelaku lalu membayar jasa ojol tersebut menggunakan satu unit iPhone curian. Hal ini disebabkan pelaku tidak membawa uang.
"Sampai Ambarawa karena dia enggak bawa uang dikasih lah satu HP. HP itu iPhone 15," ungkap Bodia.
Bodia menuturkan pengemudi ojol itu sudah menjual iPhone di salah satu konter ponsel. Polisi juga telah menyita ponsel itu sebagai barang bukti.
"Sama pengemudi, driver ojolnya dijual seharga Rp 9 juta 550. Itu sudah kami sita juga, sudah kami peroleh juga," terang Bodia.
(apu/afn)