Internasional

Remaja AS Dieksekusi Mati 91 Tahun Lalu, Akhirnya Bebas dari Dakwaan

Tim detikNews - detikJateng
Jumat, 17 Jun 2022 12:36 WIB
TALLADEGA, AL - MAY 05:  A giant American Flag waves above the track during the NASCAR Sprint Cup Series Aarons 499 at Talladega Superspeedway on May 5, 2013 in Talladega, Alabama.  (Photo by Tom Pennington/Getty Images)
Ilustrasi Bendera Amerika Serikat (Foto: Tom Pennington/Getty Images)
Solo -

Seorang remaja kulit hitam di Amerika Serikat (AS) dieksekusi mati tahun 1931 silam atas kasus pembunuhan wanita kulit putih. Remaja itu kini dibebaskan dari dakwaan oleh pengadilan Pennsylvania pekan ini.

Mengutip detikNews yang melansir AFP, Jumat (17/6/2022), Alexander McClay Williams kala itu berusia 16 tahun saat dijatuhi hukuman mati oleh dewan juri pengadilan yang semuanya berkulit putih. Dia dinyatakan bersalah atas pembunuhan seorang wanita kulit putih bernama Vida Robare tahun 1930 silam.

Dia dieksekusi mati setahun kemudian, dan mencetak sebagai sejarah sebagai napi termuda yang dieksekusi mati di wilayah AS bagian timur. Namun, 91 tahun kemudian, seorang hakim distrik menggugurkan kasus pembunuhan itu dan menyatakan Williams tak bersalah.


"Saya hanya senang bahwa akhirnya menjadi seperti yang seharusnya sejak awal," ucap saudara perempuan Williams, Susie Williams-Carter, seperti dikutip media lokal Philadelphia Inquirer pada Kamis (16/6) waktu setempat.

"Kami hanya ingin itu digugurkan, karena kami mengetahui dia tidak bersalah dan sekarang kami ingin semua orang mengetahui itu juga," imbuh Susie yang kini berusia 92 tahun.

Jaksa distrik Delaware County, Jack Stollsteimer, dalam pernyataannya kasus William digugurkan pada Senin (13/6) waktu setempat setelah menempuh proses litigasi bertahun-tahun.

"Ini merupakan pengakuan bahwa dakwaan terhadapnya seharusnya tidak pernah diajukan," demikian pernyataan Stollsteimer.

Kasus ini menjadi pengakuan terbaru dari ketidakadilan rasial bersejarah dalam sistem hukum AS, yang menghukum dan dalam beberapa kasus, mengeksekusi mati warga Amerika tidak bersalah, banyak dari mereka kulit hitam, pada abad setelah Perang Sipil tahun 1861-1865 silam.

Dalam kasus ini, menurut pernyataan Stollsteimer, Williams yang masih remaja diinterogasi polisi sebanyak lima kali tanpa kehadiran pengacara atau orang tuanya. Dia juga menandatangani tiga dokumen pengakuan, meski kurangnya saksi mata atau bukti langsung yang menunjukkan keterlibatannya dalam pembunuhan Robane.

Stollsteimer juga menyatakan ada bukti 'substansial' yang diabaikan atau tidak diperiksa pada saat itu. Bukti yang dimaksud mencakup sidik jari berdarah seorang pria dewasa yang ditemukan di dekat pintu yang ada di lokasi kejadian. Sidik jari ini sempat difoto polisi pada saat itu, namun hal ini tidak pernah dibahas dalam persidangan.

Kemudian ada fakta bahwa korban menceraikan suaminya atas tuduhan 'kekejaman ekstrem'. Namun suaminya tidak pernah diperiksa sebagai tersangka.

"Kami meyakini bahwa perlindungan konstitusional untuk pemuda ini dilanggar dengan cara yang tidak bisa diperbaiki," ujar Stollsteimer.



Simak Video "Serangan Turki Bunuh 9 Wisatawan di Irak, AS Turun Tangan"
[Gambas:Video 20detik]
(ams/aku)