Bakso Ayam Tiren Bantul Diedarkan ke 3 Pasar di Jogja Sejak 2015

Pradito Rida Pertana - detikJateng
Senin, 24 Jan 2022 13:13 WIB
Barang bukti bakso berbahan ayam tiren di Bantul, Senin (24/1/2022).
Barang bukti bakso berbahan ayam tiren di Bantul, Senin (24/1/2022). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng
Bantul -

Pasutri di Kabupaten Bantul inisial MHS (51) dan AHR (50) diciduk polisi karena produksi bakso berbahan ayam tiren. Terungkap produksi bakso ayam tiren itu sejak tahun 2015 dan diedarkan ke tiga pasar di Kota Jogja.

"Dari keterangan, tersangka mengaku bahwa sudah memproduksi bakso bahan ayam tiren sejak tahun 2015, jadi hampir 7 tahun," kata Kapolres Bantul AKBP Ihsan saat jumpa pers di Polres Bantul, Senin (24/1/2022).

"Sebelumnya tersangka berkecimpung di usaha yang sama sejak 2010 tapi pakai ayam normal (segar). Karena harga ayam tinggi dan tidak dapat untung maka yang bersangkutan pakai ayam tiren tahun 2015. Sehingga motifnya ini ingin dapat keuntungan lebih besar," lanjut Ihsan.

Ihsan menjelaskan ayam tiren itu didapatkan dari supplier. Harga ayam tiren itu tidak sampai Rp 10 per kilogram.

"Dari keterangan harga ayam tirennya Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu per kilogram. Ayam tiren itu dibeli dari pengecer di sekitar Bantul," ujarnya.

Sedangkan dalam sehari, pasutri ini menghabiskan 35 kilogram ayam tiren. Nantinya 35 kilogram ayam tersebut dapat menjadi adonan bakso dengan berat 75 kilogram.

"Sehari mereka 35 kilogram kemudian yang bersangkutan mengolahnya jadi adonan 75 kilogram. Untuk keuntungan keduanya Rp 500 ribu per hari," ujarnya.

Terkait pemasaran bakso ayam tiren tersebut, Ihsan mengungkapkan bahwa kedua tersangka memasarkannya ke 3 pasar yang ada di Kota Jogja. Pemasaran itu melibatkan tetangganya yang menjadi pengecer bakso.

"Kemudian, tersangka juga menyampaikan bahwa produksi baksonya dijual di tiga pasar di Kota Jogja, jadi setelah produksi istrinya yang mengantar ke pasar-pasar tersebut," ucapnya.

"Jadi di Bantul tidak ada, tiga pasar itu di Kota Jogja yakni Pasar Demangan, Pasar Kranggan dan Pasar Giwangan. Dari keterangan tersangka memilih memasarkan di Bantul karena saingannya sudah banyak," imbuh Ihsan.

Sementara itu, MHS mengakui dan menyesali semua perbuatannya. Di sisi lain, MHS menyebut merasa senang bisa tertangkap polisi karena sudah sejak lama dia ingin berhenti, namun tidak enak dengan tetangganya karena tidak akan memiliki pemasukan.

"Senang sekali (tertangkap) karena bisa berhenti (membuat bakso ayam tiren). Yang jelas saya mengakui kesalahan dan siap dengan risikonya," ucap MHS di kesempatan yang sama.

MHS juga mengakui jika sudah membuat bakso berbahan ayam tiren sejak 7 tahun yang lalu. Hal itu dilakukan karena harga ayam yang terus naik dan membuat keuntungannya berkurang drastis. Dengan bahan ayam tiren, MHS menyebut mampu mendulang keuntungan bersih Rp 500 ribu setiap harinya.

"Iya (7 tahun). Kalau idenya dari saya sendiri karena terhimpit harga ayam yang tinggi, mau dinaikkan harga baksonya sulit jadi terpaksa kami cari akal gimana bisa tetap dapat untung," ujarnya

"Kalau habis berapa ayam tiren sehari itu kurang lebih 15-20 ekor, dengan total berat sekitar 35 kilogram. Dari jumlah itu nanti jadi 75 kilogram adonan bakso," lanjut MHS.



Simak Video "Demi Cuan, Pasutri di Bantul Jualan Bakso Ayam Tiren dari 2015"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/ahr)