Meriahnya Kirab Dugderan, Tradisi Sambut Ramadan di Semarang

Meriahnya Kirab Dugderan, Tradisi Sambut Ramadan di Semarang

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Senin, 16 Feb 2026 17:57 WIB
Suasana Kirab Budaya Dugderan 2026 di Masjid Agung Semarang, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang.
Suasana Kirab Budaya Dugderan 2026 di Masjid Agung Semarang, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Senin (16/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Tradisi Dugderan kembali digelar di Kota Semarang. Tradisi yang sudah ada sejak 1881 ini digelar tiap tahunnya untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Pantauan detikJateng, Dugderan dimulai dengan kirab budaya dari Balai Kota Semarang. Sebelum berangkat, dilaksanakan upacara menggunakan bahasa Jawa terlebih dahulu. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng pun membacakan amanatnya dengan bahasa Jawa.

"Tradisi Dugderan mengandung keteladanan dan nilai-nilai luhur serta menyampaikan ajaran suci bagi kehidupan di dunia. Pertama, mengandung nilai toleransi, hidup rukun, serta persatuan yang harus kita jaga dan kita kembangkan bersama" kata Agustina dalam amanatnya di Balai Kota Semarang, Senin (16/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyebut, Dugderan juga menyimpan semangat toleransi antarumat beragama dan menjadi simbol daya cipta, rasa, dan karsa masyarakat Kota Semarang.

"Walaupun terdiri dari berbagai etnis, dengan hati yang tulus senantiasa diupayakan untuk menumbuhkan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat," tuturnya.

ADVERTISEMENT
Suasana Kirab Budaya Dugderan 2026 di Masjid Agung Semarang, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Senin (16/2/2026).Suasana Kirab Budaya Dugderan 2026 di Masjid Agung Semarang, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Senin (16/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Rombongan baru mulai berangkat dari Balai Kota Semarang sekitar pukul 14.30 WIB. Agustina yang tampil mengenakan kebaya merah itu tampak menunggangi kereta kuda dan berperan sebagai Kanjeng Nimas Ayu Tumenggung Purbodiningrum.

Di depannya tampak ada rombongan kirab yang diawali drumband dari PIP, prajurit Patang Puluhan yang membawa Warak Ngendog, dan prajurit berkuda. Mereka kompak berjalan dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung Semarang, Kelurahan Kauman.

Rombongan kirab baru tiba di Masjid Agung Kauman sekitar pukul 16.00 WIB. Setibanya di masjid, rombongan salat terlebih dahulu, baru dilanjutkan prosesi pembacaan suhuf halaqah dilakukan di Aloon-aloon Semarang. Agustina membacakan lembaran suhuf halaqah dan membunyikan bedug.

"Dugderan ini diawali tahun 1881. Waktu itu pemerintahan Kabupaten Semarang dipimpin oleh Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat," kata Sekretaris Ketakmiran Masjid Agung Semarang, Muhaimin.

Ia menyebut, Dugderan terjadi saat Bupati Semarang kala itu, Tumenggung Aryo Purboningrat menginsiasi metode rukyat yang lebih terkoordinasi, karena sebelumnya sering ada perbedaan waktu awal Ramadan.

"Terjadi perbedaan karena tadi itu keyakinan yang satu sudah melihat, yang satu belum melihat. Makanya Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat mengutus utusan khusus untuk merukyat," jelasnya.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menabuh bedug di Aloon-aloon Semarang, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Senin (16/2/2026).Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menabuh bedug di Aloon-aloon Semarang, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Senin (16/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Rukyatulhilal atau melihat bulan itu dilaksanakan tanggal 29 Syaban. Jika rukyat sore itu hilal sudah terlihat, maka ditetapkan sudah masuk bulan Ramadan. Jika belum, maka istikmal dijadikan 30 hari, sehingga ada tanggal 30 Syaban.

"Setelah melihat bulan, utusan khusus lalu melaporkan hasilnya kepada kiai yang sudah berkumpul di Masjid Agung Semarang. Kemudian utusan menerangkan di mana letaknya dilihat bulan, dan disumpah," jelasnya.

Jika hilal terlihat, maka awal Ramadan akan diumumkan dengan bunyi beduk di Masjid Agung, sehingga muncul bunyi 'dug' dan tembakan meriam yang berbunyi 'der', di Kanjengan atau kantor Bupati kala itu.

"Setelah kelihatan, Bupati datang menyampaikan hasil suhuf halaqah, suhuf itu lembaran, halaqah itu kegiatan kumpul-kumpul sama kiai. Kalau zaman dulu dibunyikan bunyi beduk dan bunyi meriam, supaya orang kumpul," kata Muhaimin.

"Bunyi beduk di masjid 'dug, dug, dug'. Lalu di Kanjengan dibunyikan bunyi meriam 'der, der'. 'Dug, der, dug, der' menjadi Dugeran. Karena ada suara itu, masyarakat kumpul, dibacakanlah suhuf halaqah," sambungnya.

Sekitar pukul 17.10 WIB, beduk di Aloon-aloon Semarang

Usai beduk dibunyikan, gunungan yang berisi 8 ribu kue ganjel rel langsung jadi rebutan para warga yang hadir. Ganjel rel itu pun menyimpan filosofi tersendiri.

"Ganjel rel filosofinya, kalau kita masuk bulan puasa, hati jangan ganjel, tapi rela, menerima dengan baik," ucapnya.




(afn/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads