Pembunuhan tragis menimpa sekeluarga terdiri dari ibu dan dua anaknya di Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara (Jakut). Ketiganya tewas karena diracun anak tengah atau anak ketiga korban, yang dendam karena merasa diperlakukan berbeda.
Sang ibu, SS (50), ditemukan tergeletak bersama anaknya pada Jumat (2/1) pagi. Berdasar pemeriksaan, SS tewas bersama AAL (27) yang merupakan anak sulung dan AAB (13), yang notabene anak bungsu SS.
Saat itu mereka ditemukan oleh anak kedua SS, Dafi, yang baru saja pulang dari bekerja. Adapun anak ketiga, AS atau S (22), kondisinya selamat dan dilarikan ke rumah sakit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekeluarga Tewas Diracun
Polisi pun sempat memeriksa AS.
"Kemudian serangkaian pemeriksaan ini berjalan hingga akhirnya pada tanggal 4 Februari atas hasil pemeriksaan dari Puslabfor, dokter dan juga bukti toksikologi serta hasil pemeriksaan saksi-saksi," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto, Jumat (6/2/2026), dilansir detikNews.
Setelah diperiksa, AS kemudian ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Penetapan tersangka dilakukan setelah polisi melakukan pemeriksaan dengan menggali keterangan sejumlah pihak dan menyelidiki berbagai barang bukti.
"Hasil pengamatan kami berdasarkan barang bukti lainnya, sehingga kami menetapkan saudara S sebagai pelaku atau tersangka dari perkara peristiwa keracunan tersebut dimana saudara S memang dengan sengaja meracun ketiga korban tersebut," jelasnya.
Dendam Merasa Diperlakukan Berbeda
Sementara Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, AKBP Onkoseno, menyatakan motivasi AS dikarenakan dia dendam diperlakukan berbeda oleh keluarganya.
"Dari hasil pemeriksaan kami, motivasi dari pelaku adalah dendam kepada keluarganya karena merasa diperlakukan berbeda dan sering dimarahi oleh ibunya," terang Onkoseno.
Korban Diracun Pakai Racun Tikus
Adapun Kepala Urusan (Kaur) Subbid Toksikologi Puslabfor Baresktim Polri, Pembina Azhar Darlan, menjelaskan sejumlah pemeriksaan toksikologi yang dilakukannya. Pemeriksaan toksikologi dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian ketiga korban.
"Dari pemeriksaan barang bukti, ruang lingkup kami adalah pemeriksaan pestisida, kemudian alkohol, kemudian arsen, kemudian sianida, serta ruang lingkup bahan kimia dan obat-obatan," kata Azhar Darlan.
Tim Toksikologi Puslabfor Baresktim Polri mengambil sejumlah kandungan dalam organ tubuh korban untuk diteliti. Sementara untuk korban selamat sekaligus pelaku, yaitu AS atau S (22), diperiksa darah dan urinenya.
"Dari pemeriksaan tersebut, dari item tersebut, seluruh korban yang meninggal, ada 3 orang yang meninggal tersebut, organ yang dikasih kami adalah positif zinc phosphate," ungkapnya.
"Kemudian di TKP, kami temukan juga ada alkohol, hampir semuanya minuman ada mengandung alkohol. Kemudian ada gelas satu mengandung zinc phosphate, kemudian hampir semua TKP, terutama organ mengandung KPI," lanjut dia.
Sementara itu, peneliti toksikologi kimia dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Budiawan, mengatakan dari laboratorium kriminologi, melihat data yang diperoleh saat itu yang ditemukan adalah zinc phosphate. Itu adalah suatu senyawa kimia, yang dikenal juga sebagai racun tikus.
"Bahan-bahan ini beracun bagi sel tubuh manusia, dan ditemukan tadi apa yang disampaikan oleh hasil dari pemeriksaan ini, membuktikan bahwa di lambung telah ditemukan zinc phosphate, kemudian juga tentunya memang racun ini akan berubah menjadi phosphane, dan kemudian juga menyebar ke seluruh organ, dan itulah yang dikenal sebagai racun seluler," jelas Budiawan.
Sementara dr Mardika selaku dokter forensik RS Porli Sukanto menyampaikan, visum luar dan dalam telah dilakukan terhadap tiga jenazah. Hasilnya, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik.
"Kemudian dari pemeriksaan luar juga ada proses pembusukan lanjut pada otak itu didapatkan kelebaman perudara, pemburuan dari paru ada pendarahan. Dan pada lambung khusus, itu sebagian warna merah muda," kata Mardika.
Di dalam lambung, terdapat cairan berwarna kecokelatan. Didapatkan juga kelembaban dan bau yang sangat menyengat ketika isi lambung dibuka.
"Kemudian dari pemeriksaan lanjutan kami mengambil sampel yang dikirim ke Labfor, sehingga dari kesimpulan pemeriksaan tiga jenazah tersebut, didapatkan sebuah kematian akibat senyawa kimia, atau zat yang tidak lazim masuk ke dalam tubuh, yang melebihi batas toleransi dalam tubuh dan korban tersebut mati lemas," bebernya.
