Klaten Kota Seribu Candi dan Memori Benteng Pertahanan Belanda

Klaten Kota Seribu Candi dan Memori Benteng Pertahanan Belanda

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Selasa, 28 Jul 2026 07:01 WIB
Kompleks Masjid Raya Klaten dan area parkir Klaten Town Square yang konon merupakan Benteng Loji.
Kompleks Masjid Raya Klaten dan area parkir Klaten Town Square yang konon merupakan Benteng Loji. (Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng).
Klaten -

Kabupaten Klaten salah satu wilayah di provinsi Jawa Tengah yang memiliki posisi strategis karena terletak di perbatasan antara Kota Solo dan Yogyakarta. Kabupaten ini pun kaya akan jejak sejarah mulai dari era Kerajaan Hindu-Buddha hingga masa kolonialisme.

Letaknya yang strategis membuat kabupaten dengan luas 701,52 kilometer2 itu masih merekam jelas jejak peradaban era Kerajaan Hindu-Buddha abad 8-10 Masehi. Klaten yang dikenal sebagai Kota Seribu Candi ini masih punya banyak artefak era Kerajaan Mataram kuno. Misalnya di Candi Sewu, Plaosan, Sojiwan, Merak, Lumbung, Karangnongko, Bubrah, dan situs lainnya.

Jejak masa Kesultanan Islam Demak di Klaten juga masih bisa ditemukan, misalnya peninggalan kompleks pesantren dan makam Ki Ageng Pandanaran atau Sunan Bayat di Desa Paseban, Kecamatan Bayat. Kemudian pada era Mataram Islam ada makam dan pesantren Ki Ageng Gribig Jatinom, Ki Ageng Barat Ketigo, Ki Ageng Perwito, dan lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian di Desa Kajoran, Kecamatan Klaten Selatan, juga bisa ditemukan jejak peninggalan Panembahan Kajoran yang merupakan tokoh berpengaruh di masa Mataram yang dipimpin Amangkurat I. Tak hanya peninggalan sejarah, Klaten juga menyimpan sejarah jejak ekonomi kolonial berupa pabrik gula (PG) Gondang, Ceper, Karanganom, Wonosari, dan lainnya.

ADVERTISEMENT

Pada masa perang Jawa, perang Diponegoro (1825-1830), kompeni mendirikan beberapa benteng yang bangunannya masih terlihat di Desa Rejoso, Kecamatan Jogonalan. Bahkan salah satu benteng, yaitu Benteng Loji atau Engelendburg Fort dijadikan pijakan Hari Jadi Kabupaten Klaten.

Benteng Pertahanan yang Kini Tak Tersisa

Benteng Loji ini menjadi salah satu bagian dari sejarah Hari Jadi Kabupaten Klaten yang diperingati tiap 28 Juli. Perda nomor 12 tahun 2017 menjadi legitimasi hukum pendirian benteng tersebut sebagai pijakan penetapan hari jadi kabupaten Klaten.

"Dari beberapa alternatif hari jadi Kabupaten Klaten, maka dipilih tanggal 28 Juli 1804 surya sengkala Catur llang Estining Budi dengan beberapa argumentasi, tanggal pendirian benteng (loji) Klaten merupakan tanggal tertua sejauh yang dapat ditemukan oleh tim peneliti, Khususnya dengan munculnya nama Klaten...," bunyi Perda tersebut sebagaimana dikutip detikJateng, Sabtu (25/7/2026).

Namun, bangunan fisik Benteng Loji itu tak bisa diselamatkan. Bangunan benteng itu konon berada di kompleks Masjid Raya Klaten.

"Benteng Loji letaknya di kompleks masjid Raya Klaten saat ini. Namun bangunannya bahkan sisanya sudah tidak ada," ungkap pamong budaya ahli pertama Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten, Wiyan Ari Tunjung kepada detikJateng, Sabtu (25/7).

Tanjung menyebut karena tak ada bangunan fisik, maka benteng itu tidak termasuk cagar budaya. Pihaknya pun sempat berupaya mengumpulkan sisa-sisa benteng tersebut namun nihil.

"Ya sekarang hanya memori kolektif masyarakat. Beberapa waktu lalu ada informasi sisa pintu atau bata bekas benteng tapi kita cek tidak ditemukan," kata Tanjung.

"Kita sedang berupaya mencari referensi bagaimana dengan lokasi bersejarah yang sudah tiada sedikit pun bangunannya," imbuh Tanjung.

detikJateng pun mencoba menelusuri jejak Benteng Loji, tapi tidak menemukan bekasnya. Kompleks yang konon diyakini sebagai Benteng Loji itu kini dipenuhi bangunan baru berupa masjid raya, sekolah, tempat parkir, dan Klaten Town Square.

Tampak di utara masjid berdiri megah Pasar Klaten. Kemudian di timur masjid ada jalan dan sekolah, di selatan ada alun-alun Klaten dan di barat lahan parkir Klaten Town Square.

Seorang warga, Lasiyem (82), menceritakan dirinya sempat bersekolah PGA atau setingkat SMA di timur Benteng Loji sekitar tahun 1961. Saat itu tembok Benteng Loji masih ada.

"Pagarnya tinggi, setinggi rumah, temboknya tebal. Ada sungai kecil di kelilingnya," kenang Lasiyem kepada detikJateng.

Saat itu, lanjut Lasiyem, benteng sudah tidak digunakan untuk kegiatan. Setelah itu bangunan tersebut dirobohkan untuk dibangun pasar dan terminal.

"Sempat digunakan untuk pasar, kemudian terminal dan masjid raya tahun 1980-an. Isinya benteng apa tidak tahu karena tidak pernah masuk," imbuhnya.

Dalam laporan akhir studi penelitian Hari Jadi Kabupaten Klaten terbitan tahun 2005, disebutkan Benteng Loji memiliki fungsi militer dan administrasi karena terletak di antara Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Berdirinya benteng itu tercatat di babad Bedahing Ngayogyakarta dan Geger Sepehi.

Dari berdirinya benteng Loji itu kemudian Klaten dikenal dan terus berkembang. Sampai akhirnya menjadi pos tundan pada 12 Oktober 1840, kemudian berlanjut menjadi kabupaten Gunung Pulisi pada 5 Juni 1847.

Menurut encyclopaedie van Nederlandsch Indie tahun 1918, posisi sebagai Kabupaten Gunung Pulisi berdasar Staatsblad 30 tahun 1847, Staatsblad 32 tahun 1854 dan Staatsblad 209 tahun 1874 dan menjadi Kabupaten Pangreh Praja tanggal 12 Oktober 1918 berdasar rijksblad Surakarta 23 tahun 1918.

Demikian sekilas tentang Kabupaten Klaten yang merayakan hari jadinya ke-222 tahun ini.



(ams/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads