Melacak Kisah Bagelen Purworejo Konon Desa Tertua di Indonesia

Melacak Kisah Bagelen Purworejo Konon Desa Tertua di Indonesia

Rinto Heksantoro - detikJateng
Selasa, 11 Agu 2026 05:30 WIB
Kantor Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Sabtu (11/7/2026).
Kantor Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Sabtu (11/7/2026). Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng
Purworejo -

Desa Bagelen di Purworejo menyimpan legenda yang dipercaya berakar sejak abad ke-6, hingga disebut sebagai desa tertua di Indonesia. Para sesepuh di Bagelen hingga pakar pernaskahan Nusantara menceritakan kisahnya.

"Nama awalnya Pagelen. Pagelen itu, cerita dari mbah saya atau dari keluarga saya, yang intinya tempat penyimpanan abu pembakaran mayat. Karena orang Jawa itu mengatakan Pagelen itu agak rumit, belibet, akhirnya menjadi Bagelen," kata Sesepuh Desa Bagelen, R Mulato (65), saat ditemui detikJateng di rumahnya, Sabtu (11/7/2024).

Menurut Mulato, permukiman Pagelen disebut-sebut berkaitan dengan masa peradaban Hindu saat Kerajaan Medang Kamulan dipimpin Prabu Swelacala. Itulah alasan di balik kondangnya Desa Bagelen dijuluki desa tertua di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Prabu Swelacala itu yang mempunyai Kerajaan Medang Kamulan, itu abad ke-6. Ya karena sejarahnya dari abad ke-6 itu, mungkin dari dasar itu, Pagelen itu ya dari abad ke-6 sudah ada, kan seperti itu. Ya kalau Bagelen itu kan kalau kita bisa komparasi dengan Kerajaan Tarumanegara, umpamanya seperti itu, lebih tua dari sini. Makanya bisa dikatakan tertua di Indonesia," ujar dia.

Di Desa Bagelen terdapat tokoh legenda yang dihormati sampai sekarang, yaitu Nyai Bagelen. Nyai Bagelen disebut-sebut sebagai putri Prabu Swelacala.

ADVERTISEMENT

"Konon dulu sosok Nyai Bagelen itu mengayomi, mengajari bercocok tanam, dan sebagainya. Jadi sosok putri yang mengayomi. Maka menjadi panutan dari dulu ya untuk masyarakat setempat. Jadi seolah-olah ya tokoh adatnya atau ratunya," ucap Mulato.

Kantor Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Sabtu (11/7/2026).Kantor Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Sabtu (11/7/2026). Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng

Penjelasan Pakar Pernaskahan Nusantara

Sementara itu pengamat sejarah sekaligus filolog serta Pangarsa Kearsipan Kadipaten Pakualaman dan Penasihat Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Pusat, Dr Drs Sudibyo, M.Hum, mengatakan bahwa klaim yang menyebut Desa Bagelen sebagai salah satu kampung atau desa tertua di Indonesia itu belum memiliki dasar historis yang kuat.

Sudibyo mengatakan hingga kini belum ditemukan sumber sejarah yang dapat membuktikan bahwa nama Bagelen telah dikenal sejak masa awal perkembangan kerajaan-kerajaan di Jawa.

Menurut dia, apabila yang dimaksud sumber sejarah adalah data yang dapat diverifikasi keandalannya, maka prasasti-prasasti tertua yang ditemukan di sekitar wilayah tersebut belum menyebut nama Bagelen.

"Prasasti Kayu Ara Hiwang tahun 901 M yang ditemukan di Desa Boro Wetan maupun Prasasti Watukura tahun 902 M belum menyebut nama Bagelen atau nama desa yang dapat dikaitkan dengan etimologi Bagelen," kata Sudibyo saat dimintai konfirmasi detikJateng.

Ia menjelaskan nama Bagelen baru muncul dalam Babad Tanah Jawi yang ditulis pada abad ke-18 dengan sebutan Pagelen. Dalam naskah tersebut diceritakan bahwa Pagelen merupakan wilayah keturunan Prabu Swelacala melalui tokoh bernama Panuhun yang kemudian menjadi leluhur masyarakat Bagelen.

"Sampai saat ini saya belum menemukan sumber yang lebih tua daripada Babad Tanah Jawi mengenai Bagelen," ujar dia.

Karena itu, Sudibyo menilai anggapan bahwa Bagelen merupakan desa tertua di Indonesia belum dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

"Berdasarkan data sejarah yang ada, pernyataan bahwa Bagelen adalah desa tertua di Indonesia sama sekali tidak terdukung. Kalau yang dibahas Desa Watukura atau Desa Boro, itu masih bisa didiskusikan," imbuhnya.

Sudibyo menambahkan, hingga kini belum ditemukan naskah kuno berbahasa Jawa Kuno yang secara khusus membahas Bagelen. Sebagian besar naskah yang tersedia berasal dari abad ke-18 hingga abad ke-20. Sementara, arsip tertua mengenai Bagelen berasal dari masa VOC dan Pemerintahan Hindia Belanda, salah satunya Arsip Bagelen Nomor 18 yang kini menjadi koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Dalam kajiannya, Sudibyo juga menyoroti sosok Nyai Ageng Bagelen yang selama ini dikenal luas dalam cerita masyarakat. Menurutnya, hingga sekarang belum terdapat bukti sejarah yang memastikan tokoh tersebut benar-benar pernah hidup.

"Sampai saat ini saya tidak memiliki bukti bahwa Nyai Ageng Bagelen merupakan sosok historis. Beliau lebih merupakan tokoh yang berasal dari legenda," ucapnya.

Meski demikian, ia menilai kisah Nyai Ageng Bagelen tetap memiliki nilai penting sebagai tradisi lisan karena menggambarkan cara pandang masyarakat Bagelen terhadap perempuan.

"Legenda itu memperlihatkan sosok perempuan yang mandiri, emansipatif, dan asertif, bahkan sejalan dengan gagasan tentang perempuan pada era modern," imbuhnya.

Secara historis, Sudibyo menerangkan bahwa Bagelen memiliki posisi strategis sejak masa Mataram Islam hingga pemerintahan kolonial sebagai wilayah penyangga pusat kekuasaan. Pada masa Panembahan Senopati dan Sultan Agung, prajurit Bagelen dikenal sebagai pasukan yang loyal kepada raja. Bahkan ketika Keraton Mataram dikuasai Trunajaya, Pangeran Puger membangun istana pengungsian di Purwaganda yang kini berada di wilayah Kecamatan Purwodadi.

Selain itu, saat Perang Jawa berlangsung pada 1829 hingga awal 1830, prajurit dari Bagelen terlibat secara besar-besaran dalam pertempuran, baik di pihak Pangeran Diponegoro maupun pasukan Belanda. Meski demikian, Sudibyo mengingatkan agar masyarakat dapat membedakan antara sejarah dan legenda.

"Terdapat jurang yang cukup lebar antara fakta sejarah dan cerita tentang Bagelen. Sebagian besar narasi seperti asal-usul Bagelen, Nyai Ageng Bagelen, maupun Sunan Geseng masih berupa sejarah lisan yang diwariskan turun-temurun dan belum sepenuhnya terkonfirmasi oleh data sejarah," ucapnya.

Ia menilai penelitian lebih mendalam masih diperlukan agar sejarah Bagelen dapat disusun berdasarkan bukti yang sahih. Di sisi lain, legenda Nyai Ageng Bagelen tetap bertahan karena diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

Menurut Sudibyo, kisah tersebut memuat nilai-nilai universal seperti keteguhan, kesetiaan, ketangguhan, dan kemandirian perempuan yang masih relevan hingga kini.

"Hanya saja, diperlukan interpretasi baru agar nilai-nilai dalam legenda tersebut tetap relevan bagi generasi masa kini," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(dil/sip)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads