Keramat Petilasan Nyai Bagelen, Bisa Celaka Jika Nekat Lewat Naik Kendaraan

Rinto Heksantoro - detikJateng
Selasa, 11 Agu 2026 07:30 WIB
Petilasan Nyai Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Sabtu (11/7/2026). Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng
Purworejo -

Desa Bagelen di Purworejo punya tempat wisata religi yang tersohor, yaitu Petilasan Nyi Bagelen. Kesakralannya masih terjaga. Bahkan ada aturan yang mewajibkan kendaraan seperti sepeda dan motor harus dituntun saat melintas di depan petilasan itu. Berikut kisahnya.

Masyarakat setempat meyakini kawasan Petilasan Nyai Bagelen sudah ada sejak sekitar abad ke-6 atau abad ke-7. Kawasan itu dikelola secara turun temurun oleh keluarga Cokrosudo.

Juru kunci Petilasan Nyai Bagelen, Sutejo Ganjar Riyanto (57) mengatakan bahwa petilasan ini mulai dirawat secara intensif pada masa pemerintahan Sultan Agung di bawah pengawasan Tumenggung Rekso Samudro, yang juga merupakan pemimpin pertama Bagelen. Di dalam area petilasan itu terdapat situs berupa sejumlah stupa yang dilindungi.

"Ada di dalam itu stupa-stupa ada 9 apa 10 itu. Yang di dalam itu yang sok (sering) buat sungkeman nek orang kene (kalau orang sini). Beliau (Nyai Bagelen) murco (hilang/moksa) di sini dulu," kata Sutejo saat ditemui detikJateng di lokasi petilasan, Sabtu (11/7/2026).

Daya tarik petilasan ini tidak hanya memikat warga lokal Purworejo, melainkan juga peziarah dari berbagai daerah seperti Indramayu, para pejabat, politikus yang mencari restu, bahkan wisatawan mancanegara dari Tibet, India, dan Jepang.

Petilasan Nyai Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Sabtu (11/7/2026). Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng

"Yang datang politikus, pejabat, itu juga ada yang ke sini. Magangan lurah ini aja banyak yang minta berkah ini mau minta lurah, mau minta restu. Anggota DPRD, dari luar negeri ada, dari Tibet, India, Jepang," ujar dia.

Salah satu tradisi unik yang masih dijaga ketat di kawasan ini adalah kewajiban menuntun kendaraan bagi siapa saja yang melintas di depan petilasan. Sutejo menegaskan, hal tersebut murni dilakukan untuk menjunjung tinggi adab dan rasa hormat kepada para leluhur.

"Orang sini kan menghargai leluhur, biar sopan gitu. Ini di depan leluhur yang diluhurkan orang masyarakat sini ya tetap dituntun (kendaraannya)" jelasnya.

Sutejo menceritakan, orang yang kedapatan melanggar aturan itu bisa mengalami kesialan. Adapun salah satu kesialan yang dialami adalah kecelakaan saat perjalanan pulang.

"Nek diingatkan ngeyel sok bermasalah, ada yang pulangnya kecelakaan banyak, dilalah (tiba-tiba) ditabrak truk atau apa gitu, banyak," ucap dia.
Sutejo menerangkan, esensi dari ziarah di Petilasan Nyai Bagelen adalah murni untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Ya sok (kadang) ada, dikira sini musyrik padahal ya ndak, nek sini kan ziarah. Ikut berdoa, mendoakan beliau, kita ngalap berkah, minta keselamatan. Mungkin beliau bisa membantu mengamini doa kita cepat dikabulkan Tuhan Yang Maha Esa," kata Sutejo.

Petilasan Nyai Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Sabtu (11/7/2026). Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng

Penjelasan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo menilai Petilasan Nyai Bagelen memiliki nilai penting sebagai bagian dari sejarah dan identitas masyarakat setempat. Situs tersebut berstatus Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) dan terus didorong untuk dilestarikan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, mengatakan keberadaan Petilasan Nyai Bagelen diharapkan menjadi motivasi sekaligus kebanggaan masyarakat karena menunjukkan bahwa wilayah Purworejo telah menjadi salah satu tempat berkembangnya peradaban sejak masa lampau.

"Belum masuk CB (Cagar budaya), masih bersifat ODCB. Di dalam ada stupa besar 1 buah stupa kecil mengelilingi stupa besar 9 buah juga ada chatra," kata Yudhi saat dihubungi detikJateng, Sabtu (11/7/2026) sore.




(dil/sip)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork