Gamelan Kyai Sekati yang terdiri dari Kyai Guntur Sari dan Kyai Guntur Madu ditabuh di halaman Masjid Agung Solo. Warga yang menyaksikan di lokasi mengaku terharu. Alunan suara gamelan itu juga membuat perantau yang sedang mudik ke Solo jadi terkenang pada masa kecilnya.
Pantauan detikJateng, Senin (24/8), kedua gamelan yang berada di Bangsal Pagongan itu ditabuh oleh para abdi dalem Keraton Solo. Warga pun antusias menyaksikan di lokasi.
Salah satunya Diyah Widhi (50). Warga Kartasura, Sukoharjo, itu sengaja ke Masjid Agung Solo untuk menunaikan salat zuhur kemudian mendengarkan alunan gamelan pusaka Keraton Solo tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Diyah, mendengarkan gamelan Sekaten yang ditabuh secara langsung memberikan sensasi spiritual dan kedamaian hati.
"Saya ke sini yang pertama karena ingin nguri-uri (melestarikan) budaya Jawa. Yang kedua, rasanya hati itu gimana ya, ada ketenangan sendiri kalau mendengarkan musik gamelan langsung seperti ini," kata Diyah saat ditemui detikJateng di lokasi, Senin (24/8/2026).
Diyah mengungkapkan bahwa mendengarkan irama gamelan khas Sekaten membuat dirinya terharu dan bahagia. senang. Baginya, momen ini sangat spesial karena hanya bisa dinikmati setahun sekali dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
"Rasanya ada haru, suka, dan tenang. Sudah jarang ya ada live music seperti ini, apalagi kalau Maulidan kan setahun sekali," ucap dia.
Meski tidak setiap tahun bisa hadir, Diyah selalu berupaya menyempatkan diri di tengah kesibukannya. Ia datang sendirian untuk benar-benar menikmati alunan gamelan tersebut.
"Pasti menyempatkan ke sini buat nonton langsung," ucapnya.
Saat ditanya mengenai adanya konflik yang sempat mewarnai pelaksanaan Sekaten tahun ini, Diyah tidak mau ambil pusing.
"Saya masyarakat biasa ya, saya tidak mau berkomentar tentang itu," kata Diyah.
Penonton lainnya, Lela, juga sengaja datang ke Masjid Agung Solo untuk bernostalgia setelah sekian lama merantau ke Jakarta.
"Habis reuni, terus pengen lihat gamelan, bernostalgia juga karena sekarang di Jakarta. (Saya) Kecil di Solo," ujar Lela (60).
Baginya, menyaksikan penabuhan gamelan sekaten ini bukan sekadar hiburan biasa, tapi juga sebagai tapak tilas. Ia mengungkapkan dirinya sudah mengenal dan menonton gamelan Sekaten sejak 50 tahun yang lalu, saat ia masih kecil dan tinggal di Solo.
"Sejak 50 tahun lah. Saya kecilnya di sini, terus merantau ke Jakarta. Terus ke sini lagi mau nonton ini lagi," tuturnya.
Saat ditanya mengenai perasaannya kembali menyaksikan tradisi tersebut secara langsung, Lela merasa suasananya masih tetap sama dan tidak banyak berubah sejak ia masih kecil.
"Ya suasananya sama, nggak ada yang beda," ucapnya.
Tak hanya menonton, Lela dan dua temannya juga berbelanja pernak-pernik khas Sekaten, yaitu kinang dan telur asin atau ndok amal.
"Beli telur asin ini melarisi dan juga mempunyai filosofi. Kinang juga buat kenang-kenangan karena sudah ke sini," pungkasnya.
Ditabuh Sejak Rabu Pekan Lalu
Diberitakan sebelumnya, gamelan Kyai Sekati dikeluarkan dari Keraton Solo menuju Masjid Agung Solo untuk menyambut Maulid Nabi. Sejumlah abdi dalem Keraton Solo mengangkat gamelan dari Sasana Handrawina.
Dari pantauan detikJateng, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng memimpin keluarnya Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Gamelan dikeluarkan melalui Kori Kamandungan menuju Sitihinggil melewati alun-alun utara dan masuk ke Masjid Agung.
"Ada dua perangkat nggih, Guntur Madu dan Guntur Sari. Nah, ini memang sudah dipindah ke sini (Handrawina) dari tempat sana (Pendopo Parangkarso) karena di sana keadaannya sudah parah banget itu gedungnya dan itu termasuk apa, proyek revitalisasi nanti," katanya ditemui awak media di Sasana Handrawina, Rabu (19/8/2026).
Ia mengatakan, gamelan-gamelan tersebut diletakkan di Handrawina karena lokasi sebelumnya akan direvitalisasi. Selain itu, dia menyebut bahwa Pendopo Parangkarso dipenuhi kelelawar.
"Dari Pendopo Parangkarso, nggih. Kalau kita lihat ada bangunan gede, tinggi, yang biasa banyak kelelawar itu, nah di sebelah situ," ucapnya.
Gusti Moeng yang juga menjabat sebagai Pengageng Sasana Wilapa Paku Buwono XIV Mangkubuki mengatakan, gamelan-gamelan tersebut dikeluarkan dalam rangka sekaten atau menyambut kelahiran Nabi Muhammad. Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari akan dibunyikan mulai hari ini hingga puncak Maulid Nabi.
"Dalam rangka Sekaten, nggih. Nanti mulai ditabuhkan jam setengah 2 siang. Terus kalau besok itu hanya sampai jam 3 sore karena kan malam Jumat. Kalau setelah Ashar itu, kalau Kamis malam, malam Jumat itu prei (libur), dan kalau nanti apa, Jumat itu habis Jumatan baru ditabuh," jelasnya.
"Dalam rangka Sekaten memperingati hari kelahiran Rasulullah Nabi Muhammad SAW yang itu sudah sejak apa nggih, sejak Demak sudah ada itu. Nah kalau gamelan yang Demak itu malah ada di Cirebon, di Kanoman Cirebon, nggih," sambungnya.
Lebih lanjut, Gusti Moeng menyebut bahwa Gamelan Kyai Guntur Sari akan ditempatkan di Bangsal Pagongan sisi utara dan Gamelan Kyai Guntur Madu di Bangsal Pagongan sisi selatan. Menurutnya, salah satu gamelan ada yang pecah.
"Lor (utara) Guntur Sari dan Kidul (selatan) Guntur Madu. Gamelan ada gong, bedug, kempyang, kondisi bagus, ada yang pecah saron tapi dibikin baru, tadi ada satu yang tertinggal pencu kempyang pecah sudah diganti," pungkasnya.
