IPW Sebut Aliran Dana Konsorsium 303 Buat Beli Cerutu Oknum Polisi

Nasional

IPW Sebut Aliran Dana Konsorsium 303 Buat Beli Cerutu Oknum Polisi

Tim detikX - detikJateng
Selasa, 27 Sep 2022 22:06 WIB
Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh (Matius Alfons/deticom)
Foto: Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh (Matius Alfons/deticom)
Solo -

Nama Robert Priantono Bonosusatya muncul kembali, buntut dari pemakaian jet pribadi T7-JAB oleh Brigadir Jenderal Hendra Kurniawan untuk menemui keluarga Brigadir Yoshua di Jambi. Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso menduga pemberian fasilitas itu dilakukan oleh bos bandar judi online Konsorsium 303 bentukan eks Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo.

Dilansir detikX, Selasa (27/9/2022), bandar judi yang dimaksud Sugeng adalah Komisaris Utama PT MMS Group Indonesia Yoga Susilo. Menurut Sugeng, private jet itu sering digunakan eks narapidana KPK, yaitu Andrew Hidayat, bos Yoga sekaligus pemegang saham terbesar PT MMS.

"PT Robust Buana Tunggal. Satu afiliasi dengan PT MMS Group Indonesia, PT Mahaguna Bara Sukses, PT Graha Cipta Pesona Indah, dan PT Pakarti Putra Sang Fajar," beber Sugeng.


Robert Bantah Tuduhan IPW

Robert membantah, dia bilang tidak memberikan fasilitas jet pribadi kepada Hendra. Robert juga menyangkal dirinya terlibat dalam bisnis judi online.

"Tidak benar itu, tidak benar sama sekali," kata Robert.

Robert berencana bakal melaporkan IPW ke kepolisian atas tudingan itu.

"IPW punya print out-nya nggak? Saya mau pertimbangkan mau lapor dia," ujarnya.

Aliran Dana Buat Beli Cerutu Oknum Polisi

Menanggapi hal itu, IPW mempersilakan Robert melapor. Sugeng mengklaim memiliki bukti lengkap laporan aliran dana Konsorsium 303 ke beberapa anggota kepolisian.

"Kan kami ngomong nggak sembarangan. Kami punya bukti aliran dana kepada oknum-oknum polisi untuk pembelian-pembelian cerutu, pembelian kamera, kemudian juga support untuk dana siber, ke Amerika. Data kami tuh lengkap," ujarnya.

Tim detikX mendapatkan cuplikan dokumen bernama "Coklat Aris (rino)". Dokumen itu diduga sebagai laporan aliran dana Konsorsium 303.

Dalam dokumen itu terlihat alokasi pengeluaran dana untuk permintaan 'coklat', kode untuk polisi dari 1 September 2021 hingga 8 Desember 2021.

Demi menopang roda bisnis Konsorsium 303 dalam kurun waktu tiga bulan, bos bandar judi telah menghabiskan sekitar Rp 2 miliar. Uang itu diduga untuk keperluan anggota kepolisian.

Kebutuhan itu mulai uang jajan bulanan, wine, cerutu, handycam, televisi, hingga tiket pesawat ke Eropa dan Amerika untuk sejumlah perwira tinggi polisi.

Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo menyebut hingga kini timsus belum memiliki informasi apa pun soal Konsorsium 303.

"Ya kalau hanya dugaan-dugaan dari orang luar, ya nggak apa-apa, kami dengerin. Kami jadi bagian dari timsus. Artinya, timsus belum ada informasi tersebut. Ingat ya, timsus bekerja sesuai dengan fakta-fakta hukum," katanya pekan lalu.

Aliran Dana ke Petinggi Polri

Dalam dokumen itu, tercatat aliran dana ke beberapa petinggi Polri yang tergabung dalam Satuan Tugas Khusus (Satgassus) Merah Putih. Satuan tersebut dibentuk oleh Tito Karnavian pada 2016. Kemudian masa berlakunya diperpanjang oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada 1 Juli 2022.

Ferdy Sambo didapuk menjadi Ketua Satgassus. Kemudian, pada 11 Agustus lalu, kelompok elite polisi ini dibubarkan oleh Listyo.

Dua perwira tinggi dan empat perwira menengah di Satgasuss Merah Putih tercatat diduga menerima aliran dana ini. Satu perwira tinggi berpangkat brigadir jenderal menerima dana Rp 560 juta untuk perjalanan ke Eropa. Seorang perwira tinggi bintang satu di satuan Densus 88 menerima Rp 21 juta untuk pembelian cerutu. Lalu satu perwira menengah berpangkat Kompol di Polda Metro Jaya menerima dana Rp 77,5 juta untuk pembelian minuman dan keperluan lainnya.

Selain itu, seorang perwira berpangkat komisaris besar di Mabes Polri menerima Rp 145,5 juta untuk tiket dan keperluan lain. Kemudian anggota Polda Metro Jaya berpangkat AKBP menerima Rp 22,8 juta. Lalu, seorang anggota Satgasus lainnya berpangkat Kombes menerima Rp 11,18 juta.

Di luar itu, masih banyak aliran dana lainnya dari Konsorsium 303 yang diduga juga masuk ke kantong anggota kepolisian. Beberapa di antaranya, yakni keperluan siber Rp 310 juta, minuman Rp 37,5 juta, televisi Rp 14,5 juta, dan penangan kasus di Medan Rp 386 juta.

detikX telah berupaya meminta konfirmasi kepada empat pejabat Polri yang diduga menerima fasilitas dari bandar judi. Namun, hingga naskah ini terbit, detikX tidak memperoleh tanggapan. Ssementara sebagian lainnya membantah dan enggan namanya disebut.

Guna menguji dokumen yang diduga aliran dana Konsorsium 303 itu, tim detikX juga telah menghubungi Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Asep Edi Suheri dan Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri Ahmad Dofiri. Namun mereka tidak merespons permohonan wawancara detikX.



Simak Video "IPW Hadir di MKD DPR, Klarifikasi soal Jet Privat Brigjen Hendra"
[Gambas:Video 20detik]
(sip/sip)