Ada kepercayaan unik di desa yang konon tertua di Indonesia, Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Purworejo. Masyarakat Desa Bagelen pantang memelihara sapi, menanam kedelai hitam, dan tidak menggelar hajatan pada hari pasaran Wage.
Sesepuh Desa Bagelen, R Mulato (65), mengungkap mitos ini bermula dari kisah Nyai Bagelen, yang Disebut sebagai putri Prabu Swelacala, pemimpin Kerajaan Medang Kamulan.
Diceritakan kala itu Myai Bagelen yang tengah menenun kain, dikejutkan oleh seekor anak sapi yang menyusu kepadanya karena mengira itu adalah anaknya. Cerita itulah yang mendasari larangan memelihara sapi di wilayah dusun tersebut. Menurut Mulato, ada warga yang pernah melanggar pantangan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pernah, pak lik saya sendiri pernah memelihara sapi. Ya sapinya dikasih makan banyak ya kurus-kurus aja. Dan dijual malah merugi, seperti itu. Jadi dia bercerita kepada saya sendiri juga bahwa enggak ada untungnya, rugi," ujar Mulato kepada detikJateng, Sabtu (11/7/2024)
Warga Bagelen juga berpantang menanam kedelai hitam. Pantangan ini dilatari cerita tentang dua anak Nyai Bagelen, Roro Pitrah dan Roro Taker, meninggal akibat tertimbun tumpukan kedelai hitam pada hari Selasa Wage.
Petilasan Nyai Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Sabtu (11/7/2026). Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng |
Cerita itu pula yang membuat warga setempat kini menghindari menggelar hajatan atau acara besar pada hari pasaran Wage karena dipercaya bisa mendatangkan kesialan.
"Biasanya kalau saya mendengar, masyarakat kalau ada hajatan di hari itu ya umek (kisruh). Urusannya itu kok enggak selesai-selesai, ruwet gitu. Malah pada padu dewe-dewe (bertengkar sendiri-sendiri) seperti itu, kemrungsung," kata dia.
Di sisi lain, Mulato menilai berbagai pantangan ini sebagai bentuk penghormatan sekaligus cara leluhur menjaga harmoni di masa lampau, mengingat sapi merupakan hewan yang disucikan dalam peradaban Hindu yang dulu mendominasi wilayah tersebut
Penjelasan Pakar Pernaskahan Nusantara
Sementara itu pengamat sejarah sekaligus filolog serta Pangarsa Kearsipan Kadipaten Pakualaman dan Penasihat Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Pusat, Dr. Drs. Sudibyo, M.Hum, mengatakan bahwa klaim yang menyebut Desa Bagelen sebagai salah satu kampung atau desa tertua di Indonesia itu belum memiliki dasar historis yang kuat.
Sudibyo mengatakan, belum ditemukan sumber sejarah yang dapat membuktikan bahwa nama Bagelen telah dikenal sejak masa awal perkembangan kerajaan-kerajaan di Jawa.
Menurut dia, apabila yang dimaksud sumber sejarah adalah data yang dapat diverifikasi keandalannya, maka prasasti-prasasti tertua yang ditemukan di sekitar wilayah tersebut belum menyebut nama Bagelen.
"Prasasti Kayu Ara Hiwang tahun 901 M yang ditemukan di Desa Boro Wetan maupun Prasasti Watukura tahun 902 M belum menyebut nama Bagelen atau nama desa yang dapat dikaitkan dengan etimologi Bagelen," kata Sudibyo saat dimintai konfirmasi detikJateng.
Ia menjelaskan, nama Bagelen baru muncul dalam Babad Tanah Jawi yang ditulis pada abad ke-18 dengan sebutan Pagelen. Dalam naskah tersebut diceritakan bahwa Pagelen merupakan wilayah keturunan Prabu Swelacala melalui tokoh bernama Panuhun yang kemudian menjadi leluhur masyarakat Bagelen.
"Sampai saat ini saya belum menemukan sumber yang lebih tua daripada Babad Tanah Jawi mengenai Bagelen," ujar dia.
Karena itu, Sudibyo menilai anggapan bahwa Bagelen merupakan desa tertua di Indonesia belum dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
"Berdasarkan data sejarah yang ada, pernyataan bahwa Bagelen adalah desa tertua di Indonesia sama sekali tidak terdukung. Kalau yang dibahas Desa Watukura atau Desa Boro, itu masih bisa didiskusikan," imbuhnya.
Sudibyo menambahkan, belum ditemukan naskah kuno berbahasa Jawa Kuno yang secara khusus membahas Bagelen. Sebagian besar naskah yang tersedia berasal dari abad ke-18 hingga abad ke-20. Sementara, arsip tertua mengenai Bagelen berasal dari masa VOC dan Pemerintahan Hindia Belanda, salah satunya Arsip Bagelen Nomor 18 yang kini menjadi koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Dalam kajiannya, Sudibyo juga menyoroti sosok Nyai Ageng Bagelen yang selama ini dikenal luas dalam cerita masyarakat. Menurutnya, hingga sekarang belum terdapat bukti sejarah yang memastikan tokoh tersebut benar-benar pernah hidup.
"Sampai saat ini saya tidak memiliki bukti bahwa Nyai Ageng Bagelen merupakan sosok historis. Beliau lebih merupakan tokoh yang berasal dari legenda," ucapnya.
Meski demikian, ia menilai kisah Nyai Ageng Bagelen tetap memiliki nilai penting sebagai tradisi lisan karena menggambarkan cara pandang masyarakat Bagelen terhadap perempuan.
"Legenda itu memperlihatkan sosok perempuan yang mandiri, emansipatif, dan asertif, bahkan sejalan dengan gagasan tentang perempuan pada era modern," imbuhnya.
Secara historis, Sudibyo menerangkan bahwa Bagelen memiliki posisi strategis sejak masa Mataram Islam hingga pemerintahan kolonial sebagai wilayah penyangga pusat kekuasaan. Pada masa Panembahan Senopati dan Sultan Agung, prajurit Bagelen dikenal sebagai pasukan yang loyal kepada raja. Bahkan ketika Keraton Mataram dikuasai Trunajaya, Pangeran Puger membangun istana pengungsian di Purwaganda yang kini berada di wilayah Kecamatan Purwodadi.
Selain itu, saat Perang Jawa berlangsung pada 1829 hingga awal 1830, prajurit dari Bagelen terlibat secara besar-besaran dalam pertempuran, baik di pihak Pangeran Diponegoro maupun pasukan Belanda. Meski demikian, Sudibyo mengingatkan agar masyarakat dapat membedakan antara sejarah dan legenda.
"Terdapat jurang yang cukup lebar antara fakta sejarah dan cerita tentang Bagelen. Sebagian besar narasi seperti asal-usul Bagelen, Nyai Ageng Bagelen, maupun Sunan Geseng masih berupa sejarah lisan yang diwariskan turun-temurun dan belum sepenuhnya terkonfirmasi oleh data sejarah," ucapnya.
Ia menilai penelitian lebih mendalam masih diperlukan agar sejarah Bagelen dapat disusun berdasarkan bukti yang sahih. Di sisi lain, legenda Nyai Ageng Bagelen tetap bertahan karena diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Menurut Sudibyo, kisah tersebut memuat nilai-nilai universal seperti keteguhan, kesetiaan, ketangguhan, dan kemandirian perempuan yang masih relevan hingga kini.
"Hanya saja, diperlukan interpretasi baru agar nilai-nilai dalam legenda tersebut tetap relevan bagi generasi masa kini," pungkasnya.

